Bogor–Sukabumi, Saat Perjalanan Lebih Menarik daripada Tujuannya

Kereta Api Pangrango menawarkan perjalanan dari Bogor ke Sukabumi dengan panorama lembah, pegunungan, dan pedesaan.

Diterbitkan 29 Juli 2026, 16:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Perjalanan dari Bogor menuju Sukabumi tidak selalu harus ditempuh dengan kendaraan pribadi dan menghadapi kemacetan di jalan. Ada pilihan lain yang lebih santai, duduk di dalam kereta api Pangrango sambil menyaksikan perubahan lanskap dari kawasan perkotaan, lembah, perbukitan, hingga persawahan.

Tak lama setelah kereta meninggalkan Bogor, pemandangan mulai berubah. Jalur rel membentang melewati kawasan lembah Sungai Cisadane hingga menuju Stasiun Maseng. Di sejumlah titik, penumpang dapat melihat bentang alam dengan latar Gunung Salak dan Gunung Pangrango, terutama saat kereta mendekati Stasiun Cigombong.

Selepas Sukabumi, suasana perjalanan kembali berganti. Jalur kereta memasuki kawasan pedesaan dengan pemandangan persawahan dan perbukitan yang menjadi ciri wilayah Sukabumi hingga Cianjur. Perjalanan tersebut menjadi salah satu cara menikmati sisi lain Jawa Barat tanpa harus mengemudi. Dari balik jendela, penumpang dapat melihat pemandangan yang terus berubah sepanjang perjalanan.

Jalur Rel Lebih dari Seabad

Jalur Bogor–Sukabumi–Cianjur merupakan salah satu jalur kereta api tertua di Jawa Barat. Jalur ini dibangun oleh perusahaan kereta api negara Hindia Belanda, Staatsspoorwegen (SS), pada paruh kedua abad ke-19.

Pembangunannya dilakukan secara bertahap. Jalur Buitenzorg atau Bogor menuju Cicurug sepanjang 27 kilometer mulai dibuka pada 5 Oktober 1881. Selanjutnya, jalur Cicurug–Sukabumi sepanjang 31 kilometer mulai beroperasi pada 21 Maret 1882.

Pembangunan kemudian diteruskan hingga Cianjur dengan panjang sekitar 39 kilometer. Jalur Bogor–Sukabumi–Cianjur akhirnya beroperasi secara penuh pada 10 Mei 1883.

 

 

 

Pada masa kolonial, jalur tersebut dibangun untuk memperlancar pengangkutan hasil perkebunan dari wilayah pedalaman Jawa Barat, seperti teh, kopi, kina, karet, dan tebu, menuju Batavia.

Kini, jalur yang dahulu digunakan untuk mengangkut hasil bumi itu menjadi bagian dari mobilitas masyarakat sekaligus menawarkan pengalaman perjalanan bagi wisatawan.

Salah satu bagian yang menarik berada di jalur Sukabumi–Cianjur, yakni Terowongan Lampegan. Terowongan sepanjang 686 meter itu telah beroperasi sejak 1882 dan dikenal sebagai salah satu terowongan kereta api tertua di Jawa Barat.

Saat kereta memasuki terowongan, suasana perjalanan berubah seketika. Pemandangan perbukitan yang sebelumnya terlihat dari jendela berganti dengan lorong gelap sebelum kereta kembali keluar menuju lanskap pedesaan.

 

Menikmati Perjalanan dengan KA Pangrango  

Bagi wisatawan yang ingin menikmati jalur Bogor–Sukabumi, KA Pangrango menjadi salah satu pilihan. Kereta ini melayani perjalanan pulang-pergi dari Stasiun Bogor Paledang menuju Stasiun Sukabumi.

Dalam perjalanannya, KA Pangrango berhenti di sejumlah stasiun, antara lain Bogor Paledang, Batutulis, Maseng, Cigombong, Cicurug, Parungkuda, Cibadak, Karangtengah, Cisaat, hingga Sukabumi.

Waktu tempuh perjalanan dari Bogor menuju Sukabumi sekitar dua jam. Selama perjalanan, penumpang dapat menikmati pemandangan tanpa perlu menyetir atau menghadapi kepadatan lalu lintas.

KA Pangrango menyediakan layanan kelas Ekonomi dan Eksekutif. Untuk perjalanan menuju Sukabumi, tarif kelas Ekonomi sebesar Rp45.000, sedangkan kelas Eksekutif Rp80.000. Tarif dapat berbeda sesuai dengan stasiun tujuan yang dipilih.

Tiket dapat dipesan melalui aplikasi Access by KAI, situs resmi KAI, maupun loket stasiun. Pemesanan lebih awal disarankan, terutama untuk perjalanan pada akhir pekan dan musim liburan.

 

 

Kini Menggunakan Kereta Ekonomi New Generation

Pengalaman perjalanan dengan KA Pangrango makin nyaman setelah PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengoperasikan rangkaian Kereta Ekonomi New Generation untuk relasi Bogor–Sukabumi pulang-pergi.

Perubahan paling terasa terdapat pada tata letak dan kapasitas tempat duduk. Jika sebelumnya satu kereta dapat menampung 80 penumpang, kapasitasnya kini menjadi 72 tempat duduk per kereta.

Pengurangan jumlah kursi tersebut dilakukan untuk memberikan ruang kaki atau legroom yang lebih lega.  Desain tempat duduk juga dibuat lebih ergonomis agar perjalanan selama sekitar dua jam terasa lebih nyaman.

Dengan pembaruan tersebut, total kapasitas KA Pangrango kini mencapai 460 tempat duduk. KAI menilai kapasitas tersebut tetap dapat memenuhi kebutuhan penumpang di jalur Bogor–Sukabumi yang ramai, terutama pada akhir pekan dan masa liburan sekolah.

Vice President Public Relations KAI Anne Purba mengatakan kereta Ekonomi New Generation yang digunakan pada KA Pangrango merupakan hasil modifikasi dan perawatan intensif di Balai Yasa Manggarai.

Pembaruan tersebut menjadi bagian dari upaya peremajaan sarana sekaligus mendukung modernisasi armada kereta secara mandiri dan berkelanjutan.

Tingginya jumlah penumpang menunjukkan KA Pangrango tidak hanya digunakan sebagai moda transportasi antarkota, tetapi juga menjadi pilihan perjalanan wisata bagi masyarakat yang ingin menuju Bogor maupun Sukabumi.

Pilihan Wisata Tanpa Harus Mengemudi

Bagi sebagian wisatawan, perjalanan dengan KA Pangrango bukan hanya cara untuk mencapai Sukabumi. Perjalanan dengan kereta juga menjadi bagian dari pengalaman berwisata.

Sejumlah penumpang memanfaatkan kereta ini untuk menuju kawasan Cicurug, Cisaat, Lido, hingga berbagai destinasi di Sukabumi. Mereka dapat menikmati perjalanan tanpa perlu menyetir dalam waktu lama.

"Lebih tenang, tidak capek menyetir, dan bisa santai menikmati pemandangan. Cocok buat healing tipis-tipis," ujar Anwar, yang berprofesi sebagai guru di Kecamatan Gunung Puyuh, Kota Sukabumi.  

Anwar, yang rutin bolak-balik Sukabumi-Depok ini mengaku kondisi kereta saat ini jauh lebih nyaman. Berbeda dengan pengalamannya 15 tahun lalu, sebelum jalur direvitalisasi.

"Sekarang jauh lebih manusiawi dan sangat nyaman. Dulu itu satu gerbong ada ayam masuk, bawa gabah, dagangan pasar. Kalau hujan kadang ada yang bocor," ucap guru di Pesantren ini.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6