Analis Sebut Kebijakan Fiskal hingga Rupiah Menjadi Perhatian Pelaku Pasar Saham

Analis menilai aliran dana asing masih masuk ke saham kapitalisasi besar.

Diterbitkan 16 September 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pelaku pasar saham Indonesia akan mencermati arah kebijakan fiskal, kredibilitas pengelolaan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) serta nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Demikian disampaikan Head of Research PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto dikutip dari Antara, Rabu, (16/9/2026).

Terkait dilantiknya Menteri Keuangan Suahasil Nazara, ia mengatakan pelaku pasar akan mencermati konsistensi kebijakan dan dukungan pemerintah terhadap disiplin fiskal dalam jangka panjang.

"Yang paling penting tetap implementasi dan konsistensi kebijakan, khususnya dalam menjaga kredibilitas APBN dan disiplin fiskal,” tutur Rully.

Seiring hal itu, Rully mengatakan pelaku pasar akan mencermati pergerakan rupiah seiring The Federal Reserve (the Fed) yang diperkirakan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin pada pertemuan 15-16 September 2026.

"Kenaikan 25 basis poin dari The Fed relatif sudah priced in. Bagi Indonesia, perhatian berikutnya akan tertuju pada pergerakan rupiah karena menjadi salah satu faktor utama yang menentukan ruang dan respons kebijakan Bank Indonesia,” kata Rully.

Rully menuturkan, IHSG telah mengalami re-rating sekitar 18 persen sejak awal semester II 2026, sehingga kenaikan berikutnya membutuhkan dukungan earnings delivery dan foreign flows yang lebih luas, serta kondisi eksternal yang lebih berkelanjutan.

Saat ini, ia menyebut arus dana asing masih terkonsentrasi pada saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan dan sejumlah saham komoditas.

“Setelah re-rating yang cukup cepat, investor tidak bisa hanya mengandalkan kenaikan indeks. Next leg dari pasar akan membutuhkan earnings delivery dan foreign flows yang lebih luas. Karena itu, pasar akan semakin selektif,” ujar Rully.

 

Hal yang Perlu Diwaspadai

Rully menuturkan, pula penguatan rupiah masih ditopang kondisi eksternal yang lebih kondusif dan capital inflows (arus masuk dana asing), meski ketahanannya tetap bergantung pada arus dana.

Di pasar Surat Berharga Negara (SBN), dia menilai, koordinasi kebijakan menjadi penting untuk menjaga kenaikan yield tetap gradual. Perubahan persepsi terhadap kredibilitas kebijakan atau rating menjadi risiko yang perlu dicermati karena dapat memicu repricing yang lebih tajam.

“Yang perlu diwaspadai adalah apabila terjadi perubahan persepsi terhadap kredibilitas kebijakan atau rating, karena itu bisa menghasilkan repricing yang lebih tajam,” tutur Rully.