Begini Pergerakan IHSG Usai Pergantian Menteri Keuangan

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah pada perdagangan saham Selasa, (15/9/2026).

Diterbitkan 15 September 2026, 15:43 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan koreksi pada perdagangan saham Selasa, (15/9/2026). IHSG hari ini meninggalkan posisi 6.500 di tengah bursa saham Asia yang tertekan dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Di sisi lain, analis menilai, perombakan kabinet atau reshuffle seiring pengangkatan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan cenderung positif tetapi masih bersifat jangka pendek.

Mengutip data RTI, saat dipantau pukul 15.17 WIB, IHSG melemah 0,98% menjadi 6.470. Indeks saham LQ45 terperosok 1% menjadi 653. Seluruh indeks saham acuan tertekan.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, pergerakan IHSG sejalan dengan bursa global dan mayoritas regional Asia yanng terkoreksi. Di sisi lain, nilai tukar rupiah juga cenderung melemah terhadap dolar Amerika Serikat, di mana saat ini berada di 17.723.

"Pelemahan global ini diperkirakan karena penguatan harga minyak dunia yang masih berada di atas US$ 100 per barel, penundaan pengembangan artificial intelligence (AI) dan kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat diperkirakan menjadi sentimen negatif bagi market,” kata dia.

Sementara itu, Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji menuturkan, dari sisi domestik, respons awal market terhadap pengangkatan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan cenderung positif, meskipun masih bersifat jangka pendek dan belum sepenuhnya menghapus ketidakpastian.

"Rebound IHSG setelah sempat terkoreksi cukup dalam menunjukkan bahwa para pelaku pasar mulai melihat pergantian tersebut sebagai upaya pemerintah untuk menjaga stabilitas dan memulihkan kepercayaan terhadap kebijakan fiskal. Apalagi Suahasil merupakan figur teknokrat yang sebelumnya menjabat Wakil Menteri Keuangan dan memiliki pengalaman panjang di Kementerian Keuangan,” ujar Nafan dalam catatannya.

Ia mengatakan, pasarakan mencermati sejauh mana Menkeu baru mampu menjaga kredibilitas APBN, disiplin fiskal, stabilitas rupiah, serta konsistensi komunikasi kebijakan pemerintah.

“Dengan demikian, respons positif hari kemarin dapat dibaca sebagai sinyal awal meredanya ketidakpastian, tetapi investor masih membutuhkan bukti melalui implementasi kebijakan ke depan,” ujar dia.

 

Jangka Menengah

Dalam jangka menengah, menurut Nafan, reshuffle tersebut berpotensi menjadi salah satu katalis positif bagi IHSG apabila mampu meningkatkan confidence investor terhadap stabilitas dan kesinambungan kebijakan ekonomi Indonesia.

Kuncinya adalah bagaimana Suahasil menjaga kredibilitas fiskal, memperkuat koordinasi dengan Bank Indonesia dan otoritas sektor keuangan, serta memberikan kepastian mengenai arah kebijakan APBN dan pembiayaan pemerintah. Jika kepercayaan investor meningkat, maka peluang terjadinya capital inflow dan rerating terhadap aset domestik, termasuk saham-saham berkapitalisasi besar dan sektor finansial, akan semakin terbuka.

"Namun, reshuffle ini bukan satu-satunya faktor penentu IHSG karena pasar tetap akan dipengaruhi oleh sentimen global, arah suku bunga AS, pergerakan rupiah, arus dana asing, fundamental emiten, dan perkembangan geopolitik. Oleh karena itu, respons positif market pada saat itu lebih tepat dipandang sebagai early signal dan belum dapat menjadi konfirmasi terbentuknya tren struktur bullish IHSG secara berkelanjutan,” ujar Nafan.

 

Sentimen Global

Adapun dari sisi sentimen global, Nafan menilai, market sedang menghadapi kombinasi tekanan geopolitik, kenaikan harga minyak, dan perubahan ekspektasi suku bunga global.

Pasar saham Asia kemarin melemah karena investor mulai mengantisipasi konsekuensi dari lonjakan harga energi sekaligus kemungkinan pengetatan kebijakan moneter oleh The Fed dan Bank of Japan.

Brent bahkan berada di kisaran US$ 107 per barel setelah naik hampir 9% pada pekan sebelumnya, sementara WTI barusan ditutup menguat 1,84% US$ 101,89 per barel. Kenaikan tersebut dipicu oleh meningkatnya gangguan terhadap pasokan dan jalur distribusi minyak di kawasan Timur Tengah.

"Dari perspektif makroekonomi, kenaikan harga minyak menjadi persoalan utama karena berpotensi kembali mendorong inflasi global. Kondisi ini membuat ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter menjadi semakin terbatas," ujar Nafan.

Bahkan, menurut dia, setelah data inflasi konsumen AS yang dinilai masih tinggi, pasar memperkirakan probabilitas kenaikan Fed Rate sebesar 25 bps pada pertemuan 17 September dini hari mencapai 92,4%. Artinya, market kini bukan hanya memperhitungkan satu kali kenaikan suku bunga, tetapi juga mulai mengantisipasi kemungkinan kenaikan berikutnya apabila tekanan inflasi akibat energi terus berlanjut.

 

 

Lonjakan Imbal Hasil Obligasi

Kenaikan imbal hasil obligasi juga menjadi faktor penting bagi pasar saham. Yield US Treasury 10 tahun naik 0,46% menjadi 4,998%. Hal ini membuat valuasi saham, khususnya saham dengan valuasi tinggi menjadi lebih tertekan karena tingkat diskonto meningkat.

Bahkan tekanan terhadap aset berisiko emerging market berpotensi semakin besar. Di sisi lain, tekanan terhadap saham teknologi dan AI menjadi lebih mudah dipahami.

Selain persoalan suku bunga, investor juga merespons kekhawatiran mengenai perlambatan pengembangan AI setelah muncul seruan dari sejumlah pemimpin industri agar pengembangan AI dilakukan lebih hati-hati. Alhasil, sektor teknologi menjadi salah satu pemberat utama bursa Asia dan global.

Namun, demikian, kondisi tersebut belum otomatis menunjukkan perubahan menjadi bearish secara struktural terhadap pasar saham. Tekanan saat ini lebih mencerminkan repricing terhadap risiko makro.

Goldman Sachs sendiri menilai kenaikan suku bunga biasanya memberikan tekanan pada ekuitas dalam jangka pendek, tetapi pasar saham masih dapat melanjutkan tren positif apabila fundamental dan pertumbuhan laba perusahaan tetap kuat. Dengan demikian, kunci pergerakan pasar ke depan bukan hanya keputusan The Fed, melainkan seberapa persisten kenaikan harga minyak, bagaimana arah inflasi, serta apakah kenaikan yield obligasi berlanjut.

"Bagi IHSG, perkembangan ini perlu diwaspadai karena dampaknya bisa bersifat mixed. Di satu sisi, kenaikan harga minyak dan yield US Treasury dapat meningkatkan risk-off sentiment, memperkuat dolar AS, serta mendorong potensi capital outflow dari emerging markets seperti Indonesia.

Hal tersebut dapat memberikan tekanan terhadap IHSG dan rupiah, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi sasaran investor asing. Di sisi lain, kenaikan harga komoditas dapat memberikan bantalan bagi saham-saham berbasis energi dan komoditas, sehingga dampaknya terhadap IHSG tidak harus seragam.

 

Sektor Saham

Pada sesi kedua perdagangan saham, IHSG berada di level tertinggi 6.549,60 dan terendah 6.461,01. Sebanyak 352 saham melemah sehingga bebani IHSG. 292 saham menguat dan 144 saham diam di tempat.

Total frekuensi perdagangan saham 1.534.660 kali dengan volume perdagangan saham 22,7 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 9,9 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 17.677.

Mayoritas sektor saham melemah kecuali sektor saham consumer siklikal naik 0,35% dan sektor saham infrastruktur bertambah 0,03%. Di sisi lain, sektor saham energi terpangkas 1,17%, sektor saham basic susut 0,77%, sektor saham industri merosot 1,42%.

Lalu sektor saham consumer nonsiklikal tergelincir 0,56%, sektor saham kesehatan turun 0,13%. Selanjutnya sektor saham keuangan melemah 1,04%, sektor saham properti terpangkas 0,58%, sektor saham teknologi turun 0,18% dan sektor saham transportasi terperosok 0,69%.

  • liputan6
    Saham adalah hak yang dimiliki orang (pemegang saham) terhadap perusahaan berkat penyerahan bagian modal sehingga dianggap berbagai dalam pe
    Saham
  • liputan6
    Analisis komprehensif ini membahas tren pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dampak rebalancing MSCI, rekomendasi saham terkini, pengertian dan komponen IHSG, serta faktor-faktor penggeraknya.
    Ihsg
  • liputan6
    Suahasil Nazara kini menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan pada Kabinet Indonesia Maju.
    Suahasil Nazara
  • liputan6
    Perombakan kabinet adalah suatu peristiwa di mana kepala pemerintahan memutar atau mengganti komposisi menteri dalam kabinetnya.
    Reshuffle
  • Perdagangan Saham
  • Menteri Keuangan