Begini Gerak IHSG Setelah Suahasil Nazara Jadi Menteri Keuangan

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah di tengah mayoritas sektor saham tertekan pada Senin, (14/9/2026).

Diterbitkan 14 September 2026, 16:08 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada di zona merah pada perdagangan saham Senin, (14/9/2026). Namun, tekanan IHSG berkurang jelang penutupan perdagangan saham. Koreksi IHSG terjadi di tengah reshuffle atau perombakan kabinet. Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara diangkat sebagai Menteri Keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa.

Mengutip data RTI, saat dipantau pukul 15.44 WIB, IHSG turun 0,24% menjadi 6.523. Indeks saham LQ45 menguat 1,21% menjadi 657,40. Sebagian besar indeks saham acuan bervariasi.

Jelang penutupan perdagangan saham, IHSG berada di level tertinggi 6.543,27 dan level terendah 6.371,39. Sebanyak 470 saham melemah sehingga bebani IHSG. 176 saham menguat dan 143 saham diam di tempat.

Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji menilai, pergerakan IHSG hingga menjelang penutupan hari ini menunjukkan tekanan jual memang masih dominan, tetapi mulai terjadi recovery atau bargain hunting setelah indeks sempat terkoreksi lebih dari 2%.

Sentimen eksternal masih menjadi faktor utama, terutama eskalasi konflik Timur Tengah yang kembali mendorong harga minyak Brent menembus sekitar US$ 107 per barel.

Ia mengatakan, kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global dan potensi kebijakan moneter yang lebih ketat atau higher for longer, sehingga memicu aksi risk-off di pasar negara berkembang.

Namun, Nafan menuturkan, IHSG yang mampu memangkas pelemahannya cukup signifikan menunjukkan pelaku pasar domestik tidak sepenuhnya melakukan panic selling.

“Menurut saya, ada indikasi buy on weakness dan bargain hunting, khususnya pada saham-saham berkapitalisasi besar yang sudah mengalami tekanan cukup dalam,” kata Nafan.

Selain itu, menurut Nafan, pasar juga mulai melakukan pricing-in terhadap berbagai risiko eksternal, sehingga ketika tekanan jual mulai mereda, indeks relatif cepat melakukan rebound. Ini sejalan dengan kondisi pekan lalu ketika IHSG sudah terkoreksi 1,43% akibat eskalasi konflik AS-Iran dan kenaikan harga minyak.

 

 

Analis: Sentimen Geopolitik dan Harga Minyak Masih Jadi Pendorong

Terkait Menteri Keuangan yang kini dipegang Suahasil Nazara, menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa Nafan melihat respons awal pasar cenderung positif-terukur, bukan euforia.

“Suahasil bukan figur yang sepenuhnya asing bagi pasar karena sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan, sehingga kontinuitas kebijakan fiskal relatif lebih mudah dibaca. Pelaku pasar kemungkinan akan mencermati apakah pergantian ini mampu memberikan kepastian, konsistensi, dan kredibilitas kebijakan fiskal, terutama terkait pengelolaan APBN, defisit, penerimaan negara, belanja pemerintah, serta koordinasi fiskal-moneter,” tutur Nafan.

Nafan menilai, penguatan IHSG menjelang penutupan tidak bisa semata-mata diatribusikan kepada pergantian menteri keuangan karena sentimen geopolitik dan harga minyak masih menjadi pendorong pasar yang utama.

Akan tetapi, ia menuturkan, munculnya katalis domestik berupa pergantian Menkeu dapat memberikan counterbalance terhadap sentimen negatif global.

“Bahkan, apabila pasar menilai kabinet baru mampu memperkuat koordinasi ekonomi dan menjaga disiplin fiskal sekaligus mempercepat stimulus yang produktif, hal tersebut berpotensi menjadi katalis positif lanjutan bagi IHSG,” ujar dia.

 

 

Kekhawatiran Dampak Kenaikan Harga Minyak

Sementara itu, Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana mengatakan, koreksi IHSG terjadi seiring pergerakan bursa saham Asia yang mayoritas terkoreksi dan nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Selain itu, kenaikan harga minyak juga menciptakan kekhawatiran terhadap pasokan energi global ke depan.

“Kami perkirakan juga dengan menguatnya kembali harga minyak dunia di atas US$ 100 per barel juga meningkatkan kekhawatiran akan pasokan energi global ke depan, ditambah dengan meningkatnya ekspektasi akan Fed Fund Rate (FFR) yang naik ke 3,75%-4,00%,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.

Ia mengatakan, kenaikan FFR dan imbal hasil obligasi Amerika Serikat akan berdampak negatif ke negara berkembang. Hal itu juga akan berdampak terhadap potensi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia. “Untuk menjaga spread, menjaga stabilitas rupiah dan dana di emerging market ada probabilitas BI rate naik,” kata dia.

Saat ditanya mengenai Suahasil Nazara diangkat sebagai menteri keuangan, Herditya pasar mencermati transisi ini untuk mengonfirmasi kredibilitas tata kelola keuangan dan konsistensi kebijakan. Selain itu, Suahazil Nazara resmi menjadi menteri keuangan, Herditya menilai, fokus APBN menjaga disiplin fiskal, mengendalikan dedisit anggaran dan memitigasi volatilitas harga energi global.

 

 

 

Kinerja Perdagangan

Total frekuensi perdagangan saham 2.012.530 kali dengan volume perdagangan saham 32,3 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 16 trliun. Sementara itu, posisi dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah di kisaran 17.651.

Mayoritas sektor saham tertekan kecuali sektor saham industri naik 0,15% dan sektor saham keuangan menguat 0,51%. Sektor saham kesehatan melemah 2,08%, dan catat koreksi terbesar. Sektor saham energi susut 1,61%, sektor saham basic terpangkas 1,7%, sektor saham consumer nonsiklikal terpangkas 0,09%.

Lalu sektor saham consumer siklikal susut 1,18%, sektor saham properti melemah 0,66%, sektor saham teknologi terpangkas 0,62%, sektor saham infrastruktur terpangkas 1,52% dan sektor saham transportasi turun 1,13%.