6 Ciri Orang Berbohong Ketika Berbicara Menurut Psikologi, Jangan Tertipu

Kenali 6 ciri orang berbohong ketika berbicara menurut psikologi, mulai dari bahasa tubuh, pola bicara, hingga kenapa tanda ini tidak selalu akurat sepenuhnya.

Diterbitkan 15 September 2026, 15:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Mengetahui apakah seseorang sedang jujur atau tidak sering kali menjadi hal yang membingungkan, apalagi ketika lawan bicara terlihat tenang dan meyakinkan. Banyak orang mengandalkan intuisi atau mitos populer, seperti "kalau matanya tidak berani menatap, berarti dia berbohong". Namun, psikologi punya cara pandang yang jauh lebih hati-hati soal ini.

Penting untuk digarisbawahi sejak awal: tidak ada satu pun tanda tunggal yang bisa dijadikan bukti pasti seseorang berbohong. Psikolog Paul Ekman dari studi yang dimuat American Psychological Association menekankan bahwa yang lebih relevan dicermati adalah pola berpikir berlebihan saat seharusnya tidak perlu, atau emosi yang tidak sesuai dengan apa yang diucapkan — bukan daftar checklist gerakan tubuh semata.

Artikel ini merangkum ciri-ciri yang diasosiasikan psikologi dengan kebohongan verbal maupun nonverbal, lengkap dengan catatan soal keterbatasan ilmiahnya, sebagaimana dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Selasa (15/9/2026).

1. Kontak Mata yang Tidak Wajar (Terlalu Menghindar atau Terlalu Intens)

Salah satu mitos paling populer soal berbohong adalah menghindari tatapan mata. Riset memang mencatat sebagian orang menunjukkan pola ini, tapi tinjauan ilmiah selama beberapa dekade justru menemukan bahwa kontak mata bukan indikator yang bisa diandalkan. Sebagian pembohong justru sengaja mempertahankan tatapan lebih lama dari biasanya karena tahu bahwa "menghindari mata" adalah stereotip yang dicurigai orang lain.

Karena itu, psikolog menyarankan untuk tidak menjadikan kontak mata sebagai patokan tunggal. Perubahan pola tatap yang tiba-tiba dari kebiasaan normal seseorang lebih layak diperhatikan ketimbang sekadar ada-tidaknya kontak mata.

2. Sentuhan pada Wajah atau Leher Sebagai Bentuk Menenangkan Diri

Gerakan seperti menyentuh telinga, menggaruk leher, menarik kerah baju, atau menutup mulut sering dikaitkan dengan upaya menenangkan diri saat seseorang merasa tertekan oleh kebohongan yang sedang diucapkan. Gestur ini dikenal sebagai "self-soothing behavior" dalam literatur psikologi.

Meski begitu, gestur semacam ini juga umum muncul saat seseorang gugup karena alasan lain, misalnya cemas berbicara di depan umum. Jadi, tanda ini paling berarti kalau muncul tiba-tiba dan tidak sesuai dengan kebiasaan orang tersebut sehari-hari.

3. Bahasa Tubuh dan Ekspresi Wajah yang Tidak Sinkron dengan Ucapan

Salah satu ciri yang lebih konsisten menurut psikolog adalah ketidaksesuaian antara kata-kata dan bahasa tubuh. Contohnya, seseorang bercerita tentang hal menyedihkan namun raut wajahnya tetap tersenyum, atau gestur tangan justru terlihat santai padahal topik yang dibahas serius.

Fenomena ini berkaitan dengan konsep "micro-expression" yang diteliti Paul Ekman: kilasan emosi asli yang muncul kurang dari sepersekian detik sebelum seseorang berhasil menutupinya dengan ekspresi yang "aman". Namun, para ahli tetap mengingatkan bahwa orang yang jujur tapi gugup pun bisa terlihat seperti menyembunyikan sesuatu, sehingga tanda ini tidak boleh berdiri sendiri.

4. Pola Bicara Berubah: Kurang Menyebut Diri Sendiri dan Detail Tidak Proporsional

Dari sisi linguistik, riset psikologi menemukan pola menarik pada orang yang berbohong. Mereka cenderung lebih jarang menggunakan kata "saya", lebih banyak membicarakan orang lain, atau memakai sudut pandang orang ketiga untuk menjauhkan diri secara psikologis dari kebohongan yang sedang dibuat. Nada bicara mereka juga cenderung lebih negatif dibanding saat bercerita jujur.

Selain itu, pembohong sering memberi detail yang tidak proporsional — bisa terlalu sedikit karena tidak ingin ketahuan berbohong lebih jauh, atau justru terlalu banyak detail yang dibuat-buat untuk terlihat meyakinkan. Pola bicara ini dianggap psikolog lebih dapat diandalkan dibanding sekadar mengamati gerak-gerik tubuh.

5. Perubahan Fisiologis: Napas Berat hingga Mulut Terasa Kering

Berbohong dapat memicu reaksi stres di tubuh karena rasa takut ketahuan. Sejumlah riset mencatat perubahan detak jantung, tekanan darah, dan pola napas yang lebih berat saat seseorang berbohong — prinsip inilah yang mendasari alat pendeteksi kebohongan seperti poligraf.

Namun, American Psychological Association sendiri menegaskan bahwa hasil poligraf tidak sepenuhnya membuktikan kebohongan, karena reaksi fisiologis serupa juga bisa muncul akibat kecemasan biasa. Karena itu, poligraf tidak diterima sebagai bukti sah di banyak proses hukum.

6. Butuh Waktu Lebih Lama untuk Menjawab atau Terkesan "Berpikir Keras"

Menyusun cerita bohong yang konsisten membutuhkan usaha kognitif lebih besar dibanding sekadar mengingat dan menyampaikan kejadian nyata. Karena itu, psikolog mengamati bahwa sebagian orang yang berbohong menunjukkan jeda berpikir yang tidak wajar, terutama saat mendapat pertanyaan lanjutan yang tidak mereka duga.

Tanda ini paling terlihat ketika pertanyaan seharusnya bisa dijawab spontan tanpa perlu berpikir panjang, namun orang tersebut justru terlihat menyusun jawaban dengan hati-hati. Sekali lagi, ini bukan bukti mutlak — bisa saja orang tersebut sekadar berusaha mengingat detail dengan akurat.

Yang perlu selalu diingat, keenam ciri di atas adalah pola yang diasosiasikan dengan kebohongan berdasarkan riset psikologi, bukan alat deteksi yang pasti akurat untuk menuduh seseorang berbohong. Menggabungkan beberapa tanda sekaligus dan membandingkannya dengan kebiasaan normal orang tersebut jauh lebih masuk akal ketimbang menyimpulkan dari satu gestur saja.

Pertanyaan yang Sering Diajukan Seputar Ciri Orang Berbohong

Q: Apakah menghindari kontak mata selalu tanda berbohong?

A: Tidak. Riset psikologi menemukan keyakinan ini populer di masyarakat maupun kalangan profesional hukum, tapi tidak didukung bukti empiris kuat sebagai indikator kebohongan yang valid.

Q: Berapa kali rata-rata orang berbohong dalam sehari?

A: Studi skala nasional menemukan rata-rata sekitar 1,65 kali per hari, dengan distribusi yang sangat timpang — mayoritas orang mengaku tidak berbohong sama sekali pada hari tertentu, sementara sebagian kecil menyumbang banyak kebohongan.

Q: Apakah pola bicara bisa menunjukkan seseorang berbohong?

A: Pola verbal seperti berkurangnya kata ganti "saya", nada lebih negatif, dan detail cerita yang tidak proporsional dianggap psikolog lebih konsisten terkait kebohongan dibanding sekadar bahasa tubuh.

Q: Bisakah seseorang dilatih mendeteksi kebohongan secara akurat?

A: Psikolog menyarankan pendekatan hati-hati: amati pola berpikir berlebihan atau emosi yang tidak sesuai konteks, lalu singkirkan dulu kemungkinan penjelasan lain sebelum menyimpulkan seseorang berbohong.

Q: Apa tujuan kebanyakan kebohongan sehari-hari menurut psikologi?

A: Riset menemukan kebanyakan kebohongan harian bertujuan melindungi perasaan sendiri atau orang lain, bukan untuk menutupi kesalahan besar — meski kebohongan yang menyangkut kepercayaan tetap berdampak serius pada hubungan.