Liputan6.com, Jakarta - Kenapa orang berbohong menjadi pertanyaan yang sering muncul ketika seseorang merasa dikhianati, dibohongi, atau kehilangan kepercayaan terhadap orang lain. Selama ini, kebohongan identik dengan tindakan menipu demi memperoleh keuntungan. Padahal, penelitian psikologi menunjukkan bahwa alasan seseorang berbohong jauh lebih beragam.
Psikolog Bella DePaulo menemukan bahwa sebagian besar orang pernah melakukan kebohongan kecil dalam kehidupan sehari-hari, biasanya untuk menghindari konflik, menjaga hubungan sosial, atau melindungi perasaan orang lain. Artinya, tidak semua kebohongan lahir dari niat buruk.
Hal ini diperkuat oleh penelitian McArthur dkk. (2022) yang dipublikasikan dalam Canadian Journal of Behavioural Science. Penelitian tersebut mengidentifikasi 11 motivasi utama seseorang berbohong, mulai dari menghindari hukuman hingga melindungi orang lain. Berikut Rangkuman Liputan6.com, Rabu (29/7/2026).
Advertisement
1. Menghindari Penilaian Negatif
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3355494/original/090794600_1611214542-cheerful-excited-lady-blue-blouse-crossing-fingers-hope_1262-14827.jpg)
Salah satu alasan paling umum seseorang berbohong adalah agar tidak dipandang buruk oleh orang lain. Misalnya, seorang karyawan mengatakan pekerjaannya hampir selesai meski masih jauh dari target, atau seorang siswa mengaku sudah belajar agar tidak dianggap malas.
Menurut McArthur dkk. (2022), kebohongan seperti ini bertujuan mempertahankan citra diri sekaligus menghindari rasa malu atau penilaian negatif dari lingkungan.
2. Menghindari Hukuman
Banyak orang berbohong karena takut menghadapi konsekuensi atas kesalahan yang dilakukan. Anak kecil mungkin menyangkal telah memecahkan barang di rumah agar tidak dimarahi, sementara orang dewasa bisa saja menyembunyikan kesalahan di tempat kerja untuk menghindari sanksi.
Dalam penelitian McArthur dkk., motivasi ini termasuk salah satu bentuk kebohongan yang paling sering ditemukan karena berkaitan dengan naluri mempertahankan diri.
3. Ingin Terlihat Lebih Baik
Sebagian orang melebih-lebihkan prestasi, pengalaman, atau pencapaiannya agar terlihat lebih sukses di mata orang lain. Fenomena ini juga sering terlihat di media sosial ketika seseorang hanya menampilkan sisi terbaik kehidupannya.
Penelitian menyebut motivasi ini sebagai heighten self-presentation, yaitu upaya menciptakan kesan positif dengan menutupi kekurangan diri.
4. Mendapatkan Keuntungan
Ada pula kebohongan yang dilakukan untuk memperoleh sesuatu yang sebenarnya tidak layak diterima, seperti memalsukan pengalaman kerja, mengaku sakit agar mendapat izin, atau memberikan informasi palsu demi memperoleh hadiah.
Jenis kebohongan ini termasuk yang paling berpotensi merugikan orang lain karena dilakukan demi kepentingan pribadi.
Advertisement
5. Berbohong Secara Kompulsif
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2408890/original/081048900_1542257038-pinocchio-effect.jpg)
Tidak semua kebohongan memiliki tujuan yang jelas. Sebagian orang memiliki kebiasaan berbohong secara spontan tanpa memperoleh manfaat apa pun. Kondisi ini dikenal sebagai compulsive lying.
Menurut Voices for Mental Health, kebiasaan tersebut dapat berkaitan dengan harga diri rendah, trauma, kecemasan, atau gangguan kepribadian tertentu sehingga membutuhkan penanganan yang lebih mendalam daripada sekadar menegur perilakunya.
6. Bersikap Ceroboh atau Impulsif
Ada juga orang yang berbohong karena berbicara terlalu cepat tanpa memikirkan akibatnya. Misalnya, secara refleks mengatakan tugas sudah selesai atau pesan sudah dikirim, padahal kenyataannya belum.
McArthur dkk. menjelaskan bahwa kebohongan seperti ini lebih berkaitan dengan kontrol diri yang rendah daripada niat untuk menipu.
7. Menikmati Sensasi Menipu
Sebagian kecil orang mengaku merasa puas ketika berhasil memperdaya orang lain. Dalam penelitian, motivasi ini disebut duping delight, yaitu kesenangan yang muncul karena kebohongan berhasil dipercaya.
Meski demikian, alasan ini merupakan salah satu motivasi yang paling jarang ditemukan dibandingkan alasan-alasan lainnya.
8. Menjaga Rahasia Pribadi
Tidak semua orang nyaman menceritakan kehidupan pribadinya kepada orang lain. Karena itu, sebagian memilih memberikan jawaban yang tidak sepenuhnya benar ketika ditanya mengenai kondisi keuangan, masalah keluarga, atau pengalaman masa lalu.
Penelitian McArthur dkk. menunjukkan bahwa menjaga kerahasiaan merupakan salah satu alasan paling umum seseorang berbohong. Tujuannya bukan untuk menipu, melainkan mempertahankan batas privasi.
9. Melindungi Diri dari Ancaman
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3355493/original/062826700_1611214542-taras-chernus-2uGptYCIrp1o-unsplash.jpg)
Dalam situasi tertentu, kebohongan dapat menjadi cara untuk melindungi diri. Misalnya, seseorang menyembunyikan informasi karena takut mendapat ancaman, intimidasi, atau pembalasan.
Voices for Mental Health menjelaskan bahwa pengalaman trauma atau lingkungan yang tidak aman dapat membuat seseorang belajar menggunakan kebohongan sebagai strategi bertahan hidup.
10. Menjaga Perasaan Orang Lain
Tidak semua kebohongan bersifat egois. Ada pula prosocial lies, yaitu kebohongan yang bertujuan menjaga perasaan orang lain.
Contohnya adalah memuji masakan anggota keluarga meskipun rasanya biasa saja atau mengatakan hadiah dari teman sangat disukai agar mereka tidak kecewa. Kebohongan seperti ini sering disebut sebagai white lies atau kebohongan putih.
11. Melindungi Orang Lain
Motivasi terakhir adalah altruistic lies, yaitu kebohongan yang dilakukan demi melindungi orang lain dari bahaya atau penderitaan.
Dalam penelitian McArthur dkk., alasan ini justru menjadi motivasi yang paling banyak dilaporkan responden. Sekitar 64% peserta mengaku pernah berbohong demi melindungi orang lain. Temuan ini menunjukkan bahwa kenapa orang berbohong tidak selalu berkaitan dengan manipulasi atau keuntungan pribadi, tetapi juga dapat didorong oleh empati.
Advertisement
Apa yang Membuat Seseorang Lebih Mudah Berbohong?
Penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan berbohong dipengaruhi oleh kombinasi kepribadian, cara kerja otak, dan lingkungan.
McArthur dkk. menemukan bahwa orang dengan sifat honesty-humility yang tinggi cenderung lebih jujur dan jarang menggunakan kebohongan untuk kepentingan pribadi. Sebaliknya, individu yang lebih impulsif atau memiliki tingkat conscientiousness rendah lebih mudah melakukan kebohongan yang bersifat egois.
Dari sisi biologis, Voices for Mental Health menjelaskan bahwa saat seseorang berbohong, bagian otak seperti prefrontal cortex bekerja untuk membantu mengambil keputusan dan mengendalikan impuls. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa keberhasilan lolos dari kebohongan dapat memicu pelepasan dopamin sehingga perilaku tersebut berpotensi menjadi kebiasaan.
Selain itu, lingkungan turut membentuk perilaku ini. Anak-anak belajar tentang kejujuran maupun kebohongan dari orang tua, teman, dan lingkungan sekitar. Jika kebohongan sering mendatangkan keuntungan atau tidak pernah mendapat konsekuensi, perilaku tersebut lebih mudah terbawa hingga dewasa.
Bisakah Kebohongan Dideteksi dan Diubah?
Banyak orang percaya bahwa kebohongan dapat dikenali hanya dari bahasa tubuh. Padahal, menurut pembahasan di Psychology Today, kemampuan manusia mendeteksi kebohongan sebenarnya hanya sedikit lebih baik daripada menebak.
Meski begitu, ada beberapa tanda yang patut diperhatikan, seperti cerita yang tidak konsisten, jawaban yang terlalu banyak atau terlalu sedikit detail, jeda yang panjang sebelum menjawab, perubahan nada suara, hingga munculnya mikroekspresi. Namun, tanda-tanda tersebut tidak bisa dijadikan bukti mutlak karena stres, kecemasan, atau kondisi neurodivergen juga dapat menimbulkan perilaku serupa.
Kabar baiknya, kebiasaan berbohong masih bisa diubah. Menurut Voices for Mental Health, perubahan dapat terjadi jika seseorang menyadari dampak dari perilakunya, bersedia mencari akar masalah, dan mendapatkan bantuan yang tepat, termasuk melalui Cognitive Behavioral Therapy (CBT) bila diperlukan.
Pada akhirnya, memahami kenapa orang berbohong bukan berarti membenarkan semua bentuk kebohongan. Sebaliknya, pemahaman ini membantu kita melihat bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis dan sosial. Hubungan yang sehat tetap dibangun di atas komunikasi yang jujur, rasa aman, dan kepercayaan yang tumbuh melalui tindakan nyata.
Tanya Jawab Seputar Berbohong
1. Kenapa orang berbohong padahal tidak mendapatkan keuntungan?
Tidak semua kebohongan bertujuan memperoleh keuntungan. Penelitian McArthur dkk. (2022) menunjukkan bahwa sebagian orang berbohong karena impulsif, menjaga privasi, menghindari rasa malu, atau bahkan untuk melindungi orang lain.
2. Apakah semua kebohongan itu buruk?
Tidak selalu. Psikologi mengenal istilah white lies atau kebohongan putih, yaitu kebohongan yang bertujuan menjaga perasaan atau melindungi orang lain. Namun, kebohongan yang dilakukan untuk memanipulasi, mengeksploitasi, atau merugikan orang lain tetap berdampak negatif.
3. Apakah pembohong bisa dikenali dari bahasa tubuh?
Tidak ada tanda tunggal yang dapat memastikan seseorang sedang berbohong. Bahasa tubuh hanya dapat menjadi petunjuk dan harus dilihat bersama konteks, konsistensi cerita, serta pola perilaku secara keseluruhan.
4. Apakah kebiasaan berbohong bisa dihentikan?
Ya. Dengan kesadaran diri, kemauan untuk berubah, dukungan lingkungan, dan bila perlu terapi psikologis seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT), kebiasaan berbohong dapat dikurangi secara bertahap.
5. Apa alasan paling umum orang berbohong menurut penelitian?
Penelitian McArthur dkk. (2022) menemukan bahwa alasan yang paling sering dilaporkan adalah melindungi orang lain (altruistik), menjaga informasi pribadi tetap rahasia, dan menghindari penilaian negatif dari lingkungan.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306335/original/075578900_1784874762-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-24T133156.067.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309638/original/028473800_1785232963-cek_fakta_-_bansos_balita.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5528977/original/025088700_1773301964-BGN_klaim_pendaftaran_PPPK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5441706/original/046861700_1765516083-jasa_marga.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4322695/original/099919600_1676291689-lie-fake-cheat-word-concept_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294318/original/065079400_1783829517-063_2285706113.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9245742/original/085478200_1783138991-verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299398/original/064759200_1784250864-000_B8VA8NK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9300741/original/083077900_1784373810-olmo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289600/original/065309500_1783409865-Portugal_s_Cristiano_Ronaldo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301613/original/093079500_1784504537-000_C2LE74U.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301644/original/087929500_1784508450-trump_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260490/original/004683900_1781597232-063_2281735743-Spanyol_vs_Tanjung_Verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257806/original/036653900_1781257253-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301596/original/087157300_1784500330-063_2286807575.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4786318/original/084826700_1711521270-GJmtYCIbgAAkw1f.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309141/original/001563400_1785219055-Rd7CLenJAy85MCoTJOdIPN3DNFGuS0XzRmSxgFGL.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309948/original/040306900_1785299696-a0551497-5f10-45d2-a4a8-789aab64e2cd.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309947/original/011533500_1785299645-268549fe-f3d5-4efc-a3e9-5325acbd83a5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309904/original/000211600_1785296967-75f53160-a0f0-4dae-86ae-efce56650852.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5386164/original/039099900_1760956903-ilustrasi_membaca_quran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9308328/original/088763600_1785136895-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309881/original/024138500_1785293977-532a5b61-ff3b-4702-a963-5ca67aa8a9ff.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309878/original/072210900_1785293878-anil-jose-xavier-xQwbmiCSAOg-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501425/original/037020900_1770905266-Sup_Telur_Tomat_Tahu.jpg)