Sinergi Anak Muda dan Kebijakan Iklim untuk Keberlanjutan

Studi 'Lab Aksi Iklim' menyoroti urgensi literasi politik bagi kaum muda marginal dan disabilitas yang terdampak krisis iklim.

Diterbitkan 09 Juli 2026, 18:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Anak-anak dan kaum muda merupakan kelompok yang menanggung dampak terberat dalam perubahan iklim pada masa kini dan masa depan. Meskipun, peran mereka sangat kecil dalam menyebabkan perubahan iklim. Hal itu seperti disampaikan santri perempuan di Pekalongan, Jawa Tengah Siti Nafisaturrobiah.

"Biasanya hujan dimulai bulan Oktober sampai Januari disertai naiknya air rob. Rasanya sedih, sebab terkadang masih rajin ingin mengaji dan lagi semangat belajar. Kalau banjir datang otomatis Majelis dan kelas belajar terganggu dan dikurangi waktunya karena Nafisah dan santri mengungsi," cerita Siti.

Selain itu, pemuda di Pontianak Nur Alam Hidayatullah juga menyampaikan dirinya harus siap bangun pada pagi hari dengan banjir rob yang membuat air tiba-tiba tinggi.

"Kemudian bermain saat cuaca panas yang makin menyengat, dan hidup sehari-hari dengan polusi udara yang diakibatkan asap pabrik, kendaraan, dan kebakaran hutan," ucap Nur Alam.

Tantangan ini juga semakin berat bagi kaum muda dengan disabilitas. Hal itu seperti dialami Gressia Carolina, seorang perempuan muda dengan disabilitas netra di Jakarta.

"Saat hujan deras tiba-tiba turun, aku dan teman-teman netra harus tergesa-gesa mencari tempat berteduh dalam kondisi jalanan yang licin dan pandangan yang terbatas," kata dia.

"Belum lagi kalau cuaca ekstrem itu berujung banjir. Jangankan untuk kuliah atau berkegiatan, untuk keluar rumah pun kami tidak bisa kemana-mana karena jalanan menjadi medan yang sangat berbahaya bagi kami," jelas Gressia.

 

Studi Lab Aksi Iklim

Ketiga anak muda tersebut merupakan peserta dalam studi 'Lab Aksi Iklim: Pelajaran dari pendidikan perubahan iklim untuk kaum muda di Jakarta, Pekalongan, dan Pontianak, Indonesia' yang digelar Pusat Kajian dan Advokasi Perlindungan dan Kualitas Hidup Anak Universitas Indonesia (Puskapa) dan Australia National University (ANU) dengan dukungan Pemerintah Australia melalui KONEKSI.

Studi ini merupakan bagian dari proyek Lab Aksi Iklim, yaitu sebuah modul pendidikan yang berupaya menutup kesenjangan pemahaman kaum muda marginal mengenai keadilan iklim dan mengatasi masalah tersisihnya mereka dari tata kelola iklim.

Studi ini baru saja rampung dan didiseminasikan dalam sebuah pameran dan dialog partisipatif multipihak pada Kamis, 4 Juni 2026 di Jakarta.

Modul ini disusun berdasarkan studi Puskapa terdahulu yang menunjukkan, meski menghadapi dampak ekologis setiap hari, kaum muda marginal sering kali tidak memiliki literasi politik yang memadai untuk mengenali dampak tersebut sebagai bentuk ketidakadilan struktural.

Perubahan iklim kerap dipandang sebagai takdir yang tak terelakkan, bukan sebagai masalah sistemik yang memerlukan aksi kolektif. Karena sudah sering terjadi, dampak perubahan iklim juga terkadang dinormalisasi, bahkan dirayakan, misalnya anak-anak di Pontianak yang bermain air ketika kampungnya dilanda banjir rob.

Tak hanya memberikan edukasi tentang apa itu perubahan iklim, modul ini juga mengajak kaum muda untuk memahami kebijakan, tata kelola, dan sistem politik yang memengaruhi perubahan iklim, serta memahami hak mereka sebagai kelompok rentan. Mereka bahkan juga didorong untuk terlibat secara aktif dan bermakna dalam upaya-upaya penanganan perubahan iklim.

Hal ini sejalan dengan yang disampaikan Direktur Pendidikan Tinggi, Pengetahuan dan Teknologi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas) Endang Sulastri.

"Dalam rangka menuju Indonesia Emas 2045, maka kaum muda memiliki peran yang sangat strategis, bukan hanya sebagai kelompok yang paling terdampak oleh perubahan iklim, ya, tetapi tentu juga sebagai agen perubahan yang akan menentukan bagaimana arah pembangunan kita ke depan yang lebih berkelanjutan, inklusif, dan berkeadilan," kata Endang.

 

Isu yang Kompleks

Kemudian, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan KemenkoPMK Woro Srihastuti Sulistyaningrum atau Lisa menambahkan, dalam perspektif perlindungan anak, mereka tidak boleh hanya dipandang sebagai kelompok rentan yang harus kita lindungi.

"Tetapi juga harus kita pandang sebagai pemilik hak, pemilik suara, dan bagian penting dalam solusi. Kita perlu mengubah paradigma dari melindungi anak untuk masa depan, menjadi membangun masa depan bersama anak. Meski demikian, perubahan iklim adalah isu sistemik yang kompleks," ucap dia.

Lalu, kaum muda dari kelompok terpinggirkan di Jakarta, Vivi menyampaikan tantangan ada banyak hal yang berada di luar kapasitas mereka.

"Misalnya, mereka kesulitan menyampaikan aspirasi kepada pemerintah daerah untuk berhenti menebang pohon; karena ketika pohon-pohon ditebang, anak-anak kehilangan area teduh untuk bermain di siang hari, ditambah banyak dari mereka yang juga kepanasan karena tidak memiliki alas kaki," ucap Vivi.

Dia juga menceritakan kurang baiknya kualitas air tanah di kampungnya karena tercemar limbah dari perusahaan minyak dan gas yang berdiri di sana.

Hal itu seperti juga disampaikan Peneliti Senior Puskapa, Shaila Tieken.

"Kaum muda tidak kekurangan pengalaman tentang perubahan iklim. Yang sering kurang adalah ruang, bahasa, dan dukungan untuk mengartikulasikannya," terang Shaila.

Karenanya, semua yang hadir dalam dialog ini sepakat bahwa kolaborasi lintas sektor dan pemangku kepentingan menjadi esensial dalam penanganan perubahan iklim.

"Diperlukan kolaborasi pemerintah, akademisi, dunia usaha, media, masyarakat sipil, serta komunitas anak dan kaum muda," sambung Lisa.

Perwakilan Pemerintah Australia, Ria Arief, juga berharap ini bisa terus berlanjut.

"Kita tidak selesai di sini, kita akan berlanjut untuk memastikan hasil riset ini di-uptake; kita memiliki dua mitra kunci di sini, Ibu Endang dan Ibu Lisa, yang kita berharap bisa memaksimalkan supaya hasil riset ini benar-benar dimanfaatkan untuk masyarakat," jelas Ria.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6