Sikapi Selat Hormuz, Legislator Gerindra Catat Dampak Global ke Indonesia

Gangguan di Selat Hormuz dapat memicu lonjakan harga energi, meningkatkan inflasi, hingga mengguncang stabilitas politik di berbagai negara

Diterbitkan 20 Maret 2026, 11:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Ketegangan di Selat Hormuz ancam ekonomi global, jalur vital 1/5 minyak dunia.
  • Gangguan picu lonjakan harga energi, inflasi, dan guncang stabilitas politik.
  • Negara besar punya kepentingan berbeda; konflik meluas regional, kejutan ekonomi.

Liputan6.com, Jakarta - Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali menjadi sorotan, terutama di sekitar Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi energi dunia. Anggota Komisi II DPR, Azis Subekti, mencatat bahwa kondisi ini berpotensi memicu dampak luas bagi ekonomi global, termasuk Indonesia.

Menurut Azis, sejarah menunjukkan bahwa kawasan jalur energi dunia jarang benar-benar stabil. Ia menilai Selat Hormuz saat ini kembali berada dalam situasi tegang seiring meningkatnya konflik antara Iran dan Israel serta keterlibatan Amerika Serikat di kawasan Teluk.

“Sekitar seperlima minyak dunia melewati selat sempit ini. Jika ia tersumbat, bahkan hanya beberapa minggu, ekonomi global akan merasakan dampaknya,” ujar Azis dalam keterangannya, seperti dikutip Jumat (20/3/2026).

Ia menjelaskan, gangguan di Selat Hormuz dapat memicu lonjakan harga energi, meningkatkan inflasi, hingga mengguncang stabilitas politik di berbagai negara. Kondisi ini juga berpotensi berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat.

Azis menilai, negara-negara besar saat ini memiliki kepentingan berbeda dalam merespons konflik tersebut. Amerika Serikat, misalnya, disebut ingin menjaga stabilitas jalur perdagangan global, sementara China lebih fokus pada keamanan pasokan energi bagi industrinya.

Di sisi lain, Rusia memandang krisis ini sebagai peluang strategis.

"Dalam logika geopolitik, setiap krisis yang menyibukkan Amerika di Timur Tengah bisa menjadi keuntungan bagi Rusia,” kata Azis.

Negara-negara di kawasan Teluk, seperti Arab Saudi, juga menghadapi dilema. Di satu sisi mereka melihat Iran sebagai rival, namun di sisi lain konflik terbuka berisiko merusak stabilitas ekonomi kawasan.

Sementara itu, Iran disebut memiliki strategi memperluas konflik sebagai bentuk perlawanan, sedangkan Israel memandang ancaman Iran sebagai sesuatu yang harus segera ditekan melalui langkah militer.

 

3 Kepentingan Besar

Azis menilai, jika disederhanakan, peta global saat ini terbagi dalam tiga kepentingan besar, yakni kelompok ofensif, kelompok perlawanan, dan kelompok penyeimbang. Ketiganya sama-sama menaruh perhatian pada Selat Hormuz sebagai titik krusial.

Ia memperkirakan konflik tidak akan berkembang menjadi perang besar dalam waktu dekat, namun berpotensi meluas secara regional.

"Kejutan terbesar justru bisa datang dari sisi ekonomi, terutama jika distribusi energi terganggu, sebab stabilitas jalur energi menjadi faktor kunci yang menentukan arah ekonomi global ke depan," dia menandasi.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6