Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia pada Kuartal IV 2026 diproyeksikan bakal menembus level US$ 5.000 per troy ons. Lonjakan ini dipicu oleh konflik geopolitik global yang berkepanjangan, dinamika politik dan ekonomi Amerika Serikat (AS), hingga tingginya aksi borong emas oleh sejumlah bank sentral dunia.
Jika tren ini berlanjut, harga emas batangan di dalam negeri berpotensi melambung hingga di atas Rp 3.000.000 per gram.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan setidaknya ada empat faktor utama yang mendorong tren kenaikan harga logam mulia tersebut.
Advertisement
"Pertama adalah faktor geopolitik, yang kedua kebijakan perpolitikan di Amerika, ketiga kebijakan Bank Sentral AS (The Fed), dan keempat adalah supply and demand dari bank sentral global," ujar Ibrahim saat dihubungi Liputan6.com, Senin (21/9/2026).
Ibrahim berpandangan, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dan Eropa Timur diperkirakan masih berlanjut. Kondisi ini secara tidak langsung terus memperkuat posisi emas sebagai aset aman (safe haven).
Di sisi lain, Analis Doo Financial, Lukman Leong, menilai kenaikan harga emas juga terdorong oleh pudar-nya kepercayaan terhadap mata uang fiat, khususnya Dolar AS.
"Kenaikan itu didukung oleh pemerintah, bank sentral, maupun pihak-pihak yang mulai kehilangan kepercayaan pada mata uangnya, terutama Dolar AS," tutur Lukman.
Meski lonjakan harga minyak akibat perang sempat menekan emas secara singkat, Lukman optimistis prospek jangka panjang logam mulia tetap solid.
"Geopolitik sendiri mendukung emas, walau harga minyak yang tinggi sempat menekan. Namun dampak harga minyak itu sifatnya sementara, sedangkan untuk jangka panjang sentimen emas masih sangat kuat," ia menjelaskan. Saat ini, harga emas dunia terpantau berada di kisaran US$ 4.700 hingga US$ 4.800 per troy ons.
Â
Dampak Kebijakan Ekonomi AS Terhadap Harga Emas
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3532284/original/011004900_1628161432-20210805-Harga-emas-alami-penurunan-ANGGA-3.jpg)
Dinamika ekonomi AS masih menjadi penentu utama pergerakan pasar global. Kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin baru-baru ini terjadi di tengah bayang-bayang inflasi yang dipicu harga bahan pokok.
Namun, Ibrahim menyoroti penolakan Donald Trump terhadap kenaikan suku bunga tersebut. Penolakan ini justru menjadi sinyal kuat bahwa harga emas berpotensi makin melesat ke depan.
"Keinginan Trump sendiri adalah menurunkan suku bunga lebih dari 100 basis poin atau lebih dari 1 persen. Nah, ini indikasi kuat bahwa harga emas dunia akan melonjak," ungkap Ibrahim.
Selain kebijakan moneter AS, tensi geopolitik juga memicu manuver sejumlah bank sentral di Eropa untuk memindahkan asetnya. Sementara itu, Bank Sentral China, India, dan beberapa negara berkembang terus agresif menambah cadangan emas demi lindung nilai (hedging).
Â
Advertisement
Kapan Waktu Terbaik Membeli Emas?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3188320/original/078196100_1595493634-20200723-Usai-Cetak-Rekor_-Harga-Emas-Antam-Kembali-Turun-IQBAL-2.jpg)
Menanggapi momentum berinvestasi, baik Ibrahim maupun Lukman sepakat bahwa tidak ada kata terlambat untuk membeli emas, mengingat instrumen ini ditujukan untuk investasi jangka panjang.
Ibrahim menilai tingkat harga saat ini masih sangat ideal untuk mengamankan portofolio investasi.
"Sebenarnya saat ini, walaupun harga emas berada di kisaran Rp 2.700.000 per gram, masih sangat bagus untuk investasi," tutur Ibrahim. Ia juga menyarankan masyarakat bertransaksi melalui bullion bank resmi agar terhindar dari risiko penipuan.
Senada dengan Ibrahim, Lukman menyarankan investor untuk mulai mengumpulkan emas secara bertahap (dollar-cost averaging).
"Idealnya pada level harga sekarang, masyarakat bisa mulai mengumpulkan secara berkala, baik saat harga turun maupun naik, mumpung harganya masih relatif terjangkau dibanding proyeksi ke depan," pungkas Lukman.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5141760/original/081875600_1740382803-IMG-20250224-WA0113.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343335/original/092273200_1788851870-HOAX__12_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5433901/original/080742000_1764906305-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-12-05T103803.223.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9353576/original/002126400_1789969776-cek_fakta_-_papua.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3352148/original/064037100_1610959707-20210118-Emas-Antam-2.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1411598/original/098494900_1479704927-Amerika_Serikat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350795/original/061905200_1789630521-ChatGPT_Image_17_Sep_2026__14.15.53.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4647050/original/096680300_1699881296-Tempat_Sampah.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347871/original/082698900_1789371708-ChatGPT_Image_14_Sep_2026__14.36.52.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352169/original/056693800_1789732852-Foto_1_credit_WWF-Indonesia_Ilham_Andriansyah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346285/original/094214300_1789120119-file_0000000047f882308af83e40b22f096a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1176605/original/028391000_1458444646-20160319-Earth-Hour-di-kawasan-Bundaran-HI-Fanani-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3929526/original/096494900_1644470631-jesse-schoff-Ph2KtIqKs7c-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9349154/original/070984700_1789475303-WhatsApp_Image_2026-09-15_at_7.23.17_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5349953/original/059135700_1757945389-Bapenas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346936/original/048560000_1789222746-WhatsApp_Image_2026-09-12_at_19.50.01.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5010796/original/017006400_1731931573-20241117_084948.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3518881/original/000279300_1627027346-karbon_un.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3172730/original/061289100_1594117388-20200707-Harga-Emas-Pegadaian-Naik-Rp-4.000-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3192688/original/061754900_1595929322-20200728-Harga-Emas-Tembus-Rp-1-Juta-per-Gram-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3188320/original/078196100_1595493634-20200723-Usai-Cetak-Rekor_-Harga-Emas-Antam-Kembali-Turun-IQBAL-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310807/original/088871800_1785371580-Gemini_Generated_Image_hjxpijhjxpijhjxp.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309012/original/011632200_1785214700-Gemini_Generated_Image_5o6uim5o6uim5o6u.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5472769/original/036658900_1768375317-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4805342/original/023824600_1713432003-20240418-Kenaikan_Harga_Emas-HER_4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3324618/original/083189900_1608026626-20201215-Harga-emas-terus-turun-ANGGA-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9349514/original/042048300_1789531576-ChatGPT_Image_Sep_16__2026__11_05_46_AM.jpg)