Direktur Bayan Resources Lepas 185.200 Saham BYAN

Direktur PT Bayan Resources Tbk (BYAN), Alastair Gordon Christopher McLeod kini mengenggam 3.814.800 saham BYAN

Diterbitkan 23 September 2026, 06:01 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Direktur PT Bayan Resources Tbk (BYAN), Alastair Gordon Christopher McLeod melepas saham BYAN pada 21 September 2026. Dari penjualan saham itu, ia memperoleh dana Rp 2,47 miliar.

Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Rabu (23/9/2026), Alastair Gordon Christopher McLeod melepas 185.200 saham BYAN dengan harga Rp 13.352 pada 21 September 2026. Dengan demikian, ia memperoleh dana sekitar Rp 2,47 miliar.

“Tujuan transaksi penjualan dengan status kepemilikan langsung,” demikian seperti dikutip dari keterbukaan informasi BEI.

Setelah transaksi, ia memiliki 3.814.800 saham BYAN atau setara 0,01%. Sebelumnya, ia memiliki 4.000.000 saham BYAN atau setara 0,01%.

Berdasarkan data RTI, saham BYAN ditutup anjlok 9,71% menjadi Rp 11.850 per saham. Harga saham BYAN dibuka stagnan di Rp 13.125 per saham. Saham BYAN berada di level tertinggi Rp 13.575 dan terendah Rp 11.800 per saham. Total frekuensi perdagangan 8.124 kali dengan volume perdagangan saham 77.856 saham. Nilai transaksi Rp 97,4 miliar.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Selasa pekan ini ditutup turun 1,69% menjadi 6.277,04. Indeks saham LQ45 tergelincir 1,37% menjadi 625,61. Sebagian besar indeks saham acuan tertekan.

Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji menuturkan, ada sentimen eksternal dan internal yang mempengaruhi IHSG. Dari eksternal, ia menuturkan, harga minyak yang berada di sekitar US$ 100 per barel, kenaikan yield atau imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) bertenor 10 tahun mendekati 5%, serta ekspektasi kebijakan The Federal Reserve (the Fed) yang masih hawkish meningkatkan tekanan terhadap aset emerging market.

“Kondisi tersebut diperburuk oleh ketegangan geopolitik Timur Tengah yang membuat investor cenderung meningkatkan aset safe haven,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.

 

Sektor Saham

Sementara dari domestik, menurut Nafan tekanan IHSG didorong pelemahan rupiah hingga sekitar 17.847 per dolar AS. Hal ini karena meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasar keuangan dan arus modal asing.

“Investor juga sedang menunggu hasil RDG Bank Indonesia 22–23 September, sehingga sebagian pelaku pasar cenderung melakukan wait and see,” ujar Nafan.

Pada perdagangan saham Selasa pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 6.423,83 dan level resistance 6.258,43. Sebanyak 533 saham melemah sehingga menekan IHSG. 139 saham menguat dan 118 saham diam di tempat.

Total frekuensi perdagangan saham 2.161.563 kali dengan volume perdagangan saham 33,7 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 14,5 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah di kisaran 17.846.

Mayoritas sektor saham tertekan kecuali sektor saham consumer siklikal naik 0,33%. Sektor saham energi melemah 2,76%, dan catat koreksi terbesar. Sektor saham industri merosot 2,31%, dan sektor saham properti terpangkas 2,01%. Sektor saham basic susut 1,97%, sektor saham consumer nonsiklikal terpangkas 1,48%.

Lalu sektor saham kesehatan merosot 0,74%, sektor saham keuangan tergelincir 0,85%, sektor saham teknologi susut 1,59%, sektor saham infrastruktur merosot 0,66% dan sektor saham transportasi terperosok 1,35%.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.