Pramono: Kebijakan Gubernur Jakarta Lama yang Tak Tuntas Akan Saya Selesaikan

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan komitmennya untuk menuntaskan kebijakan-kebijakan gubernur sebelumnya yang belum terselesaikan.

Diterbitkan 28 Januari 2026, 15:48 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Gubernur Pramono Anung berkomitmen selesaikan kebijakan gubernur sebelumnya yang belum tuntas.
  • Proyek Monorel, jalur JIS-Ancol, dan integrasi KRL ke JIS sedang dituntaskan.
  • Pramono menekankan pentingnya menyatukan kepentingan berbagai pihak di Jakarta.

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan komitmennya untuk menuntaskan kebijakan-kebijakan gubernur sebelumnya yang belum terselesaikan. Menurutnya, penyelesaian proyek lama menjadi prioritas, demi kepentingan masyarakat dan kelancaran pemerintahan.

“Kebijakan-kebijakan gubernur yang lama, yang tidak selesai, bismillah saya selesaikan,” kata Pramono dalam sambutannya di acara penandatanganan nota kesepahaman antara Pemprov DKI Jakarta dan Lemhannas RI, Rabu (28/1/2026).

Ia menjelaskan, beberapa proyek strategis kini sedang dalam tahap penyelesaian. Misalnya, kata dia proyek Monorel di Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan yang mangkrak hampir dua dekade dan tiangnya kini mulai dipotong di era kepemimpinannya.

Selain itu, kata dia ada jalur transportasi menuju Jakarta International Stadium (JIS) yang telah terhubung dengan Ancol. Kemudian, integrasi jalur KRL ke JIS juga tengah disiapkan.

“Mulai dari Monorel, sekarang sudah mulai dipotong (tiangnya). JIS, tanggal 25 kemarin hari Sabtu sudah kita hubungkan antara Ancol dan JIS. Kemudian juga KRL-nya nanti masuk. Intinya adalah persoalan kemacetan, persoalan transportasi ke JIS akan selesai,” jelas dia.

 

Satukan Kepentingan Banyak Pihak

Selain proyek infrastruktur, dia juga menekankan soal pentingnya menyatukan kepentingan berbagai pihak di Jakarta, termasuk tokoh masyarakat Betawi. Menurutnya diperlukan pendekatan kolaboratif dan personal.

“Sampai semua tokoh saya datengin satu-satu, saya telepon satu-satu. Udah semuanya ‘iya’, begitu ketemu ‘enggak’ lagi. Ya kita rangkul lagi sampai ‘iya’,” kata Pramono.

Pramono memandang penyelesaian kebijakan lama beririsan dengan prinsip kepemimpinan yang efektif. Ia bilang, kepemimpinan yang baik harus mengutamakan kepentingan nasional, berpikir jangka panjang, dan mampu merangkul berbagai pihak.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6