7 Sunnah Rasulullah SAW saat Memulai Perjalanan Jauh Lengkap Doa-doanya

Salah satu sunnah yang paling dianjurkan sebelum memulai perjalanan adalah melaksanakan shalat sunnah safar dua rakaat.

Diterbitkan 05 Juli 2026, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sunnah Rasulullah SAW saat memulai perjalanan jauh menjadi tuntunan bagi setiap muslim sebelum melakukan safar, baik untuk bekerja, menuntut ilmu, mudik, umrah maupun keperluan lainnya. Islam mengajarkan adab sejak sebelum keberangkatan agar seorang musafir memperoleh keberkahan, perlindungan Allah SWT, dan kemudahan selama di perjalanan.

Rasulullah SAW memberikan tuntunan yang lengkap mulai dari niat, shalat sunnah, doa safar hingga adab selama perjalanan agar seorang Muslim tetap menjaga kualitas ibadahnya.

Dalam Kitab Zaadul Ma'ad, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan bahwa Rasulullah SAW mencontohkan adab safar, mulai dari sebelum berangkat hingga kembali ke rumah. Sunnah Rasulullah ini menjadikan perjalanan tak hanya fokus pada urusan duniawi, namun mengandung nilai ibadah.

Merujuk buku Tuntunan Shalat Musafir Plus Panduan Ibadah Musafir Lainnya, Aulia Fadhli, ebook Panduan Musafir, Adab dan Hukum Safar, Abdullah Haidir, serta literatur lainnya, berikut ini adalah sunnah Rasulullah SAW saat memulai perjalanan jauh. Simak selengkapnya.

Sunnah-Sunnah Rasulullah SAW Saat Memulai Perjalanan Jauh

1. Shalat Sunnah Safar Dua Rakaat Sebelum Berangkat

Salah satu sunnah yang paling dianjurkan sebelum memulai perjalanan adalah melaksanakan shalat sunnah safar dua rakaat. Rasulullah SAW tidak pernah melewatkan shalat sunnah sebelum memulai perjalanan, bahkan pernah beliau terpaksa harus shalat sunnah di atas punggung untanya.

Dari Muth'im bin Miqdam, Rasulullah SAW bersabda: "Tidak ada sesuatu yang lebih utama untuk ditinggalkan seorang hamba bagi keluarganya, daripada dua rakaat yang dia kerjakan di tengah (tempat) mereka ketika hendak melakukan perjalanan." (HR Ath-Thabrani)

Sementara, dari Anas bin Malik RA, beliau berkata: "Nabi SAW tidaklah berhenti di suatu tempat dan meninggalkannya, kecuali dengan melakukan shalat sunnah dua rakaat." (HR Al-Hakim, beliau mengatakan sahih sesuai syarat Bukhari)

Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu' Syarhil Muhadzdzab menerangkan, disunnahkan ketika hendak keluar dari rumahnya untuk melaksanakan shalat dua rakaat. Pada rakaat pertama setelah Al-Fatihah membaca (Qul yâ ayyuhal-kâfirûn) dan pada rakaat kedua membaca (Qul huwallâhu ahad)."

2. Membaca Doa sebelum Berangkat (Doa Safar)

Rasulullah SAW tidak pernah hendak melakukan perjalanan kecuali beliau berdoa ketika hendak beranjak dari duduknya.

Doa yang Dibaca Rasulullah SAW:

Arab: اَللَّهُمَّ إِلَيْكَ أَسْرَى وَبِكَ أَعْتَصِمُ، اَللَّهُمَّ اكْفِنِي مَا أَهَمَّنِي وَمَا لَا أَهْتَمُّ بِهِ

Latin: Allâhumma ilayka asrâ wa bika a'tashim. Allâhumma ikfinî mâ ahammânî wa mâ lâ ahtammu bih.

Artinya: "Ya Allah, kepada-Mu aku menuju dan dengan-Mu aku berlindung. Ya Allah, cukupkan aku pada apa yang menjadi kebutuhanku dan dari apa yang tidak aku beri perhatian baginya."

3. Mendoakan Keluarga yang Ditinggalkan

Imam Baihaqi meriwayatkan dari Anas RA bahwa Nabi SAW membaca doa berikut ini:

Arab: اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَوْدِعُكَ نَفْسِي وَأَهْلِي وَمَالِي وَوَلَدِي وَدُنْيَايَ وَآخِرَتِي

Latin: Allâhumma innî astaudi'uka nafsî wa ahlî wa mâlî wa waladî wa dunyâyâ wa âkhiratî.

Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku menitipkan kepada-Mu diriku, keluargaku, hartaku, anak-anakku, duniaku dan akhiratku."

Doa ini mencakup musafir dan keluarganya agar senantiasa berada dalam perlindungan dan rahmat Allah SWT.

4. Doa Naik Kendaraan

Ketika hendak naik ke atas kendaraan, Rasulullah SAW mengucapkan bismillah sebanyak tiga kali. Jika telah berada di atas kendaraan, beliau mengucapkan alhamdulillah sebanyak tiga kali dan Allahu akbar sebanyak tiga kali.

Doa Naik Kendaraan:

Arab: سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ

Latin: Subhânalladzî sakhkhara lanâ hâdzâ wa mâ kunnâ lahu muqrinîn. Wa innâ ilâ Rabbinâ lamunqalibûn.

Artinya: "Maha Suci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini untuk kami, padahal sebelumnya kami tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami."

Doa ini bersumber dari Al-Qur'an Surah Az-Zukhruf ayat 13-14.

Kemudian dilanjutkan dengan doa:

Arab: اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اَللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اَللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ، وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ، اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ، وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ

Latin: Allâhumma innâ nas-aluka fî safarinâ hâdzâ al-birra wat-taqwâ, wa minal 'amali mâ tardhâ. Allâhumma hawwin 'alainâ safaranâ hâdzâ wathwi 'annâ bu'dahu. Allâhumma antash shâhibu fis-safari, wal-khalîfatu fil-ahli. Allâhumma innî a'ûdzu bika min wa'tsâ-is-safari, wa ka-âbatil-manzhari, wa sû-il-munqalabi fil-mâli wal-ahli.

Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dalam perjalanan ini kebaikan dan ketakwaan serta amal yang Engkau ridhai. Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami ini dan dekatkanlah baginya kejauhan. Ya Allah, Engkaulah teman dalam perjalanan dan pengganti (penjaga) bagi keluarga. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelelahan dalam perjalanan, pemandangan yang menyedihkan, dan buruknya perubahan pada harta dan keluarga."

5. Berpamitan dengan Keluarga dan Orang Terdekat dan Berdoa

Rasulullah SAW menganjurkan untuk memberitahukan kepergiannya kepada keluarga, sahabat, tetangga, dan orang-orang terdekat. Berpamitan termasuk adab sebelum bepergian. Tujuannya agar kepergian kita diketahui dan mendapatkan ridha serta doa dari mereka yang ditinggalkan. Berpamitan juga merupakan bentuk penghormatan kita kepada keluarga di rumah.

Doa Pamitan:

Arab: أَسْتَوْدِعُكُمُ اللَّهَ الَّذِي لَا تَضِيعُ وَدَائِعُهُ

Latin: Astaudi'ukumullâhalladzî lâ tadlî'u wadâi'uh.

Artinya: "Aku menitipkan kalian kepada Allah yang tidak akan menyia-nyiakan barang titipan-Nya." (HR Ahmad dan Ibnu Majah)

Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi dalam kitab Minhajul Muslim menyebut bahwa seorang yang hendak bepergian hendaklah berpamitan dengan keluarga atau kerabat yang ditinggalkan.

6. Memilih Hari dan Waktu yang Baik untuk Berangkat

Rasulullah SAW selalu memilih hari Senin atau Kamis ketika hendak pergi menuju tempat yang jauh. Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam Bekal Hidup Muslim mengungkapkan bahwa Rasulullah SAW biasa berangkat melakukan perjalanan pada pagi hari dan lebih suka pergi pada hari Kamis.

Rasulullah SAW biasa berangkat melakukan perjalanan pada pagi hari. Beliau bersabda: "Ya Allah, berkahilah umatku di pagi harinya." Saat mengirim utusan delegasi atau pasukan tentara untuk safar dalam rangka jihad, Nabi SAW juga memberangkatkan mereka pada pagi hari.

7. Tidak Bepergian Sendirian dan Memilih Amir

Rasulullah SAW melarang umatnya bepergian sendirian, bahkan menceritakan bahwa seorang pengendara adalah satu setan. "Orang yang berkendaraan sendirian adalah setan, orang yang berkendaraan berdua adalah dua setan, orang yang berkendaraan bertiga maka itulah orang yang berkendaraan yang benar." (HR. Malik dalam Al-Muwatha, Abu Daud, dan Tirmidzi)

Nabi menganjurkan agar rombongan musafir berjumlah tiga orang dan salah satu di antaranya ditunjuk sebagai pemimpin.

Hikmah Melakukan Sunnah Rasulullah SAW saat Memulai Perjalanan Jauh

1. Perlindungan dari Marabahaya dan Keburukan

Dengan mengamalkan sunnah-sunnah safar—seperti shalat sunnah safar, doa, dan zikir—seorang musafir berada dalam perlindungan Allah SWT. Rasulullah SAW menjanjikan bahwa shalat dua rakaat sebelum bepergian akan menghalangi seseorang dari kejelekan di luar rumah. Doa juga menjadi benteng spiritual yang melindungi dari berbagai keburukan yang mungkin menimpa selama perjalanan.

2. Mendapatkan Keberkahan dan Kelancaran Perjalanan

Memulai perjalanan dengan sunnah Rasulullah SAW—memilih hari yang baik (Senin atau Kamis), berangkat pada pagi hari, dan membaca doa—akan mendatangkan keberkahan. Rasulullah SAW mendoakan umatnya: "Ya Allah, berkahilah umatku di pagi harinya." Keberkahan ini akan menyertai seluruh rangkaian perjalanan, dari keberangkatan hingga kepulangan.

3. Meneladani dan Mencintai Rasulullah SAW

Dengan mengamalkan sunnah-sunnah safar, seorang muslim menunjukkan kecintaan dan kepatuhan kepada Rasulullah SAW. Hal ini sebagaimana firman Allah: "Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." (QS. Ali Imran: 31). Mengikuti sunnah Nabi adalah bentuk ibadah yang akan mendatangkan pahala yang besar.

4. Menjaga Silaturahim dan Hubungan dengan Keluarga

Sunnah berpamitan dan meminta doa kepada keluarga sebelum berangkat serta menyegerakan kembali setelah urusan selesai mengandung hikmah besar. Hal ini menjaga hubungan harmonis dengan keluarga, mendapatkan ridha mereka, serta mencegah kekhawatiran yang berlebihan. Rasulullah SAW melarang pulang pada malam hari agar tidak mengejutkan keluarga.

5. Ketenangan Hati dan Kedamaian Jiwa

Melaksanakan sunnah-sunnah safar memberikan ketenangan hati bagi musafir dan keluarganya. Dengan berdoa, bertakbir, bertasbih, dan berzikir, seorang musafir menyerahkan segala urusannya kepada Allah. Hal ini menghilangkan kecemasan dan kekhawatiran berlebihan, karena ia yakin bahwa Allah SWT senantiasa melindungi dan menyertainya. Doa seorang musafir pun termasuk doa yang mustajab (dikabulkan).

Pertanyaan Seputar Sunnah Rasulullah

1. Apa saja sunnah Rasulullah saat memulai perjalanan jauh?

Sunnah Rasulullah SAW saat memulai perjalanan jauh antara lain: (1) shalat sunnah safar dua rakaat, (2) membaca doa safar, (3) berpamitan dengan keluarga, (4) memilih hari Senin atau Kamis, (5) berangkat pada pagi hari, (6) tidak bepergian sendirian, (7) bertakbir saat mendaki dan bertasbih saat menurun, serta (8) memperbanyak doa dan zikir selama perjalanan.

2. Doa apa yang dibaca Rasulullah sebelum bepergian?

Rasulullah SAW membaca doa: "Allâhumma ilayka asrâ wa bika a'tashim. Allâhumma ikfinî mâ ahammânî wa mâ lâ ahtammu bih." Artinya: "Ya Allah, kepada-Mu aku menuju dan dengan-Mu aku berlindung. Ya Allah, cukupkan aku pada apa yang menjadi kebutuhanku dan dari apa yang tidak aku beri perhatian baginya."

3. Mengapa Rasulullah memilih hari Kamis untuk bepergian?

Rasulullah SAW lebih suka pergi pada hari Kamis. Beliau keluar pada hari Kamis saat perang Tabuk dan menyukai keluar (untuk safar) pada hari Kamis. Hal ini juga dikuatkan dengan sabda beliau: "Ya Allah, berkahilah umatku di pagi harinya."

4. Bagaimana cara shalat sunnah safar?

Shalat sunnah safar dikerjakan sebanyak dua rakaat. Pada rakaat pertama dianjurkan membaca Surat Al-Kafirun setelah Al-Fatihah, dan pada rakaat kedua dianjurkan membaca Surat Al-Ikhlas setelah Al-Fatihah. Setelah salam, dianjurkan membaca Ayat Kursi dan Surat Quraisy.

5. Apakah boleh bepergian sendirian dalam Islam?

Rasulullah SAW melarang umatnya bepergian sendirian. Beliau bersabda: "Orang yang berkendaraan sendirian adalah setan, orang yang berkendaraan berdua adalah dua setan, orang yang berkendaraan bertiga maka itulah orang yang berkendaraan yang benar." (HR. Malik, Abu Daud, dan Tirmidzi) Dianjurkan bepergian bersama rombongan minimal tiga orang dan mengangkat salah satu sebagai pemimpin.