Soroti Banjir Jakarta, Anggota DPRD Syafi Djohan Singgung Drainase dan Daerah Resapan

Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta, Syafi Djohan, menyoroti persoalan banjir yang melanda berbagai lokasi di wilayah ibu kota. Menurut dia, masalah itu bisa terjadi lantaran sistem drainase yang belum optimal dan berkurangnya daerah resapan air atau catchment area.

Diterbitkan 27 Januari 2026, 10:33 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Banjir Jakarta disebabkan drainase tak optimal dan minimnya daerah resapan air.
  • Pemprov Jakarta didorong perluas sistem drainase dan area resapan air segera.
  • Pembangunan setu dan pelebaran drainase jadi solusi jangka menengah atasi banjir.

Liputan6.com, Jakarta - Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta, Syafi Djohan, menyoroti persoalan banjir yang melanda berbagai lokasi di wilayah ibu kota. Menurut dia, masalah itu bisa terjadi lantaran sistem drainase yang belum optimal dan berkurangnya daerah resapan air atau catchment area.

"Dua faktor ini adalah biang keladi munculnya genangan genangan air baru, meskipun upaya pengurangan genangan lama di beberapa wilayah telah berhasil dilakukan," kata Syafi seperti dikutip dari siaran pers, Selasa (27/1/2026).

Karenanya, Syafi menitikberatkan perlunya sistem drainase yang lebih baik untuk penanggulangannya. Dia mengakui bahwa Operasi Modifikasi Cuaca dan rekayasa teknis lainnya turut berpengaruh dalam mengurangi durasi genangan di beberapa wilayah.

Hanya saja, permasalahannya tetap ada pada drainase. "Muncul genangan di area yang sebelumnya tak terdampak, bahkan di wilayah tinggi seperti Jakarta Barat. Tapi itu ada genangan pada tahun ini. Berarti perlu adanya upaya lainya lagi yang bisa diperbaiki bersama," kata Syafi.

 

Dorongan Evaluasi Drainase dan Solusi Jangka Menengah

Syafi pun meminta Pemprov Jakarta untuk segera melakukan perluasan sistem drainase juga area resapan. Hal itu dirasa sangat mendesak dan sudah saatnya semua pihak berkotribusi bersama menciptakan lingkungan yang bersih.

"Dampak besar dari air daerah atas yang volumenya terus membesar terjadi karena wilayah resapan air yang sangat minim (catchment area), menyebabkan air langsung mengalir deras ke dataran rendah dan membebani saluran-saluran yang sudah tersumbat sedimentasi. Dari wilayah atas itu kan air larian jumlahnya semakin besar, yang mengkanal di sungai-sungai itu sudah terlalu membludak,” terang Syafi.

Sebagai solusi jangka menengah, Syafi mendorong realisasi pembangunan sejumlah Setu di titik-titik strategis. Dia berharap, hal itu dapat berfungsi ganda, sebagai penampung air larian sekaligus menjebak sedimentasi (lumpur). 

 

Perlu Pelebaran Drainase

Solusi lainnya, lanjut Syafi, adalah memperbaiki dan melebarkan saluran drainase, mengingat banyak saluran yang sudah overload, penuh sedimen, atau rusak.

“Saya mendorong agar dibangun beberapa titik setu untuk menangkap air larian beserta sedimentasinya, beserta lumpur yang dibawa. Karena catchment-nya kan sudah tidak ada ya. Jadi, pemprov mesti membangun beberapa titik setu di wilayah-wilayah yang sudah dikaji secara teknis,” dia menandasi.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6