Simak Cerita Perancang Kostum Drakor Perfect Crown soal Hanbok Pangeran Ian hingga Ibu Suri

Drama Perfect Crown berlatar belakang dunia alternatif Korea Selatan yang menganut sistem kerajaan tengah menjadi sorotan dan menampilkan hanbok yang mewah.

Diterbitkan 01 Mei 2026, 19:32 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Drama Perfect Crown yang dibintangi artis Korea Selatan IU dan Byeon Woo-seok sedang tayang. Drama dengan latar belakang dunia alternatif Korea Selatan yang menganut sistem kerajaan ini tengah menjadi sorotan dan menampilkan hanbok, pakaian tradisional Korea yang mewah dan modern.

Perancang kostum dalam drama Perfect Crown adalah Cho Sang-kyung. Dia bukan sekadar perancang kostum, tapi pencerita visual yang merajut benang-benang menjadi bagian penting dari film dan drama Korea.

Dari estetika kelam karya Park Chan-wook "Oldboy" (2003) dan keanggunan menghantui "The Handmaiden" (2016) hingga fenomena global "Squid Game" (2021–2025), Cho telah membentuk tampilan konten Korea selama lebih dari dua dekade.

Dikenal karena risetnya yang mendalam dan reinterpretasi yang berani, ia memiliki kemampuan langka untuk menghormati tradisi sekaligus melampaui batasnya. Dalam proyek terbarunya, "Perfect Crown", sang desainer melampaui sekadar reproduksi historis dengan menampilkan hanbok sebagai pernyataan mode yang fleksibel dan berkelas tinggi.

Dikutip dari koreatimes, Jumat (1/5/2026), Cho Sang-kyung yang memadukan siluet tradisional dan sentuhan kontemporer secara mulus, mengajak audiens global melihat hanbok bukan hanya sebagai kostum, melainkan karya seni dengan keanggunan yang abadi.

Dalam drama Perfect Crown, penampilan perdana Pangeran Agung I-an (diperankan Byeon Woo-seok) dalam "cheollik" atau jubah militer sangat mencolok. Cho menjelaskan, secara tradisional, cheollik sering dipakai sebagai pakaian dalam di bawah jubah resmi, jadi memakainya ke jamuan menunjukkan bahwa ia tidak berpakaian sebagaimana mestinya.

"Ini pilihan yang disengaja—sedikit mengancam, sedikit memberontak. Saya ingin langkah pertama itu menunjukkan sejauh mana karakter ini berani melangkah. Ini tipe kemunculan yang bisa jadi berita utama keesokan harinya," kata Cho dalam wawancara dengan koreatimes.

Dia mencari warna yang cocok dengan para aktor, serta tetap mengacu pada obangsaek (lima warna utama: putih, hitam, biru, merah, dan kuning) dan oganseak (warna sekunder seperti ungu, teal, oker, hijau, dan oranye kecokelatan). Untuk keluarga kerajaan, dia menggunakan warna tradisional seperti merah tua dan giok, tetapi dengan sentuhan berbeda.

"Warna yang paling dipilih dengan hati-hati adalah teal pada selempang upacara besar I-an di poster promosi. Jika terlalu biru, akan terlihat kaku di layar; jika terlalu merah, akan mengganggu fokus pada aktor. Warna ini membuat aktor benar-benar bersinar. Mungkin ada yang melihatnya sebagai Tiffany blue, tetapi ini sebenarnya warna yang sangat Korea," jelasnya.

Eksperimen dengan Renda dan Payet

Cho Sang-kyung menerangkan, dalam drama, ibu suri mengenakan "magoja (jaket luar). Ia hanya menyampirkannya di atas rok, bukan memakai "jeogori" (atasan) tradisional. Ini cocok untuk musim semi atau panas.

Namun demikian Cho mengaku tetap mempertahankan garis lengan melengkung tradisional, tetapi bereksperimen dengan bahan seperti renda dan payet.

"Selain itu, kemeja I-an didesain dengan variasi kerah agar terlihat alami dan stylish tanpa dasi. Saya pribadi menyukai kerutan alami yang muncul pada sutra Korea saat dikenakan," ucapnya.

Lalu apakah ada satu kostum atau adegan yang diharap paling membekas di ingatan penonton? Cho menjawab "Biasanya saya lebih peduli pada emosi adegan daripada pakaiannya, tetapi saya sangat menyukai adegan pernikahan Hee-joo dan I-an. Mereka mengenakan busana pernikahan tradisional, dan saya berharap penonton merasakan keindahan yang sama seperti yang saya rasakan."

Harus Sesuai Tradisi

Cho Sang-kyung mengatakan, ada aturan yang tidak bisa dikompromikan ketika menjadi perancang kostum. Misalnya sebuah adegan membutuhkan hanbok tradisional, maka harus tetap sesuai tradisi.

"Kami sangat memperhatikan detail yang tak terlihat—lekuk lengan, garis bawah, panjang "dangui" (busana kerajaan wanita), dan lapisan warna. Saat ini, hanbok yang sedang tren terlalu lurus dan menonjolkan bentuk tubuh. Bagi saya, itu tidak sesuai dengan martabat dan keanggunan keluarga kerajaan. Saya bersikeras mempertahankan lekukan halus yang menjadi ciri hanbok sejati," kata dia.

Dia menjelaskan, hanbok wanita memiliki pemisahan jelas antara jeogori dan "chima" (rok), sehingga menawarkan banyak variasi gaya.

"Anda bisa menghadirkan kesan elegan hanbok hanya dengan memadukan jeogori di atas gaun tanpa lengan. Jika dikenakan longgar dan terbuka—seperti gaya I-an—hasilnya bisa terlihat seperti mantel trench yang elegan," ucap dia.

Cho Sang-kyung menerangkan, secara tradisional, hanbok diikat rapi dengan pita, tetapi gaya modern memberi lebih banyak kebebasan. Rompi sederhana di atas kemeja, seperti yang dikenakan staf istana, atau memadukan sepatu tradisional dengan kaus kaki sehari-hari bisa menciptakan tampilan layaknya pemotretan. Bahkan mengenakan beoseon (kaus kaki tradisional) dengan sandal juga terlihat menarik.

"Meskipun hanbok kini jarang dipakai bahkan pada acara khusus, saya ingin menunjukkan bahwa memasukkan satu elemen tradisional ke dalam busana modern bisa sangat efektif," tuturnya.

 

 

Kemewahan yang Tenang

Mengenai hanbok yang kini menarik secara global, dia mengatakan akan senang jika hanbok dilihat bukan sesuatu yang mencolok, melainkan puncak dari kemewahan yang tenang.

"Rasa kebangsawanan yang sejati. Pernah ada tren gaya old money, dan saya akan senang jika hanbok dilihat dengan cara yang sama," kata dia.

Sebagai seseorang yang pernah berpartisipasi dalam kostum film Oldboy, The Handmaiden, dan The Royal Tailor, dia mengaku terobsesi untuk memikat penonton agar mau menonton karyanya.

"Saya harus membantu aktor menyatu dengan peran mereka, sehingga para kreator bisa bersama-sama mempercayai dan merasakan dunia yang kami bangun. Tujuan akhirnya adalah mengejutkan penonton dengan menghadirkan citra baru bagi para aktor," ucap dia.

Dia menambahkan, konten Korea kini semakin beragam. Dia pun sering diminta melakukan hal-hal yang tampaknya mustahil. Selain itu, era di mana AI mungkin bisa membantu desain.

"Tetapi pekerjaan kami—yang berhubungan dengan aktor dan emosi manusia—pada akhirnya adalah tentang manusia. Itulah sebabnya saya menghargai kerja tangan. Meski terkadang lebih lambat atau tidak sempurna, saya ingin kami terus bekerja dengan tangan, pikiran, dan hati," tutup Cho Sang-kyung

Â