Sukses

Cerita Akhir Pekan: Kiat agar Berkebun Tak Sekadar Tren Sesaat

Liputan6.com, Jakarta - Pandemi corona Covid-19 mengukir beragam kisah. Di masa krisis seperti saat ini, tak sedikit yang menghabiskan banyak waktu di rumah saja dengan tetap menjalankan aktivitas sehari-hari. Pola kehidupan yang cenderung berubah, turut membentuk kebiasaan baru pula. Salah satu kegiatan yang tengah mencuri atensi berbagai lapisan masyarakat adalah berkebun.

Interaksi dengan ragam tanaman di pojok hijau hunian lewat aktivitas perawatan sehari-hari ternyata menghadirkan nuansa berbeda. Mulai dari membangun kedekatan, mencipta sensasi dan kepuasan yang tak biasa bagi sebagian orang.

Namun jauh sebelum virus corona baru melanda, kecintaan pada berkebun telah dilakon seorang penggiat tanaman, Devi Natalia. Ia kerap berbagi beragam hal terkait berkebun, ecosystem, dan zerowaste melalui akun Instagram @kebun.devi yang diikuti oleh lebih dari 10 ribu followers.

"Saya berangkat dari hobi. Waktu masih muda tinggal di Banyuwangi, tanahnya enak. Setelah menikah tinggal di Surabaya, namanya cinta sama menanam, meski lahan terbatas, tapi tetap bertanam di tempat kecil. Disiasati dengan sayuran hidroponik dan tanaman lain di pot," kata Devi kepada Liputan6.com, Kamis, 30 Juli 2020.

Dikatakan Devi, selain air kolam bagus untuk tanaman, ia juga memanfaatkan kotoran kelinci sebagai pupuk. Sampah yang paling banyak diproduksi setiap hari di rumahnya adalah sampah dapur, mulai dari sampah buah-buahan dan sayuran, yang juga diolah sebagai pupuk.

"Saya di rumah ini sudah tidak pernah buang sampah organik ke luar rumah," tambahnya yang juga mengenalkan berkebun kepada buah hati.

Maraknya berkebun di masa pandemi juga disambut antusias oleh dirinya yang juga mengajar pelatihan dan workshop berkebun. "Aku happy, karena aku juga mengajar dan punya moto dan ngomong ke setiap kelas untuk ayo setiap rumah punya hidroponik entah sekecil apapun. Yang paling kecil yang bukan hidroponik untuk dikonsumsi, seperti sirih gading dan air sudah termasuk sistem hidroponik," tambahnya

Devi melanjutkan, layaknya dahulu, apotek hidup di setiap rumah dianjurkan untuk memilikinya. Besar harapnya hal tersebut dapat banyak diterapkan. "Di masa sekarang ini semakin banyak orang tertarik, semakin happy saya. Nyambung sama misi saya," jelasnya.

2 dari 5 halaman

Mengenal Manfaat

Terkait konsisten berkebun, Devi memiliki beberapa tips. "Dirasa manfaatnya cukup, pasti kita mau meluangkan waktu, mengenal manfaatnya dulu. Yang kedua, ada waktu, kalau di masa sekarang pasti lebih ada waktu," kata Devi.

Berkebun juga dikatakan memiliki dua manfaat. Selain secara fisik hasilnya dapat kembali untuk dikonsumsi, berkebun juga dapat mengisi waktu dan membuat diri lebih rileks.

"Saya dan keluarga sudah tidak pernah beli sayur, kecuali yang tidak ditanam pasti beli, tapi yang ditanam, sudah empat tahun ini selalu konsumsi sayur di rumah dan anak-anak bilang sayuran mami paling enak. Itu bikin semangat banget, sayurannya yang berdaun seperti sawi-sawian, kangkung, dan bayam," ungkap Devi.

Ia juga memilik tips bagi mereka yang baru mulai ingin terjun berkebun. "Bagi waktu, harus punya waktu karena teknologi bisa dipelajari, waktu tidak bisa dipinjam," tambahnya.

Ada beberapa hal yang perlu dimiliki bagi mereka yang baru ingin memulai berkebun hidroponik. "Rokul medianya pengganti tanah, air, tempat sebagai peralatan, pelengkapnya benih dan nutrisi, juga diisi air. Jangan sampai kering kuncinya itu," jelasnya.

"Kalau belum pakai pipa, bisa menggunakan bak atau boks styrofoam di bawah Rp100 ribu itu untuk 1 banding 1, kalau langusng pakai pipa antara Rp300 ribu--Rp1 juta, tergantung besarnya karena sudah pakai pompa kalau pipa," tambahnya.

Selain itu, Devi menyebut saat ini yang tengah banyak digemari adalah tanaman di teras atau indoor. "Karena manfaatnya juga banyak, monstera, lidah mertua, indoor plant yang menyumbang oksigen untuk ruangan. Lidah mertua sebagai air purifier alami," lanjutnya.

3 dari 5 halaman

Cerita Pecinta Tanaman

Ketertarikan pada tanaman dan berkebun juga dibagikan oleh seorang editor-in-chief sebuah media online, Amelia Ayu Kinanti. Ia mengenang, dahulu ketika masa kecil, sang ayah gemar mengumpulkan tanaman suplir.

"Pas sudah dewasa, aku suka sendiri saja. Awalnya beli di pot-pot kecil. Lama-lama, mulai mengumpulkannya sekitar 3--4 tahun lalu. Harga tanaman tidak kayak sekarang, dulu masih murah," kata Ayu kepada Liputan6.com, Kamis, 30 Juli 2020.

Ayu menambahkan, kala mulai serius berkebun, ia mendapat pekerjaan baru dengan perubahan jam kerja yang signifikan hingga tanamannya mulai tidak terurus. Ia lantas memutuskan untuk mengorbankan beberapa pot.

"Aku punya beberapa pot yang aku suka banget dengan waktu segitu, aku bisa merawat 4--5 pot," lanjutnya.

Hingga di masa pandemi, mengharuskannya bekerja dari rumah. Di sela waktu setelah membalas email dan meeting, Ayu menyempatkan mengurus dan kembali mengumpulkan tanaman. Sembari mengucap syukur, ia benar-benar dapat merawat tanaman kesayangan, mulai dari memberi pupuk hingga mengecek tanah.

"Sedikit-sedikit menjadi bukit jadi banyak tanaman, sedangkan di rumah banyak peliharaan kitten ada dua, kucing dewasa dua, dan satu anjing, tanaman digigit, kadang ditendang yang buat pot-nya berantakan," jelas Ayu.

Dikatakan Ayu, di belakang rumah ada tanah lebih yang sebenarnya fasilitas umum (fasum) yang dapat dimanfaatkan, asal tidak dibuat bangunan permanen. Akhirnya, Ayu membuat atap pelindung sederhana untuk tanaman. Di sana, ia meletakkan pot-pot tanamannya yang terkadang jadi tempatnya bekerja di luar ruangan.

"Awalnya aku beli tanaman yang asli dari Asia, terutama Indonesia, banyaknya jenis philodendron, secara struktur tanah, cara merawat, dan kelembapan itu sudah cocok. Lupa disiram, dia hidup. Lalu mulai tertarik buka Pinterest, cari tanaman yang warna lucu-lucu, tapi kebanyakan bukan asli sini," jelasnya.

Perbedaan karakteristik tanaman mulai dari media tanah, cara merawat membuatnya melakukan riset sederhana dengan googling. "Memang agak effort, tapi paling tidak aku tahu sifat dasar tanaman ini, misalnya akarnya itu serabut halus, tapi tidak tahan air," kata Ayu.

"Saat pindah pot untungnya, setiap beli tanaman aku cenderung pindah pot karena aku mau lihat akarnya sehat atau tidak, itu memengaruhi cara buat merawat. Misalnya akar halus tapi tidak tahan air, tapi kalau kebanyakan air dia akan busuk. Akhirnya, menahan diri untuk memilih tanaman," tambahnya.

4 dari 5 halaman

Efek Menenangkan

Pada sudut hijaunya, Ayu membuat klasifikasi posisi sendiri seperti menempatkan tanaman sesuai family, ada pula sisi di mana tanaman yang suka kena matahari. Berkebun, dikatakan Ayu, memiliki dampak positif untuk dirinya.

"Efeknya menenangkan banget. Buat aku efeknya memang karena suka, bagaimana pun kerepotan memindahkan pot justru relaksasinya di situ. Kalau mumet, aku senang kalau ada tanaman yang pindah pot. Selain estetika lebih bagus juga merapikan taman," ungkapnya.

Beragam jenis tanaman saat ini telah menjadi 'asuhan' Ayu. Salah satu jenis yang paling banyak yang ia miliki adalah philodendron.

"Jenis philodendron itu aku banyak banget, ada yang warna-warni, daunnya merah, hijau, oranye, dan hitam. Kalau favorit hoya, daunnya tebal, tidak suka air, tidak sering disiram tidak apa-apa karen daunnya tebal, tahan banting," jelas Ayu.

Ia melanjutkan, tanaman jenis kalatea memiliki daun warna-warni yang tak kalah cantik. Namun, tanaman jenis ini memiliki begitu sensitif.

"Kalatea cuma tidak suka air, tapi kekeringan dia kebakar, terlalu sensitif. Kalau hoya daunnya tebal dan menjuntai aku suka. Jenis peperomia juga banyak, ada bentuk daunnya kayak semangka, ada beberapa daunnya kecil-kecil," katanya lagi.

"Aku justru paling tidak bisa sukulen, terlalu diperhatikan dia mati melulu, makanya sedih beli sukulen. Sekarang ada 1--2, cuma belum berhasil bikin anak-anaknya. Menurut aku, keberhasilan aku adalah saat tanaman rimbun plus bisa aku pecah pot dan kasih ke orang lain," tutupnya.

5 dari 5 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: