Pengertian Mad Thobi'i, Berikut Hukum Bacaan dan Contohnya dari Al-Quran

Pengertian Mad Thobi'i dalam bahasa Arab adalah mad (المد) yang memiliki arti memanjangkan. Secara istilah diartikan sebagai memanjangkan suara ketika mengucapkan huruf-huruf mad.

Diperbarui 10 Juni 2025, 14:11 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Membaca Alquran adalah salah satu amalan yang memiliki banyak manfaat. Bahkan, Rasulullah SAW. bersabda, yang artinya,

“Siapa saja membaca satu huruf dari Kitabullah (Alquran) maka dia akan mendapat satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan dilipatkan kepada sepuluh semisalnya. Aku tidak mengatakan alif lâm mîm satu huruf. Akan tetapi, alif satu huruf, lâm satu huruf, dan mîm satu huruf.” (HR At-Tirmidzi).

Meski demikian, dalam membaca Alquran harus memperhatikan ilmu tajwid, salah satunya adalah hukum bacaan mad thobi'i. Mad thobi'i adalah hukum bacaan panjang. Hukum bacaan mad thobi'i berlaku ketika kata dalam Al-Quran yang berharakat fathah diikuti alif (ا), harakat kasrah diikuti dengan ya sukun (ي), dan harakat dammah diikuti dengan wawu sukun (و).

Cara membaca hukum bacaan mad thobi'i adalah dengan membacanya panjang, namun tidak lebih dari dua harakat atau dua ketukan. Selain itu, mad thobi'i juga tidak boleh dibaca dengan dengung dan samar.

Untuk lebih memahami bagaimana hukum bacaan mad thobi'i, berikut sejumlah contohnya, seperti yang telah dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Selasa (10/6/2025).

Pengertian Mad Thobi

Dalam kitab Nihayatul Qoul Al-Mufid, Syaikh M.Makky Nashor menerangkan mad menurut Bahasa المدوالزيادة artinya memanjangkan dan menambah. Sedangkan menurut istilah adalah:

اِطَالَةُ الصَّوْتِ بِحَرْفٍ مِنْ حُرُوْفِ الْمَدِّ

Memanjangkan suara dengan salah satu huruf dari huruf-huruf mad (asli)

Sedangakan menurut KH. Maftuh Basthul Birri dalam buku Standart Tajwid terjemahan Fathul Mannan beliau menuturkan mad menurut istilah qurra’ ialah memanjangkan suaranya huruf mad. Istilah mad secara bahasa berasal dari kata المدّ والزيادة yang berarti memanjangkan dan menambah. Sedangkan menurut istilah, mad adalah, 

إِطَالَةُ الصَّوْتِ بِحَرْفٍ مِنْ حُرُوفِ الْمَدِّ

“Memanjangkan suara dengan salah satu huruf dari huruf-huruf mad.”

Huruf-huruf mad itu ada tiga, alif (ا) setelah fathah, wawu mati (وْ) setelah dhommah, dan ya’ mati (يْ) setelah kasrah. Bacaan mad ini dipanjangkan sepanjang dua harakat atau satu alif.

Dinamakan thobi’i (طبيعي) karena bacaan ini merupakan bacaan yang secara alami atau “normal” dibaca panjang, dan tidak tergantung pada sebab tertentu seperti hamzah atau sukun setelah huruf mad. Oleh karena itu, seorang pembaca Al-Qur’an yang baik (qari’) tidak boleh menambah atau mengurangi panjang bacaan mad ini.

Hukum Bacaan Mad Thobi’i dan Dalil Pendukungnya

Hukum membaca Mad Thobi’i adalah wajib, dalam arti wajib talaqqi atau mengikuti bacaan sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan diajarkan para sahabat. Dalil mengenai kewajiban ini berasal dari hadits tentang bacaan sahabat Abdullah bin Mas’ud RA, sebagaimana diceritakan oleh Musa bin Yazid Al-Kindi RA,

إِنَّمَا الصَّدَقٰتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسٰكِيْنِ

Dibaca dengan polos (tanpa mad), lalu Ibnu Mas’ud menegur,

"Bukan begitu. Rasulullah SAW membacakannya kepadaku dengan memanjangkan ‘لِلْفُقَرَاۤءِ’ dan ‘الْمَسٰكِيْنِ’."

Dari sini, Ibnu Mas’ud menolak bacaan yang tidak sesuai dengan panjang yang telah diajarkan Rasulullah SAW, meskipun secara makna tidak berubah. Hal ini menunjukkan bahwa tajwid adalah bagian dari sunnah Nabi dan harus diikuti secara turun-temurun (muttaba’ah).

Pembagian Mad Thobi’i

Dalam kitab Tuhfatul Athfal karya Syaikh Sulaiman Al-Jamzuri dijelaskan bahwa mad terbagi dua: Mad Asli (Thobi’i) dan Mad Far’i. Mad Thobi’i sendiri terbagi menjadi tiga jenis, yaitu:

1. Mad Thobi’i Dhahiri (ظاهر)

Merupakan mad thobi’i yang tampak secara jelas dalam tulisan. Tanda-tandanya mudah dikenali, yakni ketika:

Alif jatuh setelah fathah,

Wawu mati jatuh setelah dhommah,

Ya’ mati jatuh setelah kasrah.

Contoh:

وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ يُنْفِقُوْنَ

2. Mad Thobi’i Muqaddar (مُقَدَّر)

Mad yang tidak tampak huruf mad-nya secara tertulis namun tetap dibaca panjang karena telah menjadi kesepakatan para qari’. Hal ini terkait dengan gaya penulisan khat Utsmani.

Contoh:

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ

Huruf lam pada lafaz اللّٰه dan mim pada lafaz الرَّحْمٰنِ merupakan contoh mad muqaddar.

3. Mad Thobi’i Harfi (حرفي)

Jenis mad thobi’i yang terdapat dalam huruf-huruf muqaththa’ah (huruf potong) di awal surah seperti طه، يس، ن، كهيعص. Huruf-huruf ini disebut juga Fawatih as-Suwar.

Contoh:

كۤهٰيٰعۤصۤ طٰهٰ يسۤ ۚ

Mad ini hanya dipanjangkan dua harakat karena:

Tidak terdapat sukun asli setelah huruf mad,

Dipanjangkan hanya 2 harakat, bukan 6 sebagaimana mad lazim.

Contoh Mad Thobi

Hukum bacaan mad thobi'i berlaku, salah satunya ketika ada huruf berharakat fathah bertemu diikuti huruf alif (ا). Berikut adalah sejumlah contohnya diambil dari sejumlah ayat dalam Al-Quran.

1. QS. Al-Humazah Ayat 3

يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُۥٓ أَخْلَدَهُۥ

Latinnya: "Yaḥsabu anna mālahū akhladah"

Artinya: "Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya," (QS. Al-Humazah, ayat 3)

Dalam ayat tersebut terdapat bacaan مَالَهُ di mana ada huruf mim (مَ) berharakat fathah yang diikuti dengan huruf alif (ا). Maka bacaan tersebut dibaca panjang amun tidak lebih dari dua harakat atau dua ketukan. Selain itu, mad thobi'i juga tidak boleh dibaca dengan dengung dan samar.

2. QS. An-Nas Ayat 1

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ

Latinnya: “Qul a’uuzu birabbin naas

Artinya: “Katakanlah, Aku berlindung kepada Tuhannya manusia” (QS. An-Nas, ayat 1).

Dalam ayat tersebut terdapat bacaan النَّاسِ dimana ada huruf nun (نَّ) berharakat fathah yangdiikuti dengan huruf alif (ا). Maka bacaantersebut dibaca panjang amun tidak lebih daridua harakat atau dua ketukan. Selain itu, madthobi'i juga tidak boleh dibaca dengan dengungdan samar.

3. QS. Al-Maun Ayat 3

وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلْمِسْكِينِ

Latinnya: “Walaa yahuddu alaa to’aa mil miskin

Artinya: “Dan tidak menganjurkan memberi makan orang orang miskin” (QS. Al-Maun, ayat 3)

Dalam ayat tersebut terdapat bacaan وَلَا يَحُضُّ di mana ada huruf lam (لَ) berharakat fathah yang diikuti dengan huruf alif (ا). Maka bacaan tersebut dibaca panjang amun tidak lebih dari dua harakat atau dua ketukan. Selain itu, mad thobi'i juga tidak boleh dibaca dengan dengung dan samar.

4. QS. Asy-Syura Ayat 3

لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّـفۡسَكَ اَلَّا يَكُوۡنُوۡا مُؤۡمِنِيۡنَ

Latinnya: La’allaka baakhi’un nafsaka allaa yakuunuu mu’miniin

Artinya: “Boleh jadi engkau (Muhammad) akan membinasakan dirimu (dengan kesedihan), karena mereka (penduduk Makkah) tidak beriman” (QS. Asy-Syura, ayat 3).

Dalam ayat tersebut terdapat bacaan بَاخِعٌ di mana ada huruf ba' (بَ) berharakat fathah yang diikuti dengan huruf alif (ا). Maka bacaan tersebut dibaca panjang amun tidak lebih dari dua harakat atau dua ketukan. Selain itu, mad thobi'i juga tidak boleh dibaca dengan dengung dan samar.

5. QS. An-Nasr Ayat 2

وَرَاَيۡتَ النَّاسَ يَدۡخُلُوۡنَ فِىۡ دِيۡنِ اللّٰهِ اَفۡوَاجًا

Latinnya: “Wa ra-aitan naa syayadkhuluuna fii diinillaahi af waajaa

Artinya: “Dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah” (QS. An-Nasr, ayat 2).

Dalam ayat tersebut terdapat bacaan اَفۡوَاجًا di mana ada huruf wawu (وَ) berharakat fathah yang diikuti dengan huruf alif (ا). Maka bacaan tersebut dibaca panjang amun tidak lebih dari dua harakat atau dua ketukan. Selain itu, mad thobi'i juga tidak boleh dibaca dengan dengung dan samar.

Contoh Mad Thobi

Hukum bacaan mad thobi'i berlaku, salah satunya ketika ada huruf berharakat fathah bertemu diikuti huruf ya sukun (ي). Berikut adalah sejumlah contohnya diambil dari sejumlah ayat dalam Al-Quran.

1. QS. Al-Fiil Ayat 1

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَٰبِ ٱلْفِيلِ

Latinnya: "Alam tara kaifa fa’ala rabbuka bi`aṣ-ḥābil-fīil"

Artinya: "Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?" (QS. Al-Fiil, ayat 1).

Dalam ayat tersebut terdapat bacaan ٱلْفِيلِ di mana ada huruf wawu (فِ) berharakat kasrah yang diikuti dengan huruf ya (ي) sukun. Maka bacaan tersebut dibaca panjang amun tidak lebih dari dua harakat atau dua ketukan. Selain itu, mad thobi'i juga tidak boleh dibaca dengan dengung dan samar.

2. QS. Asy-Syura Ayat 3

لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّـفۡسَكَ اَلَّا يَكُوۡنُوۡا مُؤۡمِنِيۡنَ

Latinnya: La’allaka baakhi’un nafsaka allaa yakuunuu mu’miniin

Artinya: “Boleh jadi engkau (Muhammad) akan membinasakan dirimu (dengan kesedihan), karena mereka (penduduk Makkah) tidak beriman” (QS. Asy-Syura, ayat 3).

Dalam ayat tersebut terdapat bacaan مُؤۡمِنِيۡنَ di mana ada huruf nun (نِ) berharakat kasrah yang diikuti dengan huruf ya (ي) sukun. Maka bacaan tersebut dibaca panjang amun tidak lebih dari dua harakat atau dua ketukan. Selain itu, mad thobi'i juga tidak boleh dibaca dengan dengung dan samar.

3. QS. Al-Maun Ayat 3

وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلْمِسْكِينِ

Latinnya: “Walaa yahuddu alaa to’aa mil miskin

Artinya: “Dan tidak menganjurkan memberi makan orang orang miskin” (QS. Al-Maun, ayat 3)

Dalam ayat tersebut terdapat bacaan ٱلْمِسْكِينِ di mana ada huruf kaf (كِ) berharakat kasrah yang diikuti dengan huruf ya (ي) sukun. Maka bacaan tersebut dibaca panjang amun tidak lebih dari dua harakat atau dua ketukan. Selain itu, mad thobi'i juga tidak boleh dibaca dengan dengung dan samar.

4. QS. At-Takasur Ayat 5

كَلَّا لَوۡ تَعۡلَمُوۡنَ عِلۡمَ الۡيَقِيۡنِؕ

Latinnya: “Kalla lauta’lamuuna ilmal yaqiin

Artinya: “Sekali-kali tidak! Sekiranya kamu mengetahui dengan pasti” (QS. At-Takasur, ayat 5).

Dalam ayat tersebut terdapat bacaan الۡيَقِيۡنِؕ di mana ada huruf qaf (قِ) berharakat kasrah yang diikuti dengan huruf ya (ي) sukun. Maka bacaan tersebut dibaca panjang amun tidak lebih dari dua harakat atau dua ketukan. Selain itu, mad thobi'i juga tidak boleh dibaca dengan dengung dan samar.

5. QS. Al-Quraisy Ayat 4

ٱلَّذِىٓ أَطْعَمَهُم مِّن جُوعٍ وَءَامَنَهُم مِّنْ خَوْفٍۭ

Latinnya: "Allażī aṭ’amahum min jụ’iw wa āmanahum min khaụf"

Artinya: "Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan," (QS. Al-Quraisy, ayat 4).

Dalam ayat tersebut terdapat bacaan ٱلَّذِىٓ di mana ada huruf dzal (ذِ) berharakat kasrah yang diikuti dengan huruf ya (ي) sukun. Maka bacaan tersebut dibaca panjang amun tidak lebih dari dua harakat atau dua ketukan. Selain itu, mad thobi'i juga tidak boleh dibaca dengan dengung dan samar.

Contoh Mad Thobi

Hukum bacaan mad thobi'i berlaku, salah satunya ketika ada huruf berharakat dammah bertemu diikuti huruf wawu (و) sukun. Berikut adalah sejumlah contohnya diambil dari sejumlah ayat dalam Al-Quran.

1. QS. An-Nas Ayat 1

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ

Latinnya: “Qul a’uuzu birabbin naas

Artinya: “Katakanlah, Aku berlindung kepada Tuhannya manusia” (QS. An-Nas, ayat 1).

Dalam ayat tersebut terdapat bacaan اَعُوْذُ di mana ada huruf 'ain (عُ) berharakat dammah yang diikuti dengan huruf wawu (و) sukun. Maka bacaan tersebut dibaca panjang amun tidak lebih dari dua harakat atau dua ketukan. Selain itu, mad thobi'i juga tidak boleh dibaca dengan dengung dan samar.

2. QS. Al-Fiil Ayat 5

فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَّأْكُولٍۭ

Latinnya: "Fa ja’alahum ka’aṣfim ma`kụl"

Artinya: "Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)," (QS. Al-Fiil, ayat 5).

Dalam ayat tersebut terdapat bacaan مَّأْكُولٍۭ di mana ada huruf kaf (كُ) berharakat dammah yang diikuti dengan huruf wawu (و) sukun. Maka bacaan tersebut dibaca panjang amun tidak lebih dari dua harakat atau dua ketukan. Selain itu, mad thobi'i juga tidak boleh dibaca dengan dengung dan samar.

3. QS. Asy-Syura Ayat 3

لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّـفۡسَكَ اَلَّا يَكُوۡنُوۡا مُؤۡمِنِيۡنَ

Latinnya: La’allaka baakhi’un nafsaka allaa yakuunuu mu’miniin

Artinya: “Boleh jadi engkau (Muhammad) akan membinasakan dirimu (dengan kesedihan), karena mereka (penduduk Makkah) tidak beriman” (QS. Asy-Syura, ayat 3).

Dalam ayat tersebut terdapat bacaan يَكُوۡنُوۡا di mana ada huruf kaf (كُ) berharakat dammah yang diikuti dengan huruf wawu (و) sukun. Selain itu ada pula huruf nun (نُ) berharakat dammah yang diikuti dengan huruf wawu (و) sukun. Maka bacaan tersebut dibaca panjang amun tidak lebih dari dua harakat atau dua ketukan. Selain itu, mad thobi'i juga tidak boleh dibaca dengan dengung dan samar.

4. 6. QS. An-Nasr Ayat 2

وَرَاَيۡتَ النَّاسَ يَدۡخُلُوۡنَ فِىۡ دِيۡنِ اللّٰهِ اَفۡوَاجًا

Latinnya: “Wa ra-aitan naa sayadkhuluuna fii diinillaahi af waajaa

Artinya: “Dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah” (QS. An-Nasr, ayat 2).

Dalam ayat tersebut terdapat bacaan يَدۡخُلُوۡنَ di mana ada huruf 'ain (لُ) berharakat dammah yang diikuti dengan huruf wawu (و) sukun. Maka bacaan tersebut dibaca panjang amun tidak lebih dari dua harakat atau dua ketukan. Selain itu, mad thobi'i juga tidak boleh dibaca dengan dengung dan samar.

5. QS. At-Takasur Ayat 5

كَلَّا لَوۡ تَعۡلَمُوۡنَ عِلۡمَ الۡيَقِيۡنِؕ

Latinnya: “Kalla lauta’lamuuna ilmal yaqiin

Artinya: “Sekali-kali tidak! Sekiranya kamu mengetahui dengan pasti” (QS. At-Takasur, ayat 5).

Dalam ayat tersebut terdapat bacaan تَعۡلَمُوۡنَ di mana ada huruf mim (مُ) berharakat dammah yang diikuti dengan huruf wawu (و) sukun. Maka bacaan tersebut dibaca panjang amun tidak lebih dari dua harakat atau dua ketukan. Selain itu, mad thobi'i juga tidak boleh dibaca dengan dengung dan samar.

FAQ Tentang Mad Thobi’i

1. Apa perbedaan antara Mad Thobi’i dan Mad Far’i?

Mad Thobi’i adalah mad asli, yaitu mad yang tidak disebabkan oleh hamzah atau sukun. Mad Far’i adalah cabang dari mad, yang terjadi karena sebab tertentu seperti adanya hamzah atau sukun setelah huruf mad.

2. Apakah bacaan Mad Thobi’i bisa lebih dari dua harakat?

Tidak. Mad Thobi’i hanya dibaca dua harakat (satu alif). Penambahan atau pengurangan panjang termasuk kesalahan dalam tajwid.

3. Apakah Mad Thobi’i wajib dipelajari?

Ya, mempelajari tajwid termasuk Mad Thobi’i hukumnya wajib secara kifayah, dan mengamalkannya ketika membaca Al-Qur’an adalah wajib ‘ain, karena merupakan bagian dari menjaga bacaan Al-Qur’an sesuai tuntunan Nabi SAW.

4. Mengapa dalam beberapa ayat huruf mad tidak tertulis tapi tetap dibaca panjang?

Itu adalah bentuk Mad Thobi’i Muqaddar, yang muncul karena gaya penulisan mushaf Utsmani. Meskipun tidak tertulis, tetap dibaca panjang berdasarkan riwayat bacaan para qari’.

5. Bagaimana cara melatih bacaan Mad Thobi’i agar benar?

Latih dengan mengukur panjang bacaan menggunakan gerakan jari atau ketukan tangan sebagai pengukur harakat, dan pastikan stabil antara cepat dan lambat. Belajar langsung dengan guru juga sangat dianjurkan.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6