BCA Bantah Isu Akuisisi Saham BBCA oleh Haji Isam

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F.Haryn mengimbau agar nasabah dan masyarakat untuk mengakses informasi dari sumber resmi.

Diterbitkan 25 September 2026, 19:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau disebut BCA menanggapi isu yang beredar di media sosial mengenai rencana aksi korporasi tertentu terhadap BCA. Hal ini seiring kabar di media sosial soal pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau dikenal sebagai Haji Isam meng-akuisisi saham BBCA.

"Menanggapi isu yang beredar di media sosial terkait adanya rencana aksi korporasi tertentu terhadap BCA, dapat kami sampaikan bahwa INFORMASI TERSEBUT TIDAK BENAR,” ujar EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F.Haryn dikutip dari keterangan resmi, Jumat, (25/9/2026).

Hera mengimbau nasabah dan masyarakat untuk mengakses informasi dari sumber-sumber yang resmi, baik dari situs resmi perusahaan dan outlet media yang kredibel.

“BCA senantiasa beroperasi berdasarkan prinsip kehati-hatian, berintegritas, dan sesuai regulasi yang berlaku,” kata Hera.

Apabila nasabah memiliki pertanyaan lebih lanjut, dapat menghubungi contact center Halo BCA melalui 1500888 atau aplikasi haloBCA, WA Bank BCA 08111500998, X (Twitter) @HaloBCA, webchat www.bca.co.id, atau e-mail melalui halobca@bca.co.id.

Mengutip data RTI, harga saham BBCA ditutup naik 0,40% menjadi Rp 6.250 per saham pada perdagangan saham Jumat, 25 September 2026. Harga saham BBCA dibuka stagnan di Rp 6.225 per saham. Saham BBCA berada di level tertinggi Rp 6.275 dan terendah Rp 6.200 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 16.972 kali dengan volume perdagangan saham 1.072.648 saham. Nilai transaksi harian saham Rp 669 miliar.

BCA Kantongi Laba Rp 29,5 Triliun hingga Juni 2026

Sebelumnya, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp 29,5 triliun pada semester I 2026 atau tumbuh 1,8% secara tahunan (yoy). Kenaikan laba ditopang oleh ekspansi kredit yang untuk pertama kalinya menembus Rp 1.036 triliun, naik 8% yoy.

Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, pendapatan operasional BCA meningkat 2,2% yoy menjadi Rp 55,8 triliun. Pendapatan bunga bersih tercatat Rp 42,4 triliun, turun 0,6% yoy, sementara pendapatan nonbunga naik 11% yoy menjadi Rp 13,2 triliun.

Presiden Direktur BCA Hendra Lembong mengatakan, pertumbuhan kredit didorong oleh penyaluran pembiayaan yang tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta didukung kondisi likuiditas yang kuat.

"BCA dan entitas anak menjaga penyaluran kredit secara prudent ke berbagai sektor sejalan dengan komitmen perusahaan mendukung perekonomian nasional,” ujar Hendra dalam konferensi pers disiarkan daring, Selasa (28/7/2026).

 

DPK BCA

Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) naik 7,9% yoy menjadi Rp 1.284 triliun, ditopang pertumbuhan dana murah (CASA) sebesar 10,2% yoy menjadi Rp 1.082 triliun.

Kredit produktif tumbuh 11% yoy menjadi Rp 802 triliun, terdiri atas kredit korporasi yang meningkat 13,6% yoy menjadi Rp 513,4 triliun dan kredit komersial serta UKM yang naik 6,6% yoy menjadi Rp 288,5 triliun.

"Kami memastikan penyaluran kredit BCA dilakukan dengan selalu mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dan kondisi likuiditas perusahaan,” jelasnya. Di sisi pembiayaan berkelanjutan, penyaluran green financing meningkat 19% yoy menjadi Rp 123 triliun. Sementara itu, kualitas aset tetap terjaga dengan rasio loan at risk (LAR) sebesar 4,9% dan non-performing loan (NPL) di level 1,9% per akhir Juni 2026.

"Kinerja BCA pada paruh pertama 2026 ditopang berbagai hal, seperti BCA Expoversary 2026 dan penyaluran kredit produktif ke berbagai sektor,” ucapnya.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6