Liputan6.com, Jakarta - Di tengah dinamika kebudayaan perkotaan, para pelaku seni tari di Jakarta menghadapi tantangan kebertahanan yang semakin kompleks. Kondisi tersebut mendorong Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) memetakan kondisi dan kebutuhan pelaku seni tari melalui Focus Group Discussion (FGD) Survei Pelaku Seni Tari.
FGD bertajuk "Ekologi Kebertahanan: Dana, Ruang, dan Regenerasi dalam Ekosistem Tari Jakarta dan Sekitarnya" tersebut berlangsung di Ruang Akademi Jakarta, Lantai 14, Kompleks Taman Ismail Marzuki, Rabu (23/9/2026).
Kegiatan ini bertujuan memetakan kondisi, kebutuhan, serta tantangan yang dihadapi pelaku seni tari di Jakarta dan sekitarnya, khususnya dalam aspek pendanaan, ketersediaan ruang, dan regenerasi.
Advertisement
Pemetaan tersebut diharapkan dapat menghasilkan basis data dan pengetahuan yang lebih kontekstual mengenai kondisi ekosistem tari di lapangan. Hasilnya juga diharapkan menjadi pijakan dalam menyusun strategi penguatan ekosistem yang melibatkan lintas sektor dan institusi kebudayaan.
Lebih jauh, kegiatan ini diarahkan untuk mengidentifikasi kebutuhan nyata para pelaku tari, mempertemukan perspektif seniman dengan pemangku kepentingan, serta merumuskan strategi dan rekomendasi kebijakan yang dapat mendukung keberlanjutan ekosistem tari.
Dengan demikian, hasil diskusi tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi dapat dikembangkan menjadi pengetahuan bersama dan bahan pertimbangan bagi perencanaan program maupun kebijakan kebudayaan di Jakarta.
Libatkan 43 Peserta
Kegiatan yang berlangsung pukul 08.30-12.00 WIB tersebut dipandu Adinda Nindyachandra sebagai moderator. Diskusi menghadirkan pemantik dari Komite Tari DKJ bersama Tim Peneliti BIMA yang terdiri atas Denta Mandrasela selaku Ketua BIMA dari Universitas Trilogi, Damar Rangga Putra selaku anggota BIMA dari Universitas Trilogi, Subadi selaku anggota BIMA dari Institut Kesenian Jakarta, Ressa Rizky Mutiara Hadi selaku anggota BIMA dari Institut Media Digital Emtek, Dewi Ambarsari selaku anggota BIMA dari Universitas Mercu Buana, serta Agustina Rochyanti selaku anggota BIMA dari Asosiasi Seniman Tari Indonesia (ASETI).
Tim tersebut merupakan tim riset yang terdiri atas kolaborasi dosen dari berbagai perguruan tinggi di Jakarta.
Sebanyak 43 peserta menghadiri diskusi yang mewakili beragam unsur ekosistem tari perkotaan. Di antaranya terdapat perwakilan sanggar dan komunitas dari berbagai wilayah Jakarta, seperti Sanggar Gita Budaya, Sanggar Sekar Malati (Jakarta Utara), Sanggar Sari Tebet Timur, Sanggar Maksima (Jakarta Barat), Sanggar Pratiwi (Jakarta Barat), Sandyakala Art Performance (Jakarta Utara), Divatama Nusantara (Jakarta Pusat), Kirana Budaya (Jakarta Pusat), hingga Komunitas Circle Dance Lab.
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Media Digital Emtek (LPPM IMDE), Cipto Setyobudi, menyampaikan selamat kepada para penerima hibah BIMA. Menurutnya, penelitian tersebut memiliki fokus yang penting karena membahas keberlanjutan seni tari dan berbagai kebutuhan yang dihadapi para pelakunya.
"Selamat kepada pemenang hibah BIMA. Dan ini tidak mudah karena memenangkan bersaing dengan banyak proposal. Terus penelitian ini bagus ya, karena spesifik orang yang masih peduli mengamati tentang budaya atau tari yang perlu kita tanggung jawab bersama untuk melestarikan tapi enggak boleh, kemarin istilahnya menjaga bersama dan secara spesifik sudah dibagi dalam bentuk ruang, dana, kebutuhan kolaborasi gitu ya dengan pihak-pihak ketiga dan binaan dari kementerian," ujar Cipto.
Menurut Cipto, masukan yang muncul dalam forum diskusi akan menjadi bahan penyempurnaan penelitian berikutnya. Penelitian tersebut berlangsung selama dua tahun dan pada tahun berikutnya akan membahas tantangan seni tari dalam menghadapi perkembangan media digital dan kecerdasan buatan (AI).
"Nanti diharapkan karena carry on ya penelitian ini dua tahun, tahun berikutnya membahas bagaimana tari ini menghadapi tantangan dengan media digital dan AI. Jadi itu sih, jadi segala sesuatu intinya dari penelitian ini berdampak dan disempurnakan dengan FGD," katanya.
Diskusi juga diperkaya pandangan sejumlah penanggap dari berbagai latar belakang pemangku kepentingan, yakni Arista Nurbaya selaku Kepala Bidang Pengembangan Kebudayaan Disbud DKI Jakarta, Genoveva Noirury Nostalgia dari Padnecwara, Yessy Hutabarat dari JACC, serta Anindya Krisna dari The Ballet Academy of Indonesia.
Selain itu, para seniman independen dan pengelola sanggar turut berpartisipasi dalam diskusi. Jalannya FGD juga disimak oleh sejumlah observer, yakni Ferry C Nugroho, Madia Patra Ismar, dan Gadis H N Rose.
Seluruh pihak membahas tiga isu utama terkait keberlanjutan seni tari, yakni akses terhadap pendanaan, ketersediaan ruang latihan dan ruang pentas, serta skema regenerasi pelaku seni.
Â
Usung Postchoreography
Sebagai kerangka kerja strategis tahun ini, Komite Tari DKJ mengusung tema "Postchoreography: Membayangkan Kembali Koreografi sebagai Tubuh, Praktik, dan Ekologi".
Gagasan tersebut menawarkan pemahaman bahwa koreografi tidak hanya dipandang sebagai komposisi gerak di atas panggung, tetapi juga sebagai sistem relasi yang melampaui batas disiplin.
Koreografi dimaknai sebagai metode berpikir, cara membangun pengalaman bersama, serta medium produksi pengetahuan yang bernegosiasi dengan ruang kota, teknologi, krisis lingkungan, hingga dinamika sosial perkotaan.
Melalui kerangka tersebut, peran kuratorial dan program Komite Tari diarahkan tidak hanya pada penyelenggaraan pertunjukan, tetapi juga penguatan infrastruktur budaya dan jejaring pengetahuan yang berkelanjutan.
Hasil FGD Akan Dikembangkan Menjadi RekomendasiHasil rumusan FGD akan dikembangkan lebih lanjut menjadi rekomendasi kebijakan publik bagi keberlanjutan ekosistem tari di DKI Jakarta dan sekitarnya.
Untuk memperkuat arsip dan dokumentasi seni pertunjukan, temuan lapangan, data hasil survei, serta ulasan dari para observer akan dirangkum dan dipublikasikan secara komprehensif.
Publik, praktisi, maupun perumus kebijakan dapat mengakses hasil kajian tersebut melalui platform Telisik Tari.
Langkah pendokumentasian tersebut menjadi bagian dari upaya Komite Tari DKJ membangun basis pengetahuan seni tari yang terdokumentasi dan dapat dimanfaatkan sebagai pijakan riset maupun pengembangan kegiatan kebudayaan pada masa mendatang.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358245/original/052346800_1790327542-HOAX__24_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358342/original/058812500_1790333709-cek_fakta_-_bantuan_bibit_ayam_facebook.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316388/original/075760100_1785924799-cek_fakta_-_cpns_kementerian_imigrasi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317863/original/052285500_1786075641-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-07T110613.668.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358412/original/045443400_1790339581-WhatsApp_Image_2026-09-25_at_7.08.34_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358530/original/092817600_1790359243-WhatsApp_Image_2026-09-25_at_9.24.59_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357654/original/010090000_1790271446-1000443129.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356800/original/077671500_1790221190-WhatsApp_Image_2026-09-24_at_09.33.18.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332646/original/012342700_1787713788-e321c65d-e224-4b30-b5f9-c7dc77968345.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3940632/original/006857000_1645419592-caterpillar_6020b_equipina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355283/original/019472000_1790097211-WhatsApp_Image_2026-09-23_at_00.04.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350795/original/061905200_1789630521-ChatGPT_Image_17_Sep_2026__14.15.53.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4647050/original/096680300_1699881296-Tempat_Sampah.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347871/original/082698900_1789371708-ChatGPT_Image_14_Sep_2026__14.36.52.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352169/original/056693800_1789732852-Foto_1_credit_WWF-Indonesia_Ilham_Andriansyah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346285/original/094214300_1789120119-file_0000000047f882308af83e40b22f096a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1176605/original/028391000_1458444646-20160319-Earth-Hour-di-kawasan-Bundaran-HI-Fanani-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9319559/original/058499600_1786258996-WhatsApp_Image_2026-08-09_at_13.53.21.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782665/original/040283200_1782893927-0L5A0896.jpg)