Sukses

Negara Mana yang Gemar Tenggak Minuman Manis?

Negara berpenghasilan menengah cenderung minum minuman manis seperti soda, es teh.

Liputan6.com, Jakarta Coba ingat, sudah konusumsi minuman manis belum hari ini? Sebagian dari kita tentu akan menjawab iya, karena hal ini umum terjadi pada banyak orang. Kopi, susu, jus buah, jus buah dalam kemasan, minuman soda adalah contohnya.

Dalam Jurnal PLOS One, ada sebuah penelitian yang mengungkapkan secara global bahwa memang banyak orang yang mengonsumsi minuman manis. Hal ini dikaitkan secara geografis, demografi, pendapatan, dan gender.

Studi ini dilakukan asisten profesor dari Tufts University Friedman School of Nutrition Science and Policy, Gitanjali Singh. Singh membagi minuman manis dalam tiga kategori: Sugar Sweetened Beverage (SSB), jus buah, dan susu.

SSB adalah minuman yang mengandung paling tidak 50 kalori gula dalam 8 ons setiap porsinya. Misal minuman soda, minuman berenergi, es teh, juga jus buah dalam kemasan. Hasilnya, konsumsi jus buah akan semakin tinggi bila pendapatan negara tinggi. Pada penelitian ini, Selandia Baru menduduki puncak daftar dan Eritrea terendah konsumsi jus buah.

Hal sama pun terjadi pada tingkat konsumsi susu. Semakin kaya negara Anda, semakin tinggi konsumsi susu. Swedia dan Islandia merupakan tinggi tingkat konsumsi susu, sekitar 1,6 porsi sehari. Sementara Finlandia 1,3 prosi sehari.

Lalu, negara mana yang paling banyak minum minuman manis kategori SSB? Ternyata hal ini terjadi di negara-negara dengan penghasilan menengah. Seperti Karibia, Trinidad dan Tobago.

"Konsumsi SSB lebih tinggi di negara-negara penghasilan menengah, tapi lebih rendah di negara berpenghasilan rendah dan tinggi," terang Singh dikutip laman Time, Jumat (7/8/2015).

Penelitian tentang minuman manis ini dirasa Singh dan rekan penting dilakukan. Mengingat sebuah studi di Jurnal Circulation mengungkapkan sekitar 184.000 kematian akibat minuman manis yakni yang masuk golongan SSB yan sebenarnya bisa dicegah.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.