Studi Ungkap Alasan Cuaca Panas Ekstrem Bikin Pesawat Sulit Lepas Landas

Kenaikan suhu bisa menjadi faktor jadwal keberangkatan pesawat tertunda.

Diterbitkan 06 Agustus 2026, 19:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington D.C - Para penumpang maskapai penerbangan sudah tahu bahwa penerbangan bisa mengalami penundaan jika perkiraan cuaca berkata akan terjadi badai petir, salju lebat, atau angin kencang. Tanda-tanda ini kurang terlihat jelas pada hari musim panas yang terik dan langit cerah.

Namun, cuaca panas eksrem mampu mengganggu penerbangan dan rencana perjalanan. Di hari-hari terpanas, udara yang lebih tipis dapat mempersulit pesawat untuk lepas landas dengan aman. Maskapai penerbangan mungkin harus mengurangi muatan dengan menurunkan jumlah penumpang atau kargo, atau bahkan harus membawa lebih sedikit bahan bakar.

Dikutip dari AP News, Kamis (6/8/2026), lantaran gelombang panas yang menghantam AS dan Eropa pada musim panas kali ini, penerbangan di Las Vegas menunjukkan bahwa panas ekstrem bisa mengganggu perjalanan udara. 

Maskapai American Airline menawarkan kompensasi kepada penumpang yang secara sukarela membatalkan perjalanan mereka di penerbangan tanggal 24 Juli dari Bandara Internasional Harry Reid ketika suhu mencapai 47 derajat Celsius.

Maskapai tersebut menjelaskan bahwa mengurangi bobot pesawat sebagai standar praktik industri untuk tujuan dengan cuaca panas. Ini dilakukan saat kondisi mengharuskannya untuk memastikan lepas landas yang aman. Penjelasan ini berakar pada hukum fisika.

Udara panas lebih tipis daripada udara dingin, yang membuat sayap pesawat lebih sulit menghasilkan daya angkat dan mesin jet sulit menghasilkan daya dorong yang diperlukan untuk lepas landas, jelas mantan kapten United Airlines dan CEO dari Aero Consulting Experts, Ross Aimer.

“Ada ilmu ilmiah di balik semua ini,” tutur Aimer. “Kita tak bisa menyangkal ilmu penerbangan dan apa saja yang diperlukan agar sebuah pesawat bisa beroperasi.”

Aimer menggambarkan dampak suhu tinggi terhadap kinerja pesawat terbang seperti atlet yang bertanding di ketinggian. Selama Piala Dunia tahun ini, tim-tim asing yang bertanding di Kota Meksiko, sekitar 2,225 meter di atas permukaan laut, harus menghadapi udara yang lebih tipis, yang dapat membuat para pemain lebih cepat kelelahan. “Layaknya manusia, mesin jet membutuhkan banyak udara dingin dan padat agar dapat bekerja dengan baik,” jelas Aimer.

Sebelum setiap keberangkatan, pilot dan maskapai menentukan apakah sebuah pesawat dapat lepas landas dengan aman dengan menghitung beberapa faktor kunci, termasuk berat pesawat, ketinggian bandara, dan suhu luar, kata seorang kapten pensiunan Delta Airlines, Alan Price.

Pesawat yang berada di ketinggian yang lebih tinggi sudah beroperasi di udara yang lebih tipis, sehingga suhu tidak perlu naik terlalu tinggi untuk memengaruhi kinerja lepas landas. Denver misalnya, terletak lebih dari 1,524 meter di atas permukaan laut.

Selain itu, panjang landasan pacu juga faktor penting. Pesawat komersial membutuhkan ruang untuk mencapai kecepatan yang cukup saat lepas landas ketika suhu melonjak, sedangkan landasan pacu yang lebih pendek menyisakan jarak yang lebih sedikit untuk melakukannya, ucap Price. Itulah salah satu alasan kenapa bandara seperti LaGuardia di New York dan Reagan National di Washington cenderung menghadapi pembatasan lepas landas atau batas berat saat cuaca panas.

Apabila perhitungan sebelum penerbangan yang dilakukan pilot menunjukkan bahwa pesawat tidak dapat lepas landas dengan aman sesuai rencana, maskapai mungkin memilih untuk mengurangi muatan kargo, membawa lebih sedikit bahan bakar, dan singgah untuk mengisi bahan bakar, menunggu suhu menjadi lebih sejuk, atau meminta penumpang untuk secara sukarela pindah ke penerbangan berikutnya.

Namun, ada saatnya di mana mengurangi bobot saja tidak cukup untuk memastikan lepas landas yang aman. “Pada titik tertentu, perhitungannya jadi tidak masuk akal,” ujar Aimer. “Pesawat bisa melaju di landasan pacu selama mungkin tapi tetap saja tidak bisa lepas landas.”

 

Delay Karena Cuaca Panas Menjadi Sering

Administrasi Penerbangan Federal (FAA) tidak menetapkan batas suhu maksimum tunggal untuk lepas landas. Sebaliknya, menurut FAA, batas operasional bervariasi tergantung pada merek dan model pesawat, bobotnya, dan ketinggian bandara.

Sebuah studi di tahun 2017 oleh para peneliti dari Universitas Columbia, Institut Studi Luar Angkasa Goddard milik NASA, dan Institut Manajemen Logistik memperkirakan bahwa beberapa bandara mungkin akan menghadapi pembatasan berat pada 10-30 persen penerbangann yang berangkat pada jam-jam terpanas dalam sehari pada pertengahan abad ini jika emisi gas rumah kaca terus meningkat. Penelitian tersebut mengkaji 19 bandara di seluruh dunia dan menemukan bahwa bandara dengan landasan pacu pendek, ketinggian yang tinggi, dan iklim yang lebih panas akan paling terdampak.

Sebuah studi terbaru menyimpulkan bahwa model prediksi iklim saat ini menunjukkan bahwa pesawat yang lepas landas dari empat bandara di Eropa harus mengurangi bobot setara dengan 10 penumpang per penerbangan pada tahun 2065.

Walaupun suhu tiga digit adalah bagian dari kehidupan di gurun, hari-hari panas yang berpotensi memengaruhi penerabangan kini semakin sering terjadi baik di Phoenix ataupun Las Vegas.

Bandara Internasional Phoenix Sky Harbor mencatat rata-rata 43 hari setiap tahun sejak 2020 di mana suhu mencapai setidaknya 43 derajat Celsius, menurut analisis data stasiun cuaca yang dilakukan oleh The Associated Press. Jumlah hari seperti itu meningkat secara bertahap selama beberapa dekade sebelum melonjak pada tahun 2020-an hingga lebih dari tiga kali lipat rata-rata pada pertengahan abad lalu.

Kini, rata-rata jumlah hari di Phoenix yang mencapai 43,3 derajat Celcius, lebih dari tiga kali lipat dibandingkan pada pertengahan abad ke-20.

Di Bandara Internasional Harry Reid Las Vegas, suhu mencapai ambang batas tersebut rata-rata sekitar 18 hari per tahun antara 2020-2025, lebih dari dua kali lipat rata-rata tahunan selama tahun 1940-1960-an, hasil dari temuan analisis AP.

Dalam dekade 2020-an juga tercatat sangat panas di Bandara Internasional Palm Springs. Bandara yang terletak di California Selatan ini mencatat rata-rata tahunan selama dekade ini sebanyak 55 hari dengan suhu mencapai 37,7 derajat Celsius. Angka ini meningkat 83 persen dibandingkan dengan dekade 2000-an, saat stasiun cuaca di sana mulai mencatat data.

Maskapai penerbangan telah menghadapi masalah-masalah ini selama bertahun-tahun.Selama periode cuaca panas terik pada Juni 2016, maskapai American membatalkan beberapa penerbangan regional pulang-pergi antara Palm Springs, California, dan Phoenix. Tahun berikutnya, maskapai tersebut membatalkan puluhan penerbangan regional di Arizona saat suhu Phoenix naik mendekati 49 Celsius

Pada Juli 2018, beberapa maskapai memindahkan penumpang di Bandara Internasional Denver ke penerbangan berikutnya saat suhu mencapai 37 Celsius seperti yang dilaporkan oleh KDVR-TV Denver.

Maskapai Delta Airlines juga meminta penumpang yang sukarela untuk turun dari pesawat di Las Vegas selama peringatan panas berlebihan pada Juli 2023 karena batasan berat yang terkait dengan suhu ekstrem. Penerbangan tersebut akhirnya dibatalkan setelah para penumpang menghabiskan berjam-jam di dalam pesawat di tengah cuaca panas.

Bandara dapat sangat rentan terhadap efek pulau panas perkotaan, yaitu fenomena di mana kawasan perkotaan menjadi lebih panas daripada daerah sekitarnya, tutur seorang ilmuwan data di Climate Central, Jennifer Brady.

Dengan sedikitnya tempat teduh atau ruang hijau, hamparan luas permukaan jalan yang menyerap panas, dan juga aktivitas terus-menerus dari pesawat terbang, kendaraan darat, dan sistem pendingin udara yang menghasilkan panas sisa, “semua faktor yang menjadikannya salah satu lokasi terpanas di kota ada di sana,” jelas brady.