Liputan6.com, Ottawa - Para peneliti telah mengidentifikasi empat awak kapal tambahan dari Ekspedisi Arktik Sir John Franklin tahun 1845 yang berakhir tragis, termasuk seorang pria yang identitasnya telah menjadi bahan perdebatan selama lebih dari satu abad lewat DNA.
Dikutip dari Science Daily, Selasa (15/9/2026), para ahli antropologi dari Fakultas Seni Universitas Waterloo memimpin penelitian ini dengan menggunakan DNA yang diambil dari sisa-sisa kerangka dan membandingkannya dengan sampel yang tersedia oleh keturunan yang masih hidup. Keempat kecocokan baru ini meningkatkan jumlah awak kapal Ekspedisi Franklin yang teridentifikasi melalui DNA menjadi enam orang.
Pada April 1848, dua kapal Franklin, Erebus dan Terror terjebak dalam es laut Arktik selama hampir dua tahun. Sebanyak 105 awak yang selamat meninggalkan kapal-kapal tersebut dan mulai berupaya dengan susah payah untuk mencari tempat yang aman.
Advertisement
Mereka menempuh perjalanan di sepanjang pantai barat Pulau King William, Nunavut, Kanada, sembari menarik perahu-perahu di atas kereta luncur.
Sejak pertengahan abad ke-19, sisa-sisa dari jasad para anggota ekspedisi tersebut sudah ditemukan di Pulau King William dan Semenanjung Adelaide.
Hasil identifikasi DNA terbaru memberikan pengetahuan baru tentang apa yang terjadi pada tahap-tahap akhir ekspedisi tersebut, sekaligus mengungkap misteri berusia 166 tahun tentang identitas seorang pelaut.
"Tiga awak yang sudah kami identifikasi berasal dari kapal Erebus, dan mereka semua tewas di Teluk Erebus. Yang keempat, satu-satunya awak dari kapal Terror yang teridentifikasi secara pasti lewat analisa DNA, ditemukan di lokasi yang berjarak 130 kilometer," ucap profesor antropologi paruh waktu di Universitas Waterloo, Dr. Douglas Stenton.
Misteri Jasad yang Ditemukan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346069/original/074329900_1789108423-annie-spratt-RkuRHfcTNGY-unsplash.jpg)
Pelaut yang ditemukan jauh dari yang lain diidentifikasi sebagai Harry Peglar, Kapten Foretop di kapal Terror. Identitasnya tidak diketahui sejak 1859, ketika jasad yang ditemukan membawa dokumen pribadi Peglar.
Namun, pakaian yang dipakai oleh jasad tersebut tidak sesuai dengan pangkat Peglar. Hal ini membuat misteri yang bertahan selama beberapa generasi.
"Menarik untuk bisa mengidentifikasi awak kapal ini secara pasti karena bersama jenazahnya, terdapat dokumen tertulis yang bisa dibilang satu-satunya dokumen dari ekspedisi tersebut yang pernah ditemukan," ucap seorang profesor antropologi di Waterloo sekaligus rekan Stenton, Dr. Robert Park.
Dokumen-dokumen tersebut kemudian dikenal sebagai “Peglar Papers (Dokumen Peglar).” Dokumen yang ditemukan bersama sertifikat pelaut Peglar ini berisi puisi dan apa yang terlihat sebagai deskripsi peristiwa-peristiwa yang terjadi selama ekspedisi.
Para peneliti juga mengidentifikasi William Orren pelaut handal, David Young anak buah kelas satu, dan John Bridgens, Pelayan Perwira Bawahan. Identitas mereka mengkonfirmasi bahwa ketiganya selamat selama tiga tahun pertama ekspedisi tersebut dan termasuk di antara awak kapal yang pada akhirnya berusaha melarikan diri dari Arktik setelah meninggalkan kapal-kapal yang terjebak.
Temuan ini adalah kelanjutan dari penelitian DNA sebelumnya yang dilakukan oleh tim peneliti yang sama. Pada tahun 2021, DNA dari seorang keturunan yang masih hidup memungkinkan para peneliti untuk mengidentifikasi John Gregory, seorang insinyur dari kapal Erebus.
Terobosan lainnya terjadi pada 2024, ketika DNA mengidentifikasi James Fitzjames, Kapten kapal Erebus. Bukti dari jasad Fitzjames menunjukkan bahwa badannya pernah menjadi korban kanibalisme. Sebaliknya, sisa-sisa jenazah keempat pelaut yang diidentifikasi dalam penelitian terbaru ini tidak menunjukkan adanya bukti kanibalisme.
"Untuk keturunan-keturunan yang masih hidup, penemuan ini memberikan rincian yang sebelumnya tidak tersedia tentang keadaan dan lokasi kematian kerabat mereka, juga identitas beberapa awak kapal yang tewas bersama mereka," ujar Stenton.
Advertisement
Bukti Kecocokan dengan Para Pendonor Sampel DNA
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257441/original/090257700_1781241854-dna-illustration-julia-koblitz-unsplash.jpg)
Studi ini juga mengungkapkan hubungan yang luar biasa dengan masa kini. Seorang jurnalis BBC News bernama Rich Preston ternyata merupakan salah satu keturunan dari John Bridgens.
"Saya tertarik ketika Dr. Stenton pertama kali menghubungi saya dan bercerita tentang studinya. Ia bertanya apakah saya bersedia untuk memberikan sampel DNA," kata Preston.
“Itu adalah sebuah kejutan yang luar biasa ketika tim mereka memberitahukan bahwa DNA saya cocok dengan salah satu pelaut dalam ekspedisi Franklin yang tragis itu. Saya sempat bekerja di sebuah acara silsilah keluarga di BBC yang menelusuri kisah-kisah keluarga yang menarik. Jadi ketika mengetahui bahwa ada kisah yang sungguh menarik dalam masa lalu keluarga saya sendiri terasa sangat menggembirakan.”
Untuk mengidentifikasi keempat pelaut tersebut, Stephen Fratpietro, salah satu penulis studi dari Lakehead University, mengekstraksi DNA dari sisa-sisa arkeologi tersebut. Lalu, peneliti membandingkan materi genetik dengan DNA mitokondria dan kromosom Y yang keturunan mereka sediakan.
Dalam masing-masing dari empat identifikasi baru tersebut, para peneliti menemukan jarak genetik sebesar nol. Hal ini memberikan bukti kuat bahwa sisa-sisa arkeologi tersebut dan para pendonor DNA yang masih hidup memiliki leluhur yang sama.
DNA dari para keturunan para anggota ekspedisi Franklin menjadi sangat penting untuk mengidentifikasi lebih banyak jenazah korban ekspedisi tersebut juga untuk mengungkap rincian usaha terakhir awak kapal dalam melarikan diri.
Agar memenuhi syarat untuk perbandingan ini, keturunan tersebut harus memiliki catatan silsilah yang menunjukkan garis keturunan langsung dan tidak terputus baik pihak ibu atau ayah.
Para peneliti mendorong keturunan lain dari anggota ekspedisi Franklin untuk menghubungi tim tersebut, karena sampel DNA tambahan dapat membantu mengidentifikasi lebih banyak jasad yang belum teridentifikasi.
Temuan tersebut dilaporkan dalam dua makalah ilmiah. Makalah dengan judul “identifikasi DNA tiga pelaut Ekspedisi Franklin tahun 1845 dari Kapal Erebus” terbit dalam jurnal Journal of Archaeological Science: Reports.
Kemudian, makalah kedua juga disusun oleh penulis yang sama berjudul “Some very hard ground to heave: Identifikasi DNA Harry Peglar, Kapten Foretop, Kapal Terror” terbit di dalam jurnal Pola Record.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5106272/original/077387000_1737601756-Bp2mi1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5411187/original/066520500_1763004762-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-11-13T103028.882.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332312/original/026531200_1787650496-cek_fakta_Abdul_muti_-_bantuan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9348864/original/095264800_1789460894-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-15T152532.773.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346070/original/034534600_1789108530-warren-umoh--qycBqByWIY-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5349953/original/059135700_1757945389-Bapenas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346936/original/048560000_1789222746-WhatsApp_Image_2026-09-12_at_19.50.01.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5010796/original/017006400_1731931573-20241117_084948.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3518881/original/000279300_1627027346-karbon_un.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346407/original/065215400_1789134579-WhatsApp_Image_2026-09-11_at_8.17.12_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343729/original/089297500_1788876170-ChatGPT_Image_8_Sep_2026__20.55.32.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345099/original/099922200_1789018436-WhatsApp_Image_2026-09-09_at_8.12.08_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9344539/original/028876300_1788949127-WhatsApp_Image_2026-09-09_at_15.29.33.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1527841/original/075874300_1488787214-IMG_1488240797111.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343987/original/026376000_1788929980-toraja_2.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343928/original/029365100_1788925942-WhatsApp_Image_2026-09-09_at_09.14.10.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340277/original/096438600_1788499326-ChatGPT_Image_4_Sep_2026__12.19.35.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3083592/original/067902700_1584951285-areca-tree-4754234_1920.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5358045/original/070333900_1758596310-pexels-cottonbro-6940381.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345477/original/092723400_1789034257-Homo_erectus_lantianensis.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2939486/original/097139800_1571115896-school-children-walk-home-along-a-road-in-the-ogikubo-district-of-tokyo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1243687/original/084009200_1464090520-Eiffel02.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2284535/original/099802600_1531925496-SISWA_SMP_9-Muhamad_Ridlo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4220157/original/063778400_1667979349-james-wainscoat-NBEAMs2N47k-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340338/original/063589200_1788502479-priscilla-du-preez-dlxLGIy-2VU-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4210566/original/064918900_1667283991-Brain_Health.jpg)