Baju Sekali Pakai Jadi Tren di China, Harga Mulai Rp 26 Ribu

Baju sekali pakai, tren baru di China dengan harga mulai Rp 26 ribu, memicu perdebatan.

Diterbitkan 07 September 2026, 19:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Beijing - Tren mengenakan baju sekali pakai saat sedang bepergian menjadi populer di kalangan pengguna internet China musim panas ini. Hal ini menuai kritik karena dampaknya terhadap lingkungan.

Dikutip dari South China Morning Post, Senin (7/9/2026), istilah “pakaian sekali pakai” baru-baru ini menjadi viral di media sosial dengan tagar yang meraih penonton sebanyak 6,8 juta dan 135 ribu diskusi di salah satu platform.

Orang-orang membagikan pengalaman mereka menggunakan baju sekali pakai selama liburan mereka, dan menyebutnya sebagai pilihan yang hemat. Seorang pengguna mencatat bahwa ia membeli lima set pakaian untuk perjalanan tujuh hari dengan total pengeluaran tidak lebih dari 200 yuan (Rp 525.000).

Seperti nama dari julukan tersebut, ia tidak berniat untuk menyimpan baju-baju itu setelah perjalanannya selesai.

Sebagian besar baju sekali pakai dirancang untuk menarik perhatian di media sosial, seperti rok panjang berwarna cerah, jubah, dan jaket luar ruangan yang dianggap tidak cocok untuk dipakai sehari-hari. Seorang pemilik toko pakaian wanita berkata kepada media City Express bahwa tokonya menawarkan berbagai gaya pakaian yang disesuaikan dengan berbagai kesempatan.

Contohnya, ia menyediakan rok-rok cantik saat difoto untuk perjalanan di tepi pantai di bulan Mei, baju tradisional hanfu untuk Festival Perahu Naga, dan rok eksotis untuk turis yang ingin berkunjung ke Xinjiang.

Sang pemilik toko mengungkapkan bahwa ia menjual sekitar 15 ribu barang per bulan, terutama pada pelanggan berumur 18 hingga 30 tahun. Jualannya yang paling laku berharga sekitar 10-50 yuan atau Rp 26.000 hingga Rp 131.000, setara dengan harga makan hemat. Ia menambahkan bahwa walaupun sebagian besar pelanggan tidak kembali, tokonya selalu konsisten menarik pelanggan baru.

Beberapa orang langsung membuang pakaian tersebut setelah mereka pulang dari perjalanan, tapi ada juga yang menjual kembali baju-baju tersebut di platform belanja online

Kritik dari Ahli dan Masyarakat

Meskipun sebagian menganggap tren ini sebagai pilihan yang hemat, baju sekali pakai menuai kritik karena berkontribusi pada penumpukan sampah dan potensi masalah kesehatan.

"Pakaian sekali pakai memang murah, tapi tetap saja harus melalui semua tahapan produksi, transportasi, dan penjualan. Semakin banyak yang dibuang, semakin banyak sampah yang dihasilkan," tutur seorang pengguna.

Menurut Program Lingkungan Hidup PBB (UNEP), sebanyak 92 ton limbah tekstil dihasilkan secara global. Tingkat produksinya meningkat sementara masa pakai tekstil berkurang sebesar 36 persen antara tahun 2000 dan 2015.

Terlebih lagi, hanya delapan persen serat tekstil yang berasal dari bahan daur ulang, dan pakaian juga tekstil menyumbang 11 persen dari total sampah plastik.

Baju sekali pakai yang murah ini sering dibuat dari plastik, sehingga memperparah masalah sampah. Selain itu, baju sekali pakai yang terbuat dari bahan berkualitas rendah juga menimbulkan risiko kesehatan.

Seorang profesor sekaligus direktur Pusat Penelitian Industri Budaya di Universitas Sichuan berkata kepada Vista bahwa baju sekali pakai yang dijual di situs barang bekas juga mungkin menimbulkan masalah kebersihan.

"Yang penting itu bagus saat difoto. Baju sekali pakai itu hanya ada untuk difoto. Kenapa orang-orang tidak bisa hanya menikmati pemandangan selama perjalanan mereka?" tulis seorang pengamat di media sosial.