Menkeu AS: China Keberatan Soal Ekspor Murah Tak Berkelanjutan

Menkeu AS Scott Bessen menuturkan, China, satu-satunya anggota G20 tidak setuju soal ekspor murah yang terus menerus merupakan hal yang tidak berkelanjutan.

Diterbitkan 02 September 2026, 16:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan Amerika Serikat (Menkeu AS), Scott Bessent menuturkan, China adalah satu-satunya anggota G20 yang tidak menyetujui pernyataan bersama yang menyatakan arus ekspor murah yang terus-menerus dari ekonomi non-pasar merupakan hal yang tidak berkelanjutan.

"Anggota G20 lainnya akan mengambil tindakan dalam beberapa hari, minggu, atau bulan mendatang untuk mencapai penyelesaian atas ketidakseimbangan yang tidak berkelanjutan,” ujar Bessent, dikutip dari CNBC, Rabu (2/9/2026).

Pernyataan yang dirilis kemudian pada Selasa pekan ini oleh Departemen Keuangan Amerika Serikat itu memuat catatan kaki yang merinci keberatan China terhadap sebuah paragraf di mana 19 anggota sepakat kalau negara-negara harus mengambil langkah-langkah untuk menghapuskan kebijakan dan praktik nonpasar yang memperparah ketidakseimbangan.

"Secara khusus, negara-negara dengan surplus eksternal yang berlebihan dan terus-menerus harus menghapus distorsi yang menghambat konsumsi domestik dan menyebabkan ketergantungan berlebih pada ekspor untuk pertumbuhan," bunyi paragraf tersebut.

Departemen Keuangan menyatakan China juga keberatan dengan paragraf yang mengungkapkan kekhawatiran mengenai gangguan pelayaran yang terus berlanjut di Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak yang secara efektif telah diblokir oleh Iran di tengah konflik dengan AS.

China juga menentang paragraf yang memuji "pengawasan ketidakseimbangan global" oleh Dana Moneter Internasional (IMF) serta paragraf yang secara khusus menyoroti "negara-negara yang memiliki utang luar negeri dalam jumlah signifikan kepada anggota G20."

Kedutaan Besar China di AS tidak segera menanggapi permintaan komentar dari CNBC terkait pernyataan Bessent mengenai komunike bersama tersebut.

"Saya berharap dapat mengumumkan komunike bersama yang disepakati secara bulat hari ini," kata Bessent dalam konferensi pers.

Ia juga menekankan, kesepakatan dari 19 anggota lainnya "menunjukkan betapa besarnya masalah ini."

Pernyataan ini muncul saat Bessent memimpin rencana pemerintahan Trump untuk melumpuhkan ekonomi Iran dengan mengancam mitra bisnisnya melalui sanksi sekunder, sebuah langkah yang dijuluki "Operasi Economic Outcast" (Pengucilan Ekonomi).

 

AS Bidik China?

Upaya ini memunculkan pertanyaan apakah AS akan menargetkan China, yang merupakan mitra dagang utama sekaligus pembeli minyak terbesar Iran dengan selisih yang sangat jauh. AS saat ini menjalani perundingan perdagangan jangka panjang dengan Beijing, dan Presiden China Xi Jinping dijadwalkan akan mengunjungi AS pada akhir September.

"Terkait isu Iran, kita memiliki lebih banyak kesamaan daripada perbedaan dengan China," ujar Bessent pada Selasa.

"China sepakat bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. China sepakat bahwa harus ada perdagangan maritim yang bebas di Selat Hormuz. Tiongkok memperoleh 50% pasokan energinya dari kawasan Teluk," kata dia.

"Jadi, menurut saya, China-lah yang memegang peran atau memiliki tanggung jawab untuk mengupayakan solusi," Bessent menambahkan.

"Kita lihat saja bagaimana langkah tindak lanjut mereka,” ujar dia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6