China Gelontorkan Rp 947 Triliun ke Bank dan Perusahaan Asuransi

Langkah China menyuntikkan dana ke sejumlah bank dan asuransi dapat menjadi sumber daya bagi lembaga keuangan untuk menyalurkan kredit.

Diterbitkan 07 September 2026, 10:14 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - China menyuntikkan dana puluhan miliar dolar Amerika Serikat (AS) untuk delapan bank dan perusahaan asuransi milik negara. Langkah China ini untuk memperkuat sistem keuangan negara serta mendorong ekonomi yang sedang melambat.

Mengutip BBC, Senin, (7/9/2026), Kementerian Keuangan China menyuntikkan dana dengan total 360 miliar yuan atau US$ 53,6 miliar. Nilai itu sekitar Rp 947,16 triliun (asumsi yuan terhadap rupiah di kisaran 2.631), demikian berdasarkan lapora kantor berita negara Xinhua.

Laporan itu menyebutkan, langkah ini akan membantu lebih meningkatkan kemampuan operasional yang sehat, ketahanan terhadap risiko serta kemampuan untuk melayani sektor ekonomi riil.

Langkah ini merupakan upaya terbaru Beijing untuk memulihkan kembali ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut di tengah berbagai tantangan, termasuk ketegangan perdagangan dengan Barat, dampak konflik terkait Iran, dan penuaan populasi.

Paket dana ini akan memperkuat kondisi keuangan tiga bank besar dan lima perusahaan asuransi, termasuk Industrial and Commercial Bank of China, Agricultural Bank of China, dan China Export & Credit Insurance Corporation.

Media pemerintah Global Times menyebutkan, langkah ini akan memberikan lebih banyak sumber daya bagi bank dan lembaga keuangan untuk disalurkan sebagai kredit bagi ekonomi riil, sekaligus memperkuat kemampuan mereka dalam menghadapi guncangan eksternal di tengah ketidakpastian keuangan global".

Presiden Xi Jinping sejak lama memandang stabilitas keuangan sebagai kunci bagi keamanan nasional China.

Pengumuman akhir pekan ini muncul saat Beijing berupaya mengubah struktur ekonominya dalam menghadapi sejumlah tantangan, seperti menyusutnya angkatan kerja serta persaingan perdagangan dan teknologi yang terus berlanjut dengan Amerika Serikat.

 

Pertumbuhan Ekonomi China Melambat

Pertumbuhan ekonomi China melambat tajam antara awal April hingga akhir Juni, karena lemahnya permintaan domestik dan dampak konflik terkait Iran terhadap harga minyak membayangi kinerja ekspor negara tersebut yang kuat.

Data resmi Produk Domestik Bruto (PDB) yang dirilis pada Juli menunjukkan ekonomi China tumbuh sebesar 4,3% pada kuartal kedua, di bawah target tahunan Beijing setelah sebelumnya mencatat kenaikan 5% pada kuartal pertama.

Pada Maret, Beijing memangkas target pertumbuhan ke kisaran 4,5%–5%, yang merupakan target ekspansi ekonomi terendah sejak 1991; sebuah langkah yang menurut sebagian analis memberikan ruang bagi Beijing untuk mengakui kelemahan ekonomi yang sudah ada sebelumnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6