10 Kebiasaan yang Terlihat Boros tapi Ternyata Ciri Orang Cermat Menurut Psikologi

Psikologi ungkap, kebiasaan yang terlihat boros tapi ternyata ciri orang cermat mengelola keuangan dalam hidupnya sehari-hari.

Diterbitkan 07 September 2026, 18:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kebiasaan yang terlihat boros tapi ternyata ciri orang cermat di mata orang lain, seperti menunda belanja atau memakai barang sampai habis benar-benar, ternyata bukan tanda pelit menurut psikologi. Sejumlah pakar keuangan dan psikolog justru menyebut perilaku semacam ini sebagai ciri seseorang yang cermat dan berpikir jangka panjang soal uang, bukan sekadar penghematan asal-asalan.

Banyak orang menilai kebiasaan hemat dari tampilan luar, seolah orang yang cermat selalu terlihat minimalis dan tak pernah mengeluarkan uang untuk hal kecil. Padahal, riset psikologi keuangan menunjukkan sebaliknya. Orang yang benar-benar pandai mengatur uang justru sering melakukan hal-hal yang terkesan merepotkan atau "gitu doang", padahal punya alasan logis di baliknya.

Berikut Liputan6.com merangkum dari berbagai sumber 10 kebiasaan yang kerap dicap boros atau ribet, tapi menurut psikologi justru menandakan seseorang cermat mengelola keuangannya. 

1. Mengecek Harga per Satuan Sebelum Belanja

Kebiasaan berhenti sejenak di rak swalayan untuk membaca label harga per satuan sering dianggap merepotkan. Padahal, menurut ulasan Silicon Canals, kebiasaan ini mencerminkan cara berpikir matematis yang menghindari jebakan pemasaran, sebab kemasan "hemat" atau ukuran besar tidak selalu lebih murah per gramnya.

Orang yang melakukan ini biasanya sadar bahwa harga besar di label depan kerap menipu persepsi. Mereka lebih percaya angka dibanding klaim promosi, sehingga keputusan belanjanya jarang meleset dari anggaran yang sudah disiapkan.

2. Menunda Pembelian yang Diinginkan

Menahan diri untuk tidak langsung membeli barang yang diinginkan sering dikira tanda ragu-ragu atau terlalu perhitungan. Padahal, kebiasaan menunda ini berkaitan dengan kemampuan menahan gratifikasi instan, sebuah keterampilan yang menurut riset psikologi sering ditemukan pada orang dengan kondisi finansial lebih stabil.

Dengan memberi jeda sebelum membeli, seseorang punya waktu memikirkan apakah barang itu benar-benar dibutuhkan atau cuma dorongan sesaat. Kebiasaan sederhana ini pada akhirnya mencegah penyesalan belanja yang sering dialami orang yang selalu memutuskan secara impulsif.

3. Lebih Sering Membayar Tunai daripada Nontunai

Memilih bayar tunai di tengah maraknya pembayaran digital kerap dianggap kuno dan ribet karena harus membawa uang fisik. Namun menurut penjelasan National Debt Relief soal psikologi uang, orang cenderung merasakan "nyeri" saat menyerahkan uang tunai secara langsung, yang justru membuat mereka lebih sadar dan menahan diri saat berbelanja.

Sebaliknya, pembayaran digital menghilangkan sensasi "melihat uang berkurang" sehingga orang lebih mudah lepas kontrol. Kebiasaan pegang uang cash ini, meski terlihat merepotkan, sebenarnya jadi semacam rem otomatis dari pengeluaran berlebihan.

4. Berburu Barang Bekas Berkualitas

Rajin mampir ke rak diskon atau mencari barang preloved sering dianggap pelit, apalagi kalau harus menghabiskan waktu memilah-milah. Tapi menurut YourTango, kebiasaan ini justru menunjukkan seseorang mengutamakan fungsi dan nilai tahan lama barang, bukan sekadar gengsi memiliki yang serba baru.

Mereka yang terbiasa berburu barang bekas berkualitas biasanya tidak keberatan menghabiskan waktu lebih lama demi mendapat barang yang benar-benar sesuai kebutuhan. Bagi mereka, waktu yang dihabiskan untuk memilih sepadan dengan uang yang berhasil dihemat.

5. Memperbaiki Sendiri Barang yang Rusak

Alih-alih langsung membeli baru saat sesuatu rusak, orang cermat lebih memilih mencoba memperbaikinya sendiri, mulai dari alat rumah tangga sederhana sampai perlengkapan mandi yang isinya belum habis. YourTango mencatat bahwa kebiasaan belajar keterampilan perbaikan dasar, seperti mengganti ban atau merawat kendaraan sendiri, adalah pola umum pada orang yang pintar mengatur uang.

Kebiasaan ini kerap dipandang merepotkan karena butuh usaha ekstra dibanding tinggal beli baru. Namun bagi orang yang cermat, proses memperbaiki sendiri justru dianggap investasi keterampilan yang akan terus menghemat pengeluaran di masa depan.

6. Menyisihkan Tabungan di Awal, Bukan di Akhir Bulan

Langsung memisahkan sebagian gaji untuk ditabung begitu uang masuk, sebelum dipakai untuk kebutuhan lain, sering terlihat seperti membuat hidup lebih sulit di awal bulan. Menurut Cottonwood Psychology, kebiasaan yang dikenal dengan istilah "pay yourself first" ini mengubah menabung dari sekadar keinginan menjadi kewajiban rutin.

Dengan pola ini, sisa uang barulah dialokasikan untuk tagihan dan kebutuhan harian. Awalnya terasa ketat, tapi kebiasaan ini membuat uang tambahan seperti bonus atau THR tidak langsung habis begitu saja karena sudah punya arah yang jelas sejak awal.

7. Memilih Gaya Sederhana daripada Mengikuti Tren

Tetap memakai pakaian atau gaya yang itu-itu saja kerap dianggap tidak modis atau bahkan pelit tampil beda. Padahal menurut YourTango dan Cottonwood Psychology, orang yang benar-benar punya kondisi finansial aman justru cenderung tampil sederhana dan menghindari barang yang hanya dipakai untuk pamer status.

Mereka lebih memilih barang dasar berkualitas yang bisa dipakai lama ketimbang mengejar tren yang cepat berganti. Pendekatan ini dikenal sebagai lemari pakaian minimalis, yang pada akhirnya menghemat pengeluaran karena tidak perlu belanja berulang kali.

8. Memakai Barang sampai Benar-Benar Habis

Kebiasaan memotong tube pasta gigi atau sabun yang tinggal sedikit demi mengeluarkan sisa isinya sering dianggap kelewat pelit. Menurut The Broken Wallet, kebiasaan ini sebenarnya mencerminkan kesabaran, sebuah sifat yang jadi pembeda utama antara orang cermat dan orang yang cenderung boros.

Banyak orang buru-buru membuang dan mengganti barang begitu terasa susah dipakai, padahal isinya masih tersisa cukup banyak. Orang yang cermat memilih repot sedikit demi memaksimalkan setiap barang yang sudah dibeli, alih-alih terburu-buru berbelanja lagi.

9. Rutin Mencatat dan Melacak Pengeluaran

Mencatat setiap pengeluaran, sekecil apa pun, kerap dianggap berlebihan dan bikin ribet menjalani hidup. Namun menurut MLC Australia, kebiasaan membuat anggaran dan melacak pengeluaran justru jadi tanda seseorang benar-benar sadar akan kondisi keuangannya sendiri.

Dengan mencatat arus uang secara rutin, seseorang bisa tetap disiplin bahkan ketika penghasilannya naik, alih-alih otomatis menaikkan gaya hidup. Kebiasaan ini membantu menjaga pengeluaran tetap sejalan dengan anggaran yang sudah direncanakan sejak awal.

10. Selalu Bertanya soal Diskon dan Kebijakan Pengembalian

Bertanya "apakah ada diskon kalau bayar tahunan?" atau "bagaimana kebijakan pengembaliannya?" sering membuat orang lain merasa tidak nyaman, seolah terlalu perhitungan. Menurut Cottonwood Psychology, kebiasaan mengajukan pertanyaan semacam ini justru jadi cara sederhana untuk melindungi uang yang sudah dikeluarkan.

Orang yang terbiasa bertanya seperti ini biasanya sudah lebih dulu memahami nilai sebenarnya dari suatu transaksi. Mereka tidak merasa perlu membuktikan apa pun ke orang lain, karena sudah tahu keputusan finansialnya masuk akal bagi diri sendiri.

Tanya Jawab Seputar Kebiasaan yang Terlihat Boros

Apa maksud kebiasaan yang terlihat boros tapi sebenarnya cermat?

Kebiasaan yang sekilas dianggap pelit atau ribet, seperti mengecek harga satuan atau menunda beli barang, ternyata mencerminkan cara berpikir yang matang soal uang menurut psikologi.

Kenapa orang cermat sering dikira pelit?

Karena mereka mempertimbangkan nilai dan daya tahan barang, bukan sekadar mencari yang termurah, sehingga keputusannya kadang terlihat ribet dari luar.

Apakah membeli barang bekas termasuk tanda cermat mengatur uang?

Ya, berburu barang berkualitas secara preloved atau di rak diskon menunjukkan seseorang mengutamakan fungsi dan nilai jangka panjang, bukan gengsi.

Apa hubungan membayar tunai dengan kebiasaan cermat?

Membayar tunai memunculkan rasa kehilangan yang lebih terasa dibanding pembayaran digital, sehingga membantu seseorang lebih sadar dan terkontrol saat belanja.

Apakah mencatat pengeluaran benar-benar membantu keuangan?

Ya, mencatat dan membuat anggaran membuat seseorang lebih sadar arus uangnya, sehingga bisa tetap disiplin bahkan saat penghasilan naik.