Kepribadian Orang yang Suka Mengunyah Permen Karet Saat Stres, Apa Kata Psikologi?

Mengunyah permen karet saat stres bukan tanda kepribadian spesifik, melainkan mekanisme koping proaktif untuk mengurangi ketegangan dan meningkatkan fokus.

Diterbitkan 07 September 2026, 15:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ketika tekanan pekerjaan, tugas, atau situasi tertentu mulai membuat pikiran penuh, sebagian orang memilih mengunyah permen karet untuk membantu dirinya tetap tenang. Kebiasaan sederhana ini menarik jika dilihat dari kepribadian orang yang suka mengunyah permen karet saat stres, karena aktivitas mengunyah bukan hanya memberikan sensasi rasa, tetapi juga melibatkan gerakan tubuh yang berulang.

Di tengah suasana tegang, seseorang mungkin terlihat terus mengunyah sambil tetap bekerja, belajar, atau memikirkan persoalan yang sedang dihadapi. Bagi orang tersebut, permen karet bisa menjadi semacam aktivitas kecil yang membuat tubuh tetap bergerak ketika pikiran sedang sibuk.

Namun, kebiasaan ini sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai tanda kepribadian tertentu. Penelitian mengenai mengunyah lebih banyak menemukan kaitan dengan pengelolaan stres, kewaspadaan, suasana hati, dan perhatian. Dari temuan tersebut, ada beberapa kecenderungan perilaku yang dapat dibahas untuk memahami mengapa sebagian orang memilih mengunyah ketika berada di bawah tekanan. Berikut ulasan Liputan6.com, Senin (7/9/2026).

1. Cenderung mencari cara praktis untuk mengelola ketegangan

Orang yang langsung mengambil permen karet ketika stres mungkin memiliki kecenderungan menggunakan strategi sederhana dan mudah dilakukan untuk menghadapi ketidaknyamanan. Alih-alih menghentikan aktivitas sepenuhnya, ia melakukan sesuatu yang dapat dijalankan bersamaan dengan pekerjaan atau kegiatan lain.

Gerakan mengunyah memberikan aktivitas fisik yang ritmis. Rahang bergerak berulang-ulang, sementara perhatian utama tetap dapat diarahkan pada tugas yang sedang dikerjakan. Dalam konteks ini, permen karet dapat menjadi bentuk coping behavior, bukan karena orang tersebut sengaja memikirkan mekanisme psikologis di baliknya, tetapi karena tubuh menemukan aktivitas yang terasa membantu.

Kubo, Iinuma, dan Chen dalam artikel Mastication as a Stress-Coping Behavior yang diterbitkan di BioMed Research International pada 2015 menjelaskan bahwa mastikasi atau aktivitas mengunyah berhubungan dengan mekanisme respons terhadap stres yang melibatkan sumbu HPA (hypothalamic-pituitary-adrenal) dan sistem saraf otonom. Mereka juga mencatat adanya penelitian pada manusia yang menunjukkan bahwa mengunyah permen karet dalam kondisi stres dapat menurunkan stres mental dan kadar kortisol, meskipun hasil penelitian tidak selalu konsisten.

Karena itu, lebih tepat melihat kebiasaan ini sebagai salah satu cara seseorang mengatur respons terhadap tekanan daripada sebagai bukti bahwa ia memiliki tipe kepribadian tertentu.

2. Memiliki kebutuhan terhadap aktivitas berulang ketika sedang berpikir

Mengunyah merupakan gerakan yang berulang dan relatif otomatis. Karakteristik semacam ini membuatnya mirip dengan kebiasaan kecil lainnya, seperti mengetukkan ujung kaki, memainkan pulpen, atau meremas benda ketika seseorang sedang berpikir.

Aktivitas berulang dapat membuat tubuh terasa lebih sibuk sehingga seseorang tidak hanya berdiam diri ketika menghadapi tekanan. Pada sebagian orang, sensasi tersebut mungkin membantu mengurangi rasa gelisah atau membuat situasi terasa lebih terkendali.

Hal ini menarik ketika membicarakan kepribadian orang yang suka mengunyah permen karet saat stres. Mereka mungkin tampak sebagai orang yang lebih nyaman memiliki aktivitas fisik kecil ketika berkonsentrasi. Namun, hal tersebut tidak berarti mereka pasti lebih gelisah dibandingkan orang yang tidak mengunyah permen karet.

Kebiasaan tersebut bisa saja terbentuk karena pengalaman pribadi. Jika seseorang beberapa kali merasa lebih nyaman setelah mengunyah permen karet ketika menghadapi tekanan, otak dapat mengasosiasikan aktivitas tersebut dengan keadaan yang lebih terkendali. Akhirnya, permen karet menjadi bagian dari rutinitas ketika menghadapi situasi sulit.

3. Cenderung ingin mempertahankan fokus ketika berada dalam tekanan

Ada pula kemungkinan bahwa orang yang mengunyah permen karet saat stres sedang berusaha mempertahankan tingkat kewaspadaannya.

Penelitian mengenai efek mengunyah terhadap fungsi kognitif menemukan adanya hubungan dengan kewaspadaan dan perhatian. Sebuah tinjauan sistematis yang membahas hubungan mengunyah dan perhatian menemukan bahwa dari 22 studi yang ditelaah, sebagian besar menunjukkan atribut positif terhadap perhatian, meskipun hasil keseluruhan tidak sepenuhnya seragam.

Penelitian Andrew P. Smith dan rekan-rekannya juga menjadi salah satu rujukan dalam pembahasan ini. Dalam studi terhadap sukarelawan yang berada dalam kondisi stres maupun tidak stres, mengunyah permen karet dikaitkan dengan peningkatan kewaspadaan dan suasana hati yang lebih positif serta beberapa perbaikan pada perhatian selektif dan berkelanjutan.

Artinya, seseorang yang mengunyah ketika bekerja di bawah tekanan mungkin bukan sedang berusaha menghindari pekerjaannya. Sebaliknya, ia bisa saja merasa bahwa aktivitas tersebut membantunya tetap berada dalam kondisi siap bekerja.

4. Lebih menyukai strategi pengelolaan stres yang tidak terlalu mengganggu aktivitas

Permen karet memiliki keunggulan praktis: seseorang dapat menggunakannya sambil melakukan kegiatan lain. Tidak seperti aktivitas relaksasi yang membutuhkan waktu khusus, mengunyah dapat dilakukan saat membaca, bekerja di depan komputer, atau mengerjakan tugas tertentu.

Karakter seperti ini dapat menggambarkan kecenderungan perilaku yang menyukai solusi sederhana dan tidak membutuhkan perubahan rutinitas secara besar-besaran.

Dalam penelitian Smith dan Woods yang diterbitkan di Appetite pada 2012, sebanyak 72 mahasiswa menjalani periode mengunyah permen karet atau tidak mengunyah permen karet. Hasilnya menunjukkan bahwa persepsi stres menurun seiring dengan jumlah permen karet yang dikunyah. Kondisi mengunyah juga berkaitan dengan berkurangnya laporan bahwa mahasiswa tidak menyelesaikan cukup banyak pekerjaan akademik. Namun, penelitian tersebut tidak menemukan efek signifikan terhadap ukuran kesehatan mental.

Temuan tersebut memberikan gambaran yang lebih hati-hati. Mengunyah mungkin dapat menjadi kebiasaan pendukung ketika seseorang menghadapi tekanan, tetapi tidak seharusnya dianggap sebagai pengganti strategi pengelolaan stres yang lebih menyeluruh.

5. Cukup responsif terhadap pengalaman sensorik

Permen karet memberikan beberapa rangsangan sekaligus: rasa, aroma, tekstur, dan gerakan rahang. Sensasi tersebut mungkin menjadi salah satu alasan mengapa aktivitas mengunyah terasa menyenangkan bagi sebagian orang ketika sedang berada dalam situasi penuh tekanan.

Rasa mint, misalnya, memberikan sensasi segar di mulut. Tekstur kenyal membuat mulut tetap aktif, sementara gerakan mengunyah berlangsung secara berulang. Kombinasi tersebut memberikan rangsangan sensorik sederhana yang dapat mengalihkan perhatian dari rasa tidak nyaman.

Penelitian Scholey dan rekan-rekan pada 2009 secara khusus menguji efek mengunyah permen karet terhadap stres psikologis akut di laboratorium. Penelitian tersebut menemukan bahwa mengunyah permen karet berkaitan dengan berkurangnya suasana hati negatif dan penurunan kortisol dalam kondisi stres akut.

Meski demikian, hasil penelitian mengenai kortisol tidak selalu sama. Studi lain menemukan bahwa mengunyah permen karet tanpa rasa tidak menurunkan kadar kortisol selama tugas kognitif dan justru meningkatkan respons sistem saraf simpatik.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa efek permen karet terhadap stres kemungkinan dipengaruhi oleh situasi, jenis tugas, karakter individu, serta cara penelitian dilakukan.

6. Bisa memiliki kebiasaan self-regulation yang bersifat otomatis

Salah satu cara memahami kebiasaan ini adalah melalui konsep self-regulation, yaitu kemampuan seseorang untuk mengatur respons, perhatian, dan perilakunya ketika menghadapi tuntutan tertentu.

Seseorang yang secara spontan memasukkan permen karet ke mulut ketika mulai merasa tegang mungkin telah membentuk rutinitas regulasi diri. Ia tidak harus secara sadar mengatakan, "Saya sedang stres, jadi saya harus mengunyah." Tubuh dan pikirannya bisa saja sudah menghubungkan situasi tertentu dengan aktivitas tersebut.

Pola seperti ini juga dapat terjadi pada kebiasaan lain. Ada orang yang memilih minum air, berjalan sebentar, menarik napas panjang, mencatat sesuatu, atau memainkan benda kecil ketika pikirannya penuh.

Dengan demikian, kepribadian orang yang suka mengunyah permen karet saat stres tidak bisa disimpulkan hanya dari satu kebiasaan. Yang lebih menarik adalah pola di baliknya: apakah ia menggunakan aktivitas tersebut untuk tetap fokus, menenangkan diri, mengurangi ketegangan, atau sekadar karena sudah terbiasa.

7. Bukan berarti selalu lebih tenang atau lebih tahan stres

Penting untuk menghindari anggapan bahwa orang yang mengunyah permen karet ketika stres pasti memiliki mental lebih kuat. Kebiasaan tersebut mungkin membantu sebagian orang, tetapi tidak otomatis menunjukkan bahwa tingkat stresnya rendah.

Bahkan, penelitian tentang efek permen karet menunjukkan hasil yang beragam. Tinjauan dan eksperimen menemukan manfaat tertentu terhadap kewaspadaan, perhatian, suasana hati, atau persepsi stres, tetapi efeknya tidak selalu muncul pada setiap ukuran psikologis maupun fisiologis.

Karena itu, kebiasaan mengunyah lebih tepat dipandang sebagai salah satu perilaku kecil yang mungkin membantu seseorang menghadapi situasi menekan.

Jika seseorang mengalami stres berkepanjangan, gangguan tidur, kecemasan berat, atau kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari, mengunyah permen karet tentu tidak cukup sebagai solusi. Pengelolaan stres tetap membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh.

8. Lebih tepat disebut sebagai kebiasaan coping daripada "tipe kepribadian"

Pada akhirnya, tidak ada dasar ilmiah yang cukup untuk mengatakan bahwa semua orang yang mengunyah permen karet saat stres memiliki kepribadian yang sama. Kepribadian terbentuk dari banyak aspek, termasuk pola berpikir, emosi, pengalaman, perilaku sosial, dan karakter yang relatif konsisten.

Mengunyah permen karet hanya merupakan satu bentuk perilaku. Namun, perilaku tersebut dapat memberikan gambaran mengenai cara seseorang merespons situasi tertentu.

Ada yang menggunakannya untuk mempertahankan fokus. Ada yang merasa gerakan mengunyah membuatnya lebih rileks. Ada pula yang melakukannya karena sudah terbiasa atau menyukai sensasi rasa dan teksturnya.

Jadi, jika harus menggambarkan kepribadian orang yang suka mengunyah permen karet saat stres, gambaran yang paling aman adalah seseorang yang mungkin memiliki kebiasaan coping berbasis aktivitas fisik sederhana, terutama ketika membutuhkan cara praktis untuk mengelola ketegangan atau mempertahankan kewaspadaan. Bukan berarti ia pasti proaktif, pekerja keras, atau memiliki karakter tertentu secara mutlak.

Tanya Jawab Seputar Mengunyah Permen Karet

1. Apakah mengunyah permen karet benar-benar bisa mengurangi stres?

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa mengunyah permen karet dapat berkaitan dengan penurunan stres yang dirasakan dan, dalam beberapa kondisi, penurunan kadar kortisol. Namun, hasil penelitian tidak selalu konsisten sehingga permen karet tidak dapat dianggap sebagai metode penghilang stres yang pasti efektif untuk semua orang.

2. Mengapa mengunyah permen karet terasa membantu ketika sedang tegang?

Gerakan mengunyah bersifat ritmis dan melibatkan aktivitas fisik yang berulang. Mekanisme tersebut diduga berhubungan dengan respons sistem saraf dan pengaturan respons stres. Selain itu, rasa dan tekstur permen karet dapat memberikan rangsangan sensorik yang membuat sebagian orang merasa lebih nyaman.

3. Apakah mengunyah permen karet dapat meningkatkan konsentrasi?

Beberapa penelitian menemukan kaitan antara mengunyah dan peningkatan kewaspadaan atau aspek tertentu dari perhatian. Namun, efek terhadap fungsi kognitif tidak selalu sama pada setiap penelitian. Jadi, permen karet mungkin membantu sebagian orang tetap waspada, tetapi bukan berarti otomatis meningkatkan konsentrasi semua orang.

4. Apakah orang yang mengunyah permen karet saat stres berarti memiliki kepribadian tertentu?

Tidak selalu. Kebiasaan tersebut tidak cukup untuk menentukan kepribadian seseorang. Lebih tepat jika mengunyah permen karet dipahami sebagai salah satu bentuk perilaku coping atau kebiasaan yang mungkin digunakan seseorang ketika menghadapi tekanan.

5. Apakah aman mengunyah permen karet setiap hari?

Bagi kebanyakan orang, mengunyah permen karet dalam jumlah wajar umumnya dapat dilakukan. Pilihan bebas gula juga lebih baik untuk kesehatan gigi dibandingkan permen karet yang mengandung gula. Namun, mengunyah terlalu lama atau terlalu keras dapat membuat rahang bekerja berlebihan, terutama pada orang yang memiliki masalah pada sendi temporomandibular atau mengalami nyeri rahang.

 

Â