Liputan6.com, Jakarta - Memasuki usia 20an sering menjadi fase pertama ketika seseorang mulai benar-benar berhadapan dengan uang sendiri. Mengelola keuangan di usia 20an bukan hanya soal membatasi pengeluaran, tetapi juga belajar memahami pemasukan, menentukan prioritas, menyiapkan dana darurat, menghindari utang yang tidak perlu, dan mulai memikirkan masa depan.
Bagi sebagian orang, usia 20an diwarnai pekerjaan pertama, pindah dari rumah orang tua, biaya tempat tinggal, cicilan pendidikan, hingga keinginan menikmati hasil kerja. Pendapatan yang belum terlalu besar membuat setiap keputusan finansial terasa penting. Kesalahan kecil yang berulang juga dapat membuat kondisi keuangan semakin sulit dikendalikan.
Karena itu, membangun kebiasaan finansial sejak dini dapat menjadi bekal penting untuk menghadapi tahap kehidupan berikutnya. Tidak perlu menunggu memiliki gaji besar untuk mulai menabung atau berinvestasi. Kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten justru dapat menjadi fondasi untuk mencapai tujuan keuangan dalam jangka panjang. Berikut ulasan Liputan6.com, Selasa (1/9/2026).
Advertisement
1. Kenali kondisi keuangan sebelum membuat rencana
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9314368/original/029734900_1785744425-pexels-karola-g-6329024.jpg)
Langkah pertama dalam mengelola keuangan adalah mengetahui kondisi keuangan secara nyata. Banyak orang merasa uangnya cepat habis, tetapi tidak benar-benar mengetahui ke mana saja uang tersebut pergi.
MoneyHelper menyarankan pembuatan anggaran untuk melihat pemasukan dan pengeluaran secara lebih jelas. Anggaran dapat dibuat mingguan maupun bulanan, terutama bagi mereka yang baru mulai bekerja atau memiliki pemasukan yang tidak selalu sama setiap bulan.
Mulailah dengan mencatat seluruh pemasukan. Setelah itu, kelompokkan pengeluaran menjadi kebutuhan utama dan kebutuhan tambahan. Sewa tempat tinggal, makan, transportasi, tagihan, dan kebutuhan kerja dapat ditempatkan sebagai pengeluaran prioritas. Sementara itu, nongkrong, belanja impulsif, hiburan, atau pembelian barang yang belum dibutuhkan dapat masuk ke kelompok pengeluaran fleksibel.
Pencatatan ini bukan bertujuan membuat seseorang tidak boleh menikmati hasil kerja. Tujuannya adalah mengetahui batas kemampuan finansial sehingga keputusan belanja dibuat secara sadar.
2. Tentukan tujuan keuangan yang jelas
Menabung akan lebih mudah dilakukan ketika seseorang mengetahui alasan di balik kebiasaan tersebut. Georgia Student Finance Commission melalui GAfutures menyarankan anak muda untuk menetapkan tujuan sebelum mulai menabung. Tujuan tersebut dapat berupa dana darurat, membeli kendaraan, biaya pendidikan, liburan, atau kebutuhan masa depan lainnya.
Tujuan juga sebaiknya dibuat berdasarkan jangka waktu. Misalnya, seseorang dapat memiliki target jangka pendek untuk mengumpulkan dana membeli laptop, target menengah untuk pindah tempat tinggal, dan target panjang untuk investasi atau persiapan masa pensiun.
Cara ini membantu mengubah aktivitas menabung dari sesuatu yang terasa seperti pengorbanan menjadi bagian dari rencana hidup. Ketika tujuan sudah jelas, seseorang dapat menentukan berapa banyak uang yang perlu disisihkan setiap bulan.
3. Biasakan membayar diri sendiri terlebih dahulu
Salah satu kebiasaan yang dapat diterapkan sejak usia 20an adalah menyisihkan uang untuk tabungan segera setelah menerima penghasilan. Konsep ini dikenal sebagai pay yourself first.
GAfutures menyarankan agar menabung diperlakukan seperti tagihan bulanan. Artinya, uang untuk tabungan dipisahkan sebelum digunakan untuk pengeluaran yang tidak bersifat wajib.
Dalam praktiknya, jumlah tersebut tidak harus besar. Seseorang dapat memulai dari nominal yang realistis sesuai kemampuan. Ketika pendapatan meningkat, jumlah tabungan dapat dinaikkan secara bertahap.
Kebiasaan ini juga membantu menghindari pola “menabung dari sisa uang”. Jika menunggu hingga akhir bulan, uang yang tersisa belum tentu cukup untuk ditabung. Sebaliknya, menyisihkan uang sejak awal membuat tabungan menjadi bagian dari sistem keuangan, bukan sekadar keputusan yang bergantung pada suasana hati.
Advertisement
4. Bangun dana darurat secara bertahap
Dana darurat merupakan salah satu fondasi penting dalam mengelola keuangan di usia 20an. Kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Perbaikan kendaraan, kehilangan pekerjaan, kebutuhan keluarga, atau pengeluaran mendadak dapat muncul ketika seseorang tidak memiliki persiapan.
GAfutures menyarankan target dana darurat sebesar tiga sampai enam bulan biaya hidup. MoneyHelper juga menggunakan kisaran tiga sampai enam bulan pengeluaran sebagai salah satu panduan untuk membangun cadangan finansial.
Target tersebut tidak perlu langsung dicapai. Bagi seseorang yang baru mulai bekerja, mengumpulkan dana darurat sebesar satu bulan biaya hidup terlebih dahulu sudah dapat menjadi langkah awal. Setelah itu, target dapat ditingkatkan secara bertahap.
Dana darurat sebaiknya dipisahkan dari rekening yang biasa digunakan untuk transaksi harian. Pemisahan ini dapat membantu mengurangi godaan untuk menggunakan dana tersebut untuk kebutuhan konsumtif.
5. Jangan menganggap semua utang sebagai hal yang sama
Utang dapat membantu seseorang memenuhi kebutuhan tertentu, tetapi biaya bunga dan kewajiban pembayaran membuat utang perlu diperhitungkan secara matang.
MoneyHelper menekankan pentingnya memahami keseluruhan biaya sebelum mengambil kredit, termasuk jumlah pembayaran dan jangka waktu pelunasan. Hal tersebut berlaku untuk kartu kredit, pinjaman, maupun layanan Buy Now Pay Later (BNPL).
Sebelum mengambil utang, pertanyaan sederhana yang perlu dijawab adalah: apakah barang atau kebutuhan tersebut memang diperlukan, apakah cicilannya mampu dibayar, dan berapa total biaya yang harus dikeluarkan sampai utang lunas?
Utang dengan bunga tinggi juga perlu menjadi perhatian. MoneyHelper menyarankan agar utang dengan biaya bunga tinggi menjadi prioritas pelunasan karena bunga dapat menghambat kemampuan seseorang untuk menyisihkan uang.
6. Hindari gaya hidup yang meningkat terlalu cepat
Kenaikan gaji sering kali diikuti kenaikan standar hidup. Ketika penghasilan bertambah, seseorang mulai merasa mampu membeli barang yang sebelumnya tidak terjangkau. Masalahnya muncul ketika seluruh kenaikan pendapatan langsung berubah menjadi kenaikan pengeluaran.
Mengelola keuangan bukan berarti harus hidup serba hemat. Prinsip yang lebih realistis adalah memberikan ruang bagi kesenangan tanpa mengorbankan kebutuhan dan tujuan jangka panjang.
Misalnya, ketika memperoleh kenaikan gaji, sebagian tambahan pendapatan dapat dialokasikan untuk meningkatkan tabungan atau investasi. Sebagian lainnya tetap dapat digunakan untuk menikmati hasil kerja. Dengan cara ini, kualitas hidup dapat meningkat tanpa membuat kondisi keuangan kembali rapuh.
7. Mulai berinvestasi setelah memahami risikonya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333860/original/049381700_1787809992-financial-income-economic-diagram-money-concept.jpg)
Usia 20an sering disebut sebagai waktu yang baik untuk mulai mengenal investasi karena seseorang memiliki horizon waktu yang panjang. GAfutures menekankan bahwa investasi dapat dimulai dengan jumlah kecil dan dilakukan untuk jangka panjang. Lembaga tersebut juga menyarankan diversifikasi dan pemahaman terhadap risiko sebelum seseorang menempatkan uangnya pada instrumen investasi.
Namun, investasi bukan pengganti dana darurat. Uang yang mungkin segera dibutuhkan sebaiknya tidak ditempatkan pada instrumen yang nilainya dapat berfluktuasi.
MoneyHelper juga mengingatkan anak muda agar berhati-hati sebelum memasukkan uang ke investasi, terutama ketika memilih cryptocurrency atau saham individual, serta memastikan risiko investasi benar-benar dipahami.
Pandangan serupa muncul dalam laporan The Guardian pada Juni 2026. Sejumlah pakar keuangan yang diwawancarai mendorong masyarakat untuk mulai berinvestasi sedini mungkin, bahkan dengan jumlah kecil, serta mempertimbangkan instrumen yang terdiversifikasi dan berorientasi jangka panjang.
Hal terpenting bukan mengejar keuntungan tercepat, melainkan memahami instrumen yang dipilih dan menyesuaikannya dengan tujuan serta toleransi risiko.
8. Mulai memikirkan masa pensiun sejak muda
Pensiun mungkin terasa sangat jauh ketika seseorang baru berusia 20an. Namun, justru karena masih jauh, persiapannya dapat dilakukan secara bertahap.
MoneyHelper menyarankan pekerja muda untuk mulai memikirkan tabungan pensiun sejak mulai memperoleh penghasilan.
Sementara itu, para pakar yang dikutip The Guardian menekankan pentingnya membayangkan seperti apa kehidupan finansial yang diinginkan pada masa depan. Membayangkan kondisi “cukup” atau tujuan finansial pribadi dapat membantu seseorang menentukan berapa banyak uang yang perlu disiapkan.
Bagi pekerja di Indonesia, bentuk instrumen pensiun tentu berbeda dengan sistem yang digunakan di Amerika Serikat atau Inggris. Karena itu, prinsip dari sumber-sumber tersebut lebih tepat dipahami sebagai kebiasaan finansial umum: semakin awal seseorang mempersiapkan masa depan, semakin panjang waktu yang tersedia untuk membangun aset.
9. Jangan malu bernegosiasi dan mencari bantuan
Mengelola keuangan tidak selalu berarti menemukan cara untuk memangkas pengeluaran. Dalam kondisi tertentu, meningkatkan pendapatan atau mengurangi beban pembayaran juga sama pentingnya.
Laporan The Guardian menyoroti saran pakar keuangan untuk berani bernegosiasi mengenai utang atau biaya tertentu.
Prinsip tersebut dapat diterapkan secara lebih luas. Seseorang dapat mengevaluasi kembali biaya langganan, mencari alternatif layanan yang lebih sesuai, atau membicarakan opsi pembayaran ketika menghadapi kesulitan finansial.
Jika masalah utang sudah mulai mengganggu pembayaran kebutuhan pokok, jangan menunggu sampai kondisinya semakin berat. MoneyHelper menyarankan agar seseorang mencari bantuan sedini mungkin ketika mulai kesulitan membayar tagihan atau kewajiban kredit.
Advertisement
10. Beri ruang untuk kesehatan mental dan kehidupan sosial
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9314369/original/086304700_1785744426-pexels-ahsanjaya-8719575.jpg)
Keuangan yang sehat bukan berarti setiap rupiah harus diarahkan untuk tabungan. Kehidupan di usia 20an juga membutuhkan ruang untuk bersosialisasi, beristirahat, belajar, dan menikmati pengalaman.
The Guardian bahkan mengangkat pentingnya kesehatan mental sebagai bagian dari kondisi finansial yang sehat. Salah satu pakar yang diwawancarai menilai bahwa kesehatan mental dapat berkaitan dengan kemampuan seseorang menjalankan fungsi pengelolaan keuangan sehari-hari.
Prinsipnya adalah membuat anggaran yang realistis. Jika seluruh anggaran hanya berisi kebutuhan wajib dan tabungan, rencana tersebut mungkin sulit dipertahankan. Menyediakan pos hiburan atau kesenangan dalam batas kemampuan justru dapat membuat kebiasaan finansial lebih berkelanjutan.
11. Lakukan evaluasi keuangan secara rutin
Kondisi keuangan pada usia 22 tahun belum tentu sama ketika seseorang berusia 27 atau 29 tahun. Penghasilan dapat berubah, biaya tempat tinggal meningkat, keluarga bertambah, atau tujuan hidup bergeser.
Karena itu, anggaran perlu dievaluasi secara berkala. Periksa kembali jumlah tabungan, utang, pengeluaran rutin, investasi, dan tujuan finansial. Jika pendapatan meningkat, pertimbangkan untuk meningkatkan porsi tabungan. Jika pendapatan menurun, sesuaikan pengeluaran sebelum kondisi menjadi lebih berat.
MoneyHelper menekankan pentingnya memahami kondisi keuangan saat ini dan membuat rencana jangka panjang yang sesuai dengan kebutuhan masa depan.
Pada akhirnya, mengelola keuangan di usia 20an bukan tentang menjadi sempurna. Tujuan utamanya adalah membangun sistem yang membuat uang lebih mudah dikendalikan. Mulai dari mencatat pengeluaran, menetapkan tujuan, menabung secara rutin, membangun dana darurat, berhati-hati dengan utang, hingga mengenal investasi secara bertahap.
Kebiasaan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi konsistensi menjadi bagian terpenting. GAfutures menekankan bahwa memulai lebih awal, bersabar, dan mengambil keputusan yang cermat dapat membantu membangun fondasi keuangan yang lebih kuat.
Tanya Jawab Seputar Mengelola Keuangan di Usia 20an
1. Berapa persen gaji yang sebaiknya ditabung pada usia 20an?
Tidak ada satu persentase yang cocok untuk semua orang. Jumlah tabungan sebaiknya disesuaikan dengan pendapatan, biaya hidup, utang, dan tujuan finansial. Jika belum mampu menabung dalam jumlah besar, mulai dari nominal yang realistis dan tingkatkan secara bertahap.
2. Mana yang harus didahulukan, menabung atau melunasi utang?
Keduanya penting, tetapi utang dengan bunga tinggi perlu mendapat perhatian khusus. MoneyHelper menyarankan mempertimbangkan pelunasan utang berbunga tinggi sambil tetap memiliki cadangan untuk keadaan darurat.
3. Apakah usia 20an sudah perlu mulai investasi?
Bisa, selama kondisi keuangan dasar sudah cukup tertata dan seseorang memahami risiko instrumen yang dipilih. Investasi tidak harus dimulai dengan jumlah besar. GAfutures menyarankan memulai dari jumlah kecil, melakukan diversifikasi, dan berorientasi jangka panjang.
4. Berapa jumlah dana darurat yang ideal?
GAfutures dan MoneyHelper sama-sama menggunakan kisaran tiga sampai enam bulan biaya hidup sebagai panduan. Namun, target tersebut dapat dibangun secara bertahap sesuai kondisi masing-masing orang.
5. Bagaimana jika gaji kecil sehingga sulit menabung?
Mulailah dari jumlah yang mampu disisihkan secara konsisten sambil mengevaluasi pengeluaran dan mencari peluang meningkatkan pendapatan. MoneyHelper menekankan bahwa menyisihkan uang secara rutin, meskipun kecil, tetap dapat membantu membangun kebiasaan menabung dan cadangan untuk keadaan darurat.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7961905/original/013698500_1780798434-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-07T090929.694.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337193/original/082818200_1788236451-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-01T111508.347.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3552918/original/093561000_1630045352-cek_fakta_kpk_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5552691/original/021118100_1775819655-Dedi_Mulyadi_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9312096/original/089630600_1785479651-towfiqu-barbhuiya-yIIFNiEKkYI-unsplash.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3906130/original/001156800_1642421554-avery-evans-RJQE64NmC_o-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3103611/original/026099200_1587012256-photo-1518458028785-8fbcd101ebb9.jpg)