Wajahnya Masuk Majalah Time, Trump Beri Sindiran: Foto Sampul Paling Buruk Sepanjang Masa

Mengapa Trump tidak menyukai fotonya kali ini yang ditampilkan oleh Majalah Time?

Diterbitkan 15 Oktober 2025, 16:08 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington D.C - Donald Trump kembali menjadi sorotan—kali ini bukan karena kebijakan atau pernyataannya yang kontroversial, melainkan karena sebuah foto.

Presiden Amerika Serikat itu menilai foto dirinya di sampul Majalah Time sebagai "yang terburuk sepanjang masa".

Edisi ini menampilkan laporan utama tentang peran Trump dalam menengahi gencatan senjata di Gaza. Namun, alih-alih berbangga, Trump justru kesal dengan foto pendamping artikel tersebut: potret dirinya yang diambil dari sudut bawah dengan Matahari tepat di belakang kepala.

"Majalah Time menulis artikel yang cukup bagus tentang saya, tapi fotonya mungkin yang paling buruk sepanjang masa," tulis Trump di platform Truth Social, dikutip dari laman The Guardian, Rabu (15/10/2025).

Ia menambahkan, "Mereka menghilangkan rambut saya, dan ada sesuatu di atas kepala saya yang terlihat seperti mahkota kecil yang melayang. Sangat aneh! Saya tidak pernah suka foto yang diambil dari bawah, dan yang ini benar-benar buruk. Apa yang mereka pikirkan?"

Trump dikenal lama terobsesi dengan tampil di sampul Time. Tahun lalu saja, ia sudah empat kali menghiasi halaman depannya. Pada 2017, majalah tersebut bahkan sempat meminta Trump menurunkan beberapa cover palsu yang dipajang di lapangan golf miliknya.

Foto yang dimaksud diambil oleh Graeme Sloane untuk Bloomberg pada 5 Oktober di Gedung Putih. Sudut pengambilan yang memperlihatkan dagu dan leher Trump itu segera menjadi bahan olok-olok. Gubernur California Gavin Newsom bahkan membagikan versi foto yang sudah dipiksel di area tersebut melalui akun resmi kantornya.

Namun, tak semua ikut menertawakan. Dari Moskow, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, justru membela Trump dan mengecam Time.

"Sebuah foto bisa lebih banyak bercerita tentang orang yang memilihnya daripada orang yang difoto," tulisnya di Telegram.

"Hanya orang yang dipenuhi kebencian—bahkan mungkin cabul—yang akan memilih foto seperti itu," sindir Zakharova.

Ia menuding Time berlaku tidak adil terhadap Trump, apalagi jika dibandingkan dengan foto-foto Joe Biden yang dinilainya lebih menguntungkan.

 

Perspektif Berbeda

Sementara itu, Carly Earl, editor foto Guardian Australia, memberikan perspektif berbeda. Menurutnya, foto itu sebenarnya memiliki kualitas teknis yang baik dan kemungkinan besar dipilih karena pesan artistiknya.

"Foto itu menunjukkan Trump dalam pose yang jarang terlihat: tenang dan reflektif," kata Earl.

"Dari sudut pandang komposisi, pencahayaan di belakang kepala menciptakan efek halo seperti malaikat. Mungkin fotografer ingin menampilkan sisi heroik Trump."

Earl menjelaskan, efek "rambut hilang" terjadi karena cahaya matahari yang terlalu terang hingga bagian tersebut tampak overexposed. "Namun, meski pesan visualnya kuat, tidak semua orang—terutama subjek foto—akan menyukainya. Hampir semua orang tidak senang jika difoto dari bawah," tambahnya.

Apa pun niat artistik di balik foto itu, satu hal pasti: Donald Trump sekali lagi berhasil menjadikan dirinya pusat perhatian—bahkan hanya lewat sebuah foto sampul majalah.