Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan hari ini, Jumat, (3/7/2026) seiring melemahnya mata uang Negeri Paman Sam setelah rilis data ketenagakerjaan nonfarm payrolls (NFP) Amerika Serikat yang berada di bawah ekspektasi pasar.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS naik 45 poin atau 0,25% menjadi 17.950 dibandingkan penutupan sebelumnya di level 17.995 per dolar AS, demikian mengutip Antara.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan data tenaga kerja AS berpotensi menekan dolar AS sehingga memberi ruang bagi penguatan rupiah.
Advertisement
"Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang tertekan setelah data pekerjaan AS nonfarm payroll (NFP) lebih lemah dari perkiraan,” ujar dia kepada Liputan6.com, Jumat (3/7/2026).
Meski demikian, menurut Lukman, penguatan rupiah diperkirakan tidak akan berlangsung signifikan. Lantaran, minat investor asing terhadap pasar keuangan domestik dinilai masih belum sepenuhnya pulih.
Ia memperkirakan, rupiah bergerak di kisaran 17.900- 18.000 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
"Namun, penguatannya akan terbatas karena sentimen investor asing terhadap pasar domestik masih belum pulih. Range Rp 17.900-Rp 18.000 (per USD),” ujar Lukman.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Jumat, 3 Juli 2026. Mata uang rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp 17.990 hingga Rp 18.050 per dolar AS, seiring pelaku pasar masih mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah serta menanti data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS).
"Untuk perdagangan Jumat, 3 Juli 2026, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.990 - Rp 18.050," kata Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi, Jumat, 3 Juli 2026.
Pelemahan Rupiah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2849790/original/043609100_1562754392-20190710-Rupiah-Stagnan-Terhadap-Dolar-AS3.jpg)
Sebelumnya, pada perdagangan Kamis, 2 Juli 2026, rupiah ditutup melemah 43 poin ke level Rp 17.995 per dolar AS, setelah sempat tertekan hingga melemah 50 poin. Posisi tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan hari sebelumnya di level Rp 17.950 per dolar AS.
Menurut Ibrahim, pelemahan rupiah dipicu kombinasi ketidakpastian geopolitik dan ekspektasi kebijakan moneter AS yang masih membayangi pasar keuangan global.
Dari sisi geopolitik, Qatar menyatakan, Iran dan Amerika Serikat mencatat kemajuan positif dalam pembicaraan tidak langsung yang berlangsung di Doha. Negosiasi tersebut berfokus pada keamanan lalu lintas maritim di Selat Hormuz serta pencairan dana Iran. Meski aktivitas pelayaran mulai kembali normal, ketegangan belum sepenuhnya mereda.
Iran disebut tetap berupaya memperoleh pengakuan internasional atas kendalinya terhadap Selat Hormuz dan berencana memberlakukan bea masuk terhadap pengiriman mulai pertengahan Agustus setelah masa bebas tarif dalam perjanjian awal berakhir.
Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz telah kembali ke tingkat sebelum konflik, meski belum memberikan rincian angka. Kondisi tersebut masih menjadi perhatian investor karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia.
Advertisement
Suku Bunga The Fed
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5431136/original/010446700_1764728802-the_fed.jpg)
Selain isu geopolitik, pelaku pasar juga mencermati peluang perubahan kebijakan suku bunga The Fed. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September mencapai sekitar 67%.
Di sisi lain, sejumlah data ekonomi AS menunjukkan perlambatan. Laporan ADP Employment Change mencatat penambahan tenaga kerja sektor swasta hanya 98 ribu pada Juni, lebih rendah dari ekspektasi 113 ribu dan turun dibandingkan kenaikan 122 ribu pada Mei.
Selain itu, ISM Manufacturing PMI turun menjadi 53,3 pada Juni dari 54,0 pada bulan sebelumnya, sekaligus berada di bawah perkiraan pasar yang sebesar 54,0. Data tersebut mengindikasikan aktivitas manufaktur AS mulai kehilangan momentum.
"Perhatian pasar saat ini beralih ke rilis data Nonfarm Payrolls AS dengan ekspektasi bahwa ekonomi AS akan meningkatkan angkatan kerjanya sebesar 110.000. Sementara Tingkat Pengangguran diperkirakan tetap tidak berubah di 4,3%," pungkasnya.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8336960/original/043977000_1782207955-cek_fakta_-_bibit_Ikan_lele.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8968722/original/090452400_1782980277-cek_fakta_-_tenaga_pendamping_masyarakat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5562012/original/067915900_1776772441-Cek_fakta_Anies_baswedan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8810983/original/080616100_1782907341-cek_fakta_-_bibit_ayam_dan_ikan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3337095/original/079976700_1609328703-20201230-Rupiah-Ditutup-Menguat-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1411598/original/098494900_1479704927-Amerika_Serikat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4127761/original/036827200_1660802907-031614600_1660792308-Screenshot_2022-08-18_094433.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262484/original/068324800_1781816932-AP26169744189345-Swiss.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8706226/original/084990600_1782782102-mahrez.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9108027/original/057222500_1783044209-063_2284404573.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5342603/original/068582000_1757396190-AP25248015186096.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9107326/original/029939500_1783043802-063_2284407272.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9102315/original/016806000_1783041300-063_2284404120.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9102311/original/030973200_1783041297-063_2284405483.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8369442/original/037177900_1782246021-Portugal_s_Cristiano_Ronaldo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8397156/original/089293200_1782278283-AP26174690236290.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8442423/original/051297200_1782335693-063_2283164257.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9076838/original/076638200_1783028282-000_B8H386V.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9072363/original/048211400_1783026161-000_B9476UW.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4066834/original/034753100_1656461868-Harga_Minyak_AFP.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776134/original/059322300_1782843171-000_B8UA24W.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1858099/original/047551300_1517555193-Aksi-Pesawat-Singapura-2.jpg)