Megawati Minta Indonesia Belajar dari Iran: Tak Bisa Dikalahkan Amerika

Menurut Megawati, kekuatan Iran bukan semata-mata karena uang dan kekuatan material, melainkan persatuan rakyatnya.

Diterbitkan 17 Agustus 2026, 14:21 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menjadikan Iran sebagai contoh negara yang dinilainya mampu bertahan menghadapi tekanan Amerika Serikat. Menurut Megawati, kekuatan Iran bukan semata-mata karena uang dan kekuatan material, melainkan persatuan rakyatnya.

Hal itu disampaikan Megawati saat berpidato dalam peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI bersama kader PDIP di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Senin (17/8/2026).

Megawati awalnya mengajak kader PDIP memahami geopolitik dunia. Menurut dia, Indonesia perlu belajar dari negara-negara yang mampu berdiri di atas kaki sendiri, seperti Tiongkok, Jepang, Jerman, Korea Selatan, Iran, Kuba dan Korea Utara.

Dia kemudian menyoroti Iran ketika membahas Amerika Serikat yang disebutnya sebagai negara superpower.

“Coba kalau kalian mau tahu politik, yang namanya geopolitik. Pertanyaannya, Amerika yang katanya negara superpower menurut saya kok sampai hari ini tidak bisa mengalahkan Iran?” kata Megawati.

Megawati meminta kader tidak melihat kekuatan suatu negara hanya dari uang atau kekuatan material. Dia justru menilai persatuan rakyat menjadi modal penting ketika sebuah bangsa menghadapi tekanan dari luar.

“Coba pikir dengan pikiran politik. Ayo kenapa? Ayo! Itu bukan hanya karena uang, tapi apa? Persatuan bangsa Iran tuh luar biasa! Coba bayangkan tidak terpecah belah,” ujarnya.

Megawati mengaku membaca sejarah Iran. Dia menilai negara tersebut memiliki daya tahan panjang karena rakyatnya mampu bergotong royong dan bersatu.

“Iran itu saya baca sejarah Iran, Iran itu sebuah negara hampir ribuan tahun dia tidak pernah terkalahkan. Kenapa? Karena rakyatnya bergotong-royong bersatu padu menjadi satu,” katanya.

“Bayangkan sebuah negara seperti Iran tidak bisa dikalahkan oleh namanya Amerika sampai hari ini,” sambung Megawati.

Belajar dari Persatuan Rakyat Iran

Menurut Megawati, Indonesia semestinya mengambil pelajaran dari persatuan rakyat Iran. Dia meminta bangsa Indonesia menjaga persatuan dan tidak membiarkan negara mudah digoyahkan pihak luar.

“Saya kalau melihat luar biasa! Kita mestinya seperti itu!” tegasnya.

Megawati kemudian mengaitkan persatuan tersebut dengan keutuhan wilayah Indonesia. Dia mengingatkan agar rakyat tidak tinggal diam jika ada pihak yang hendak mengambil wilayah Indonesia.

“Kalau akan mulai ada orang yang mengambil namanya daerah kita, apakah kita akan biarkan saja?” tanya Megawati.

“Kita ini harusnya bersatu padu, tetap, tetap, tetap menjadi yang namanya Indonesia bisa abadi saudara-saudara,” lanjutnya.

Megawati juga menekankan bahwa persatuan harus dibarengi kemandirian ekonomi. Dia mempertanyakan apakah salah bagi Indonesia untuk berdaulat atas kekayaan alam dan menguasai ilmu pengetahuan serta teknologi.

“Apakah salah kalau kita ingin berdaulat atas kekayaan alam dan berdikari dalam bidang ekonomi? Apakah salah kalau kita ingin menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi?” kata Megawati.

Dia kemudian mengingatkan kembali pesan Bung Karno mengenai keberanian menentukan nasib bangsa sendiri.

“Bung Karno berulang kali menegaskan bahwa hanya bangsa yang berani meletakkan nasib di tangan kita sendiri akan berdiri dengan kuatnya,” tuturnya.

Megawati juga meminta kader PDIP tidak hanya ikut-ikutan dalam menghadapi persoalan bangsa. Dia bahkan mengingatkan kader agar memiliki mental tahan banting.

“Jangan asal ngekor lho, pikir!” serunya.

“Iya karena ini kelihatan ini saya sudah mikir nih sudah mulai capek nih. Nah kamu berarti tidak tahan banting, tahu tidak? Kalau ikut sama PDI Perjuangan tuh harus tahan banting,” sambung Megawati yang disambut tawa.

Ingatkan Cita-Cita Bung Karno

Dalam pidatonya, Megawati juga mengingatkan kembali cita-cita Bung Karno pada usia Republik yang kini memasuki 81 tahun. Menurut dia, berbagai hal yang dahulu diimpikan Bung Karno seharusnya sudah mulai dapat diwujudkan.

“Pada usia Republik yang ke-81 ini semua yang diimpikan Bung Karno harusnya sudah bisa dilaksanakan sebenarnya,” ujarnya.

Megawati menyebut bangsa Indonesia juga dapat belajar dari tradisi dan kebudayaan Eropa. Dia menilai negara-negara Eropa memiliki karakter disiplin dan fighting spirit yang besar.

“Bukankah mereka memiliki karakter disiplin dan fighting spirit yang begitu besar?” kata Megawati.

Menurut dia, pendidikan dan kesehatan rakyat menjadi bagian penting untuk membangun kemampuan suatu negara dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Mereka semua menempatkan pendidikan dan kesehatan rakyatnya sebagai prasyarat pokok pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi,” ujarnya.

Megawati juga mengingatkan wilayah Indonesia yang membentang dari Sabang hingga Merauke, serta Miangas sampai Pulau Rote. Dia menilai generasi muda perlu mengetahui batas dan wilayah Indonesia.

“Saudara-saudaraku seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote. Bayangkan Pulau Rote itu di mana? Di bawah. Miangas tuh di mana? Di atas. Belum tentu anak-anak sekarang itu tahu,” katanya.

Di tengah pidatonya, Megawati juga sempat berseloroh mengenai kemampuan berpidato.

“Mana ada orang yang bisa berpidato seperti saya? Kalau perlombaan pidato saya pasti selalu menang saudara-saudara,” ujarnya.

Namun, dia menegaskan pidatonya disampaikan berdasarkan keyakinan yang berasal dari hati, bukan sekadar membaca teks.

“Tapi karena apa? Karena ini dari hati nurani yang paling dalam saudara-saudara, bukan hanya melihat teks ini saja. Camkan itu saudara-saudara!” tegas Megawati.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6