30 Juni 1934: Pembersihan Brutal yang Jadikan Hitler Penguasa Tunggal Jerman

Apa yang membuat Hitler tega membunuh rekan dekatnya sendiri demi mempertahankan kekuasaan? Berikut kisah lengkapnya.

Diterbitkan 30 Juni 2025, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Berlin - 30 Juni 1934 menjadi salah satu malam tergelap dalam sejarah modern Jerman, ketika Adolf Hitler melancarkan pembersihan brutal terhadap lawan-lawan politiknya, termasuk di antaranya teman dekat sekaligus pemimpin paramiliter SA, Ernst Röhm.

Peristiwa ini dikenal sebagai Night of the Long Knives atau "Malam Pisau Panjang."

Mengutip laman Britannica, Senin (30/6/2025), dalam operasi rahasia yang disusun rapi, Hitler memerintahkan pasukan elit SS (Schutzstaffel) yang dipimpin oleh Heinrich Himmler untuk membantai para pimpinan Sturmabteilung (SA) atau pasukan Brownshirts—organisasi paramiliter yang dahulu membantunya merebut kekuasaan.

Tuduhan bahwa Röhm sedang merencanakan kudeta terhadap Hitler menjadi alasan yang dipakai untuk melegitimasi pembunuhan massal ini.

Selain Röhm, korban lainnya termasuk tokoh-tokoh penting seperti Kurt von Schleicher (mantan kanselir Republik Weimar), Gregor Strasser (eks tangan kanan Hitler), serta beberapa tokoh konservatif dan penentang rezim Nazi seperti Gustav von Kahr dan Erich Klausener.

Bahkan Wakil Kanselir Franz von Papen nyaris menjadi korban, meskipun kemudian "diamankan" dan diberhentikan dari jabatannya tiga hari setelah peristiwa berdarah itu.

Langkah Politik Brutal

Peristiwa ini terjadi di tengah ketegangan antara militer Jerman dan SA. Röhm berharap pasukannya bisa diserap ke dalam angkatan bersenjata Jerman yang baru, Wehrmacht. Namun, para jenderal konservatif sangat menentangnya.

Hitler, yang sangat membutuhkan dukungan militer untuk mewujudkan ambisi ekspansionisnya, memilih untuk mengorbankan Röhm dan SA daripada menghadapi perlawanan dari angkatan bersenjata.

Tindakan kejam ini justru mendapatkan dukungan dari kalangan militer. Menteri Pertahanan Jerman saat itu, Werner von Blomberg, memuji efisiensi dan ketegasan Hitler dalam "mengamankan" negara dari ancaman internal.

Tak lama setelah peristiwa berdarah itu, Hitler mencoba memperluas pengaruh Jerman dengan mengincar Austria. Pada 25 Juli 1934, para Nazi Austria, dengan dukungan dari Berlin, melakukan kudeta dan membunuh Kanselir Austria Engelbert Dollfuss.

Namun kudeta itu gagal, dan respons internasional—terutama dari Italia di bawah Mussolini—sangat keras. Empat divisi tentara Italia langsung digerakkan ke perbatasan untuk menunjukkan penolakan terhadap ambisi ekspansionis Jerman.