Interpol Buru Perempuan Ukraina Tersangka Pengeboman di Monako

Penyelidikan lintas negara mengungkap dugaan rute pelarian tersangka hingga ke Jerman.

Diterbitkan 04 Juli 2026, 10:08 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Paris - Interpol mengidentifikasi seorang perempuan asal Ukraina berusia 39 tahun sebagai tersangka utama dalam pengeboman di Monako yang terjadi awal pekan ini. Serangan tersebut diduga menyasar seorang taipan konstruksi kelahiran Ukraina yang memiliki hubungan dengan Rusia.

Dalam Red Notice atau pemberitahuan merah yang diterbitkan pada Jumat (3/7/2026), Interpol mencantumkan nama Anastasiia Berezovska sebagai buronan internasional. Perempuan itu dicari atas dugaan percobaan pembunuhan, memasang bahan peledak di tempat umum dengan maksud melakukan tindak pidana, serta bersekongkol untuk melakukan kejahatan. Demikian seperti dilaporkan Associated Press.

Ledakan terjadi pada Senin (29/6) di pintu masuk sebuah gedung apartemen di Monako. Tiga anggota satu keluarga terluka dalam insiden tersebut dan diyakini menjadi sasaran utama serangan.

Sejumlah media melaporkan bahwa salah satu korban adalah taipan konstruksi kelahiran Ukraina, Vadym Yermolaiev. Ia diketahui memiliki hubungan bisnis dengan Rusia dan pada 2023 dijatuhi sanksi oleh pemerintah Ukraina karena hubungan tersebut. Yermolaiev diketahui telah melepaskan kewarganegaraan Ukrainanya hampir satu dekade lalu.

Selain Yermolaiev, seorang perempuan dan seorang anak turut terluka. Jaksa mengatakan salah satu korban masih dalam kondisi kritis yang mengancam jiwa, sementara dua orang lainnya mengalami luka ringan akibat ledakan.

Penyelidik kini berupaya memastikan apakah Berezovska menjalankan aksinya seorang diri atau mendapat bantuan maupun perintah dari pihak lain.

"Tingkat kecanggihan perangkat peledak serta modus operandi yang digunakan menunjukkan bahwa pelaku yang memasang bom tidak bertindak sendirian," kata Wakil Jaksa Monako Morgan Raymond dalam konferensi pers.

Menurut Raymond, bom diledakkan dari jarak jauh menggunakan alat kendali. Sisa-sisa perangkat peledak kini sedang diperiksa di Prancis untuk kepentingan penyelidikan.

Serangan tersebut mengguncang Monako, negara kecil di pesisir Laut Mediterania yang dikenal sebagai tempat tinggal banyak miliarder dunia berkat kebijakan pajaknya yang menguntungkan, keluarga kerajaannya, serta ajang Formula 1 Grand Prix Monako. Pangeran Albert II, penguasa Monako, menyebut ledakan itu sebagai "tindakan yang keji" dan mengatakan seluruh layanan publik telah dikerahkan untuk menjamin keamanan.

 

 

Jejak Pelarian Tersangka

Dalam Red Notice yang diterbitkan Interpol, Berezovska disebut memiliki tato yang diduga bergambar ular di lengan kanan, membentang dari bahu hingga siku. Ia disebut lahir di Ukraina, berambut gelap, dan mampu berbahasa Jerman.

Pada tahap awal penyelidikan, polisi menduga pelaku adalah seorang pria bertubuh besar yang mengenakan atasan lengan panjang berwarna gelap, celana pendek berwarna terang, dan topi bucket hitam. Namun, setelah menelaah rekaman CCTV dari beberapa hari sebelumnya serta memeriksa keterangan seorang saksi, penyelidik menyimpulkan bahwa pelaku sebenarnya adalah seorang perempuan yang menyamar sebagai laki-laki.

Interpol menyertakan dua foto Berezovska dalam Red Notice tersebut. Dalam salah satu foto, ia tampak mengenakan kaus putih bergaris gelap dan berdiri di sebuah jalan sambil memegang benda yang diduga perangkat elektronik dengan kabel menjuntai di tangan kirinya.

Dalam penyelidikan kasus ini, polisi sempat menahan dua pria untuk dimintai keterangan. Namun, keduanya kemudian dibebaskan.

Penyelidik juga berhasil mengidentifikasi kendaraan sewaan berpelat nomor Jerman yang digunakan tersangka selama berada di Monako. Mereka menelusuri rute pelarian tersangka dari Prancis ke Italia sebelum melintasi sejumlah negara Eropa hingga tiba di Jerman, yang diduga menjadi tempat tinggalnya. Menurut Raymond, alamat terakhir yang diketahui berada di Jerman, "sebuah negara yang memiliki kerja sama peradilan yang sangat aktif."

 

Motif pengeboman di Monako masih menjadi misteri. Namun, kasus ini muncul di tengah meningkatnya aksi pembunuhan terarah yang dikaitkan dengan perang Rusia-Ukraina.

Â