Liputan6.com, Jakarta - Kesuksesan seorang pemimpin tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, jabatan, atau kemampuan memberikan perintah. Di balik keputusan besar dan pencapaian yang terlihat, ada kebiasaan sehari-hari yang membantu mereka mengelola waktu, memahami orang lain, serta menghadapi berbagai tantangan dengan lebih terarah.
Menariknya, kebiasaan yang dilakukan pemimpin sukses tidak selalu rumit. Mendengarkan sebelum berbicara, berani mengakui kesalahan, hingga menyediakan waktu untuk mengevaluasi diri merupakan contoh sederhana yang dapat memberikan dampak besar apabila dilakukan secara konsisten.
Kebiasaan tersebut juga tidak hanya berguna bagi direktur perusahaan, manajer, atau pemilik bisnis. Siapa pun yang ingin berkembang dalam pekerjaan, membangun hubungan yang sehat, atau belajar mengambil tanggung jawab dapat mulai menerapkannya dari sekarang. Lantas apa saja kebiasaan yang dilakukan pemimpin sukses yang sederhana tetapi berdampak besar? Melansir dari berbagai sumber, Selasa (27/10/2026), simak ulasan informasinya berikut ini.
Advertisement
1. Menentukan Prioritas sebelum Memulai Aktivitas
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5255625/original/094236800_1750190514-female-working-environment-projects.jpg)
Pemimpin yang efektif tidak selalu berusaha menyelesaikan semua pekerjaan sekaligus. Mereka memahami bahwa waktu, energi, dan perhatian memiliki batas sehingga perlu digunakan untuk hal-hal yang paling penting.
Salah satu kebiasaan yang bisa ditiru adalah menentukan prioritas sebelum memulai hari. Alih-alih langsung memeriksa semua pesan atau mengerjakan tugas yang paling mudah, seseorang dapat terlebih dahulu mengidentifikasi pekerjaan yang memiliki dampak terbesar.
Misalnya, seorang pemimpin tim memiliki tiga pekerjaan sekaligus, yaitu membalas email, menyiapkan presentasi penting, dan mengevaluasi kendala proyek. Ia dapat menentukan urutan berdasarkan tenggat waktu, urgensi, dan konsekuensi apabila pekerjaan tertunda.
Kebiasaan ini membantu mengurangi kesibukan yang tidak terarah. Dengan mengetahui pekerjaan mana yang harus diselesaikan lebih dahulu, seseorang dapat menggunakan waktunya secara lebih efisien tanpa harus terus-menerus merasa dikejar berbagai tugas.
Cara menerapkannya: Tuliskan tiga prioritas utama setiap pagi. Selesaikan pekerjaan yang paling penting sesuai kondisi dan tenggat waktu, lalu sisihkan waktu untuk menangani kebutuhan mendadak.
Advertisement
2. Mendengarkan sebelum Memberikan Pendapat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3168000/original/056847400_1593662631-beautiful-businesswomen-career-caucasian-601170.jpg)
Kemampuan mendengarkan merupakan salah satu kebiasaan penting dalam kepemimpinan. Pemimpin tidak cukup hanya pandai berbicara atau memberikan arahan, tetapi juga perlu memahami informasi, kebutuhan, dan sudut pandang orang-orang yang bekerja bersamanya.
Ketika seseorang menyampaikan masalah, pemimpin yang terbuka tidak langsung memotong pembicaraan atau menganggap dirinya sudah mengetahui jawabannya. Ia memberikan kesempatan kepada orang tersebut untuk menjelaskan situasi secara utuh sebelum menentukan langkah berikutnya.
Kebiasaan ini dapat membantu mengurangi kesalahpahaman. Informasi penting yang awalnya tidak terlihat mungkin baru muncul setelah seseorang diberi ruang untuk menjelaskan persoalannya dengan lengkap.
Mendengarkan juga membuat anggota tim merasa lebih dihargai. Mereka cenderung memiliki kesempatan lebih baik untuk menyampaikan ide, mengungkapkan kendala, dan memberikan masukan yang berguna bagi pengambilan keputusan.
Cara menerapkannya: Saat berdiskusi, hindari menyiapkan bantahan ketika orang lain masih berbicara. Dengarkan sampai selesai, ajukan pertanyaan untuk memperjelas informasi, kemudian sampaikan pendapat berdasarkan hal yang benar-benar dipahami.
3. Berani Mengakui Kesalahan dan Bertanggung Jawab
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193449/original/065553800_1745225107-pexels-rdne-8489049.jpg)
Pemimpin sukses bukanlah orang yang selalu mengambil keputusan benar. Mereka juga dapat melakukan kesalahan, salah memperkirakan risiko, atau mengambil langkah yang ternyata tidak memberikan hasil sesuai harapan.
Hal yang membedakan adalah cara mereka menyikapi kesalahan tersebut. Alih-alih terus mencari alasan atau menyalahkan anggota tim, pemimpin yang bertanggung jawab berusaha memahami penyebab masalah dan menentukan langkah perbaikan.
Mengakui kesalahan juga membantu membangun kepercayaan. Ketika seorang pemimpin bersedia menerima tanggung jawab, orang lain dapat melihat bahwa ia tidak hanya menuntut kedisiplinan dari tim, tetapi juga menerapkan standar yang sama kepada dirinya sendiri.
Meski begitu, mengakui kesalahan saja tidak cukup. Sikap tersebut perlu diikuti dengan evaluasi dan perubahan agar persoalan serupa tidak terus berulang. Jika keputusan yang diambil berdampak pada orang lain, pemimpin juga perlu menjelaskan tindakan perbaikan yang akan dilakukan.
Cara menerapkannya: Ketika melakukan kekeliruan, akui bagian yang menjadi tanggung jawabmu, jelaskan langkah perbaikannya, dan catat pelajaran yang bisa digunakan untuk menghadapi situasi serupa di masa mendatang.
Advertisement
4. Tetap Tenang ketika Menghadapi Tekanan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4823561/original/095238400_1714998284-Ilustrasi_diam__tenang__kalem__diri_sendiri__berpikir.jpg)
Dalam pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari, masalah tidak selalu muncul pada waktu yang tepat. Target bisa meleset, rencana berubah, dan perbedaan pendapat dapat memicu ketegangan.
Karena itu, salah satu kebiasaan yang perlu dilatih adalah memberi jeda sebelum bereaksi. Pemimpin yang mampu mengelola emosinya memiliki kesempatan lebih besar untuk menilai persoalan secara jernih daripada langsung mengambil tindakan berdasarkan kemarahan atau kepanikan.
Tetap tenang bukan berarti tidak memiliki emosi atau mengabaikan masalah. Justru, seseorang perlu mengenali perasaannya agar dapat memilih respons yang sesuai. Dalam situasi mendesak, kemampuan membedakan fakta, asumsi, dan kekhawatiran dapat membantu menentukan langkah yang lebih masuk akal.
Contohnya, ketika proyek mengalami keterlambatan, seorang pemimpin tidak langsung memarahi seluruh tim. Ia terlebih dahulu mencari tahu penyebab keterlambatan, menilai dampaknya, dan mendiskusikan solusi yang realistis.
Cara menerapkannya: Saat merasa tertekan, berhenti sejenak sebelum merespons. Tarik napas dengan perlahan, kumpulkan informasi yang diperlukan, lalu tentukan tindakan berdasarkan masalah yang benar-benar terjadi.
5. Terbuka terhadap Kritik dan Masukan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3351861/original/013118500_1610946046-group-people-working-out-business-plan-office_1303-15773.jpg)
Pemimpin yang ingin terus berkembang tidak menganggap semua kritik sebagai serangan pribadi. Mereka memahami bahwa sudut pandang orang lain dapat membantu menemukan kelemahan yang mungkin tidak disadari sebelumnya.
Kebiasaan menerima masukan juga membuat seseorang lebih mudah menyesuaikan diri ketika menghadapi perubahan. Ia tidak terpaku pada satu cara hanya karena metode tersebut pernah berhasil, tetapi bersedia mengevaluasi apakah pendekatan yang digunakan masih sesuai dengan kebutuhan saat ini.
Tentu saja, menerima kritik bukan berarti harus menyetujui semua pendapat. Masukan tetap perlu dinilai berdasarkan alasan, bukti, dan konteksnya. Kritik yang disampaikan dengan cara kurang menyenangkan pun dapat dipisahkan dari substansi yang mungkin berguna.
Sikap terbuka seperti ini penting untuk membangun budaya kerja yang sehat. Ketika orang merasa aman menyampaikan pendapat, masalah berpotensi diketahui lebih awal sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.
Cara menerapkannya: Setelah menerima kritik, hindari langsung membela diri. Tanyakan contoh konkret, pertimbangkan bagian yang masuk akal, lalu tentukan perubahan yang memang diperlukan.
Advertisement
6. Konsisten Belajar dan Mengevaluasi Diri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3249830/original/046342800_1601102094-pexels-andrea-piacquadio-3772712.jpg)
Pengalaman memang dapat membantu seseorang mengambil keputusan dengan lebih baik, tetapi pengalaman saja tidak menjamin perkembangan. Pemimpin juga perlu mengevaluasi hasil kerja, memperbarui pengetahuan, dan mempelajari pendekatan baru.
Kebiasaan belajar tidak harus selalu dilakukan melalui pendidikan formal atau pelatihan mahal. Membaca buku, mengikuti diskusi, mempelajari keterampilan baru, hingga meminta umpan balik dari rekan kerja dapat menjadi bagian dari proses pengembangan diri.
Evaluasi juga membantu seseorang memahami hubungan antara keputusan dan hasil yang diperoleh. Jika sebuah strategi berhasil, ia dapat mengidentifikasi faktor yang mendukung keberhasilan tersebut. Sebaliknya, ketika hasilnya kurang memuaskan, ia memiliki kesempatan untuk memperbaiki pendekatan.
Hal yang penting adalah menjadikan proses belajar sebagai kebiasaan, bukan hanya dilakukan ketika menghadapi masalah besar. Perkembangan yang konsisten sering kali terbentuk melalui perbaikan kecil yang dilakukan berulang kali.
Cara menerapkannya: Sisihkan waktu setiap minggu untuk mengevaluasi pekerjaan. Catat satu hal yang berjalan baik, satu hal yang perlu diperbaiki, dan satu keterampilan baru yang ingin dipelajari.
7. Memberikan Kepercayaan dan Berani Mendelegasikan Tugas
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9341288/original/021208200_1788597021-5.jpg)
Pemimpin tidak harus mengerjakan semuanya sendiri agar dianggap mampu. Justru, kemampuan membagi tanggung jawab secara tepat merupakan bagian penting dari kepemimpinan yang efektif.
Mendelegasikan tugas memberi kesempatan kepada anggota tim untuk mengembangkan keterampilan, mengambil keputusan, dan belajar bertanggung jawab. Pada saat yang sama, pemimpin dapat memusatkan perhatian pada pekerjaan yang membutuhkan pengawasan atau keputusan strategis.
Namun, delegasi bukan sekadar membagikan pekerjaan. Pemimpin perlu memastikan bahwa orang yang menerima tugas memahami tujuan, tenggat waktu, sumber daya yang tersedia, serta batas kewenangannya.
Kepercayaan juga perlu disertai komunikasi yang jelas. Jika setiap langkah terus diperiksa secara berlebihan, anggota tim dapat kesulitan mengembangkan kemandirian. Sebaliknya, jika arahan terlalu sedikit, pekerjaan berisiko melenceng dari tujuan.
Cara menerapkannya: Pilih tugas yang sesuai dengan kemampuan anggota tim, jelaskan hasil yang diharapkan, sepakati waktu evaluasi, dan berikan ruang bagi mereka untuk menentukan cara menyelesaikannya.
Advertisement
8. Menjaga Kepercayaan melalui Tindakan, Bukan Sekadar Janji
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361984/original/096904800_1790755294-IMG_2817.jpeg)
Kebiasaan terakhir yang tidak kalah penting adalah memastikan bahwa perkataan sejalan dengan tindakan. Pemimpin dapat menyampaikan visi yang menarik dan memberikan banyak motivasi, tetapi kepercayaan lebih mudah tumbuh ketika orang lain melihat konsistensi dalam perilakunya.
Contohnya, seorang pemimpin yang meminta tim datang tepat waktu perlu berusaha menerapkan disiplin yang sama. Jika ia berjanji memberikan evaluasi pada hari tertentu, ia juga perlu berupaya memenuhi komitmen tersebut atau menjelaskan perubahan yang terjadi.
Konsistensi tidak berarti seseorang tidak boleh mengubah keputusan. Dalam kondisi tertentu, perubahan justru diperlukan karena adanya informasi baru. Namun, perubahan tersebut perlu disampaikan dengan jujur agar orang lain memahami alasan di baliknya.
Kepercayaan juga terbentuk dari tindakan sederhana, seperti memberikan penghargaan atas kontribusi tim, menjaga kerahasiaan informasi yang semestinya dilindungi, dan bersikap adil dalam menerapkan aturan.
Cara menerapkannya: Jangan terburu-buru membuat janji yang sulit dipenuhi. Tentukan komitmen yang realistis, komunikasikan perkembangannya, dan segera beri penjelasan jika terdapat hambatan.
Pertanyaan dan Jawaban tentang Kebiasaan yang Dilakukan Pemimpin Sukses
1. Apa kebiasaan paling penting yang dilakukan pemimpin sukses?
Tidak ada satu kebiasaan yang selalu menjadi paling penting bagi semua pemimpin. Namun, menentukan prioritas, mendengarkan orang lain, bertanggung jawab atas keputusan, dan menjaga konsistensi merupakan kebiasaan yang dapat mendukung kepemimpinan secara luas.
2. Apakah kebiasaan pemimpin sukses bisa diterapkan oleh siapa saja?
Ya. Kebiasaan seperti mengatur waktu, menerima kritik, mengevaluasi diri, dan menepati janji dapat diterapkan oleh siapa saja, termasuk pelajar, mahasiswa, pekerja, maupun orang yang sedang mengembangkan usaha.
3. Bagaimana cara membangun kebiasaan kepemimpinan secara konsisten?
Mulailah dari kebiasaan kecil dengan target yang jelas. Lakukan secara rutin, evaluasi perkembangannya, dan sesuaikan pendekatan jika mengalami kesulitan. Fokus pada satu perubahan terlebih dahulu dapat membuat prosesnya lebih realistis.
4. Apakah pemimpin sukses harus selalu percaya diri dan tegas?
Tidak harus selalu merasa percaya diri. Pemimpin juga dapat mengalami keraguan, tetapi perlu mampu mencari informasi, mempertimbangkan risiko, meminta masukan, dan mengambil keputusan ketika diperlukan. Ketegasan yang baik tetap disertai keterbukaan untuk mengevaluasi keputusan.
5. Mengapa pemimpin perlu belajar menerima kritik?
Kritik dapat membantu pemimpin mengenali kekurangan, memahami dampak keputusannya, dan menemukan peluang perbaikan. Dengan menilai masukan secara objektif, pemimpin dapat terus berkembang tanpa harus menganggap setiap kritik sebagai serangan pribadi.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4475259/original/069032500_1687331408-cek_fakta_bohir.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5502785/original/075044200_1771042664-alat_pertanian_klaim.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9383132/original/088044500_1793074246-Cek_Fakta__Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__6_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382785/original/072637300_1793009878-cek_fakta_-_bantuan_pupuk.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5111885/original/068924700_1738068911-pemimpin.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9383397/original/049306800_1793085047-pexels-silverkblack-36733421.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9383240/original/011098500_1793076522-Duel_Uang_Rupiah_di_Kantor.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5119231/original/054127200_1738569033-brooke-cagle-JBwcenOuRCg-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3231777/original/096814900_1599546476-freestocks-_3Q3tsJ01nc-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578226/original/050320100_1782536534-Q9pPAyic8jv7cpBl4fRIrUpKD9FkIl7fODAhUgsZ.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3351861/original/013118500_1610946046-group-people-working-out-business-plan-office_1303-15773.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4842735/original/061305900_1716688323-Perempuan_takut_gagal.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4136675/original/031041300_1661494892-adem-ay-Tk9m_HP4rgQ-unsplash_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5376579/original/096328600_1760009341-Ilustrasi_perbedaan_kepribadian_introvert_dan_ekstrovert_dalam_hal_preferesnsi_lingkungan_kerja.jpg)