Liputan6.com, Jakarta - Gen Z dan milenial sama-sama menghadapi tantangan untuk mencapai kestabilan finansial, tetapi cara mereka mengatur uang tidak selalu sama. Gen Z cenderung lebih terbiasa menggunakan teknologi untuk mengelola keuangan dan mencari informasi investasi melalui platform digital. Sementara itu, milenial yang umumnya telah memasuki tahap kehidupan lebih matang perlu menyeimbangkan penghasilan dengan tanggung jawab finansial seperti cicilan, kebutuhan keluarga, dan persiapan pensiun.
Perbedaan kebiasaan finansial Gen Z vs. milenial tidak cukup dijelaskan melalui anggapan bahwa generasi muda lebih konsumtif atau generasi yang lebih tua lebih pandai menabung. Pendapatan, harga kebutuhan pokok, akses terhadap produk keuangan, pengalaman ekonomi, dan tahap kehidupan turut memengaruhi keputusan seseorang. Kedua generasi memiliki tujuan yang sama untuk mencapai keamanan finansial, tetapi dapat menunjukkan perbedaan dalam prioritas pengeluaran, penggunaan kredit, dan strategi membangun kekayaan.
1. Perbedaan Karakteristik Gen Z dan Milenial dalam Mengelola Uang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9370490/original/066642100_1791628738-pexels-karola-g-5900228.jpg)
Dalam pengelompokan yang umum digunakan, milenial mencakup orang-orang yang lahir sekitar 1981–1996, sedangkan Gen Z merujuk pada mereka yang lahir mulai 1997. Batas tahun tersebut tidak sepenuhnya universal. Karena itu, kategori generasi lebih tepat digunakan untuk memahami kecenderungan kelompok, bukan untuk menentukan karakter setiap individu.
Gen Z memasuki masa dewasa ketika aplikasi perbankan, dompet digital, perdagangan daring, layanan beli sekarang bayar nanti, dan aplikasi investasi sudah relatif mudah ditemukan. Kemudahan ini memberi akses yang lebih luas terhadap layanan finansial, tetapi sekaligus memperbesar jumlah tawaran belanja dan peluang investasi yang harus disaring.
Sebaliknya, banyak milenial memulai pengelolaan keuangannya ketika layanan perbankan digital belum semudah sekarang. Sebagian dari mereka mengalami peralihan dari transaksi tunai ke pembayaran elektronik, dari pencatatan manual ke aplikasi keuangan, serta dari investasi konvensional menuju platform digital. Pengalaman tersebut dapat memengaruhi preferensi mereka, meskipun tidak berarti seluruh milenial lebih nyaman dengan layanan konvensional.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa Gen Z dan milenial memiliki titik awal finansial yang tidak sepenuhnya sama. Gen Z umumnya lebih muda dan sedang membangun penghasilan serta aset pertama, sedangkan sebagian milenial telah memiliki pengalaman lebih panjang dalam mengelola pendapatan, menghadapi cicilan, dan memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Advertisement
2. Prioritas Finansial: Gen Z Membangun Aset, Milenial Menyeimbangkan Tanggung Jawab
Gen Z umumnya masih membangun fondasi keuangan, mulai dari memperoleh penghasilan stabil hingga menyiapkan dana darurat dan tabungan untuk membeli rumah. Sementara itu, sebagian milenial telah memiliki tanggung jawab finansial yang lebih kompleks, seperti cicilan rumah, biaya pendidikan anak, kebutuhan keluarga, dan persiapan masa pensiun.
Survei Gallup mengenai prioritas finansial di Amerika Serikat dan Kanada menunjukkan bahwa 41% Gen Z memprioritaskan tabungan untuk membeli rumah, dibandingkan 28% milenial. Sebaliknya, pengurangan utang menjadi prioritas bagi 58% milenial dan 50% Gen Z. Persiapan pensiun juga lebih banyak diprioritaskan oleh milenial, yakni 54%, dibandingkan 39% Gen Z.
Perbedaan tersebut menggambarkan bagaimana tahap kehidupan dapat memengaruhi tujuan keuangan. Gen Z mungkin lebih fokus mengumpulkan modal awal, sedangkan milenial perlu membagi pendapatan untuk memenuhi kebutuhan sekarang sekaligus mempersiapkan masa depan. Namun, usia tidak menjamin kesiapan finansial karena pendapatan, tanggungan, dan kondisi ekonomi setiap orang berbeda.
3. Kebiasaan Menabung: Menyesuaikan Tabungan dengan Tujuan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9377510/original/018653600_1792467560-IMG_2953.jpeg)
Gen Z umumnya masih membangun kebiasaan dasar, seperti menyisihkan sebagian gaji, menyiapkan dana darurat, dan mengumpulkan uang untuk pembelian tertentu. Milenial mungkin sudah memiliki pola tabungan yang lebih terstruktur, terutama jika mereka telah mempunyai rumah atau keluarga.
Survei konsumen Visa mengenai perilaku belanja menemukan bahwa 89% responden Gen Z menyisihkan uang untuk pembelian tertentu selama setahun sebelumnya, dibandingkan 85% milenial. Data dari Amerika Serikat ini memperlihatkan bahwa menabung tidak selalu berarti menghindari konsumsi. Seseorang dapat merencanakan pembelian sekaligus menyisihkan uang secara rutin.
Perbedaan biasanya terlihat pada tujuan tabungan. Gen Z mungkin menabung untuk membeli gawai, mengikuti perjalanan, atau membangun dana darurat. Milenial bisa memiliki tujuan tambahan, seperti biaya pendidikan anak, perawatan rumah, asuransi, dan dana pensiun. Keduanya perlu memisahkan tabungan berdasarkan tujuan agar uang untuk kebutuhan mendesak tidak terpakai untuk konsumsi.
Keberhasilan menabung sebaiknya tidak hanya diukur dari besarnya saldo. Konsistensi, kemampuan memenuhi kebutuhan pokok, ketersediaan dana darurat, dan kesesuaian tabungan dengan tujuan finansial merupakan ukuran yang lebih berguna untuk menilai kesehatan keuangan.
Advertisement
4. Pola Belanja: Antara Kebutuhan, Keinginan, dan Pembelian Impulsif
Rajin menabung tidak selalu berarti seseorang jarang berbelanja. Survei Visa yang sama menemukan bahwa 75% responden Gen Z melakukan pembelian untuk memanjakan diri atau berbelanja secara royal selama setahun sebelumnya, dibandingkan 68% milenial. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kebiasaan menyisihkan uang dapat berjalan bersamaan dengan keinginan menikmati hasil pendapatan.
Pola belanja seperti ini tidak selalu bermasalah selama pengeluaran telah direncanakan dan tidak mengganggu kebutuhan pokok. Masalah muncul ketika seseorang menggunakan dana darurat, mengambil utang konsumtif, atau mengabaikan tagihan demi memenuhi keinginan sesaat.
Gen Z dapat lebih sering terpapar tren melalui media sosial, rekomendasi kreator konten, dan promosi di aplikasi belanja. Diskon berbatas waktu serta proses pembayaran yang cepat juga dapat mendorong keputusan impulsif. Sementara itu, pengeluaran milenial mungkin lebih banyak terserap oleh biaya rumah tangga, transportasi, kebutuhan anak, dan layanan berlangganan.
Kedua generasi dapat mengendalikan pengeluaran dengan membagi anggaran menjadi kebutuhan pokok, tabungan, dan belanja bebas. Untuk pembelian nonesensial yang cukup mahal, menunda keputusan selama beberapa hari dapat membantu mengurangi pengaruh promosi dan dorongan sesaat.
5. Penggunaan Kredit dan PayLater: Kemudahan yang Perlu Dikendalikan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382678/original/087195000_1793006061-customer-gives-credit-card-shopkeeper-Depositphotos_750002668_L.jpg)
Gen Z mulai mengelola uang ketika layanan cicilan digital, kartu kredit, dan pinjaman instan semakin mudah diakses melalui aplikasi. Kemudahan tersebut dapat membantu pengguna menghadapi kebutuhan tertentu, tetapi juga berisiko mendorong pengeluaran melebihi kemampuan finansial.
Analisis Deloitte pada 2026 mengenai perilaku peminjam Gen Z di Amerika Serikat mencatat bahwa penggunaan layanan buy now, pay later atau BNPL mencapai 22,8% pada kuartal pertama 2026, kemudian turun menjadi 17,6% pada kuartal kedua. Analisis tersebut juga menemukan peningkatan proporsi peminjam Gen Z yang membawa saldo kartu kredit selama lebih dari satu bulan dibandingkan kondisi pada 2023.
Temuan tersebut tidak berarti semua Gen Z gemar berutang. Namun, akses kredit yang praktis dapat membuat seseorang merasa memiliki daya beli lebih besar daripada pendapatan sebenarnya. Jika beberapa cicilan berjalan bersamaan, jumlah tagihan dapat membebani anggaran bulanan.
Milenial juga menghadapi risiko utang, terutama jika memiliki cicilan rumah, kendaraan, atau kebutuhan keluarga. Perbedaannya, kewajiban mereka mungkin lebih beragam dan berlangsung dalam jangka panjang. Karena itu, setiap pinjaman perlu dinilai berdasarkan bunga, biaya tambahan, tenor, kestabilan pendapatan, dan kemampuan membayar.
Gen Z maupun milenial sebaiknya mencatat seluruh cicilan dan tidak menganggap PayLater sebagai tambahan penghasilan. Kredit perlu digunakan secara terukur agar pembayaran tidak mengganggu kebutuhan pokok, tabungan, dan kewajiban lainnya.
Advertisement
6. Kebiasaan Berinvestasi: Akses Digital Bukan Jaminan Keberhasilan
Gen Z memiliki kesempatan mengenal saham, reksa dana, dan aset kripto melalui aplikasi, video edukasi, serta media sosial. Akses ini dapat memudahkan mereka memulai investasi dengan nominal terjangkau, tetapi informasi yang beredar belum tentu akurat atau sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Milenial mungkin telah memiliki pengalaman lebih panjang dalam menghadapi fluktuasi pasar dan menyusun investasi untuk tujuan tertentu, seperti membeli rumah atau menyiapkan pensiun. Namun, pengalaman tersebut tidak otomatis membuat keputusan investasi mereka selalu lebih baik. Hasil investasi tetap dipengaruhi strategi, biaya, kondisi pasar, dan kemampuan menghadapi risiko.
Gen Z yang mulai berinvestasi lebih awal memiliki waktu lebih panjang untuk membangun kekayaan melalui investasi jangka panjang. Meski begitu, investasi sebaiknya dilakukan setelah kebutuhan pokok dan dana darurat mulai terpenuhi. Uang yang akan digunakan dalam waktu dekat tidak ideal jika ditempatkan seluruhnya pada instrumen dengan fluktuasi tinggi.
Milenial juga perlu menyesuaikan investasi dengan tanggungan dan kebutuhan likuiditas. Ketika biaya keluarga meningkat, pembagian aset perlu dievaluasi agar tetap sesuai dengan tujuan dan kemampuan menanggung kerugian. Bagi kedua generasi, memahami risiko jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti instrumen yang sedang populer.
7. Teknologi Finansial: Praktis, tetapi Tetap Membutuhkan Disiplin
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4264733/original/037633400_1671345282-pexels-andrea-piacquadio-3778546_1_.jpg)
Gen Z umumnya terbiasa menggunakan aplikasi perbankan dan pembayaran digital sejak awal masa dewasa. Data YouGov mengenai perilaku finansial Gen Z di Amerika Serikat pada 2025 menunjukkan bahwa 66% responden menggunakan aplikasi seluler bank sebagai metode perbankan utama. Sebanyak 78% juga melaporkan hanya memiliki satu rekening bank.
Teknologi membantu pengguna memeriksa saldo, membayar tagihan, memantau transaksi, dan memindahkan uang dengan cepat. Aplikasi pencatat keuangan juga dapat membantu mengelompokkan pengeluaran sehingga pengguna lebih mudah mengetahui bagian anggaran yang paling banyak terserap.
Milenial dapat memperoleh manfaat serupa, khususnya ketika harus mengatur berbagai tagihan dan kebutuhan rumah tangga. Pengingat pembayaran, pencatatan otomatis, dan pemisahan rekening berdasarkan tujuan dapat membantu mengurangi risiko keterlambatan serta mempermudah evaluasi keuangan.
Namun, transaksi yang terlalu mudah dapat membuat pengeluaran terasa kurang nyata. Pembayaran kecil yang dilakukan berulang kali bisa menumpuk tanpa disadari. Karena itu, kedua generasi sebaiknya rutin memeriksa riwayat transaksi, mengaktifkan notifikasi, menggunakan autentikasi yang kuat, dan menjaga kerahasiaan data perbankan.
Advertisement
8. Literasi Keuangan: Memahami Informasi dan Risiko
Akses terhadap informasi keuangan semakin luas, tetapi jumlah informasi yang tersedia tidak otomatis membuat seseorang mampu mengambil keputusan yang tepat. Video singkat, rekomendasi influencer, dan ulasan produk dapat membantu pembelajaran, tetapi informasi yang tidak lengkap juga dapat mendorong keputusan yang berisiko.
Laporan OECD/INFE mengenai literasi keuangan orang dewasa di 39 negara dan perekonomian menemukan bahwa 62% responden yang mengelola keuangan secara daring tidak mencapai tingkat minimum literasi keuangan digital berdasarkan ukuran survei tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan layanan digital belum tentu diikuti pemahaman yang memadai mengenai risiko dan keamanan.
Gen Z mungkin lebih cepat mempelajari fitur aplikasi baru, tetapi tetap perlu memeriksa kredibilitas sumber informasi sebelum mengikuti rekomendasi investasi. Milenial pun perlu memperbarui pengetahuan karena produk keuangan, biaya layanan, dan modus penipuan terus berkembang.
Literasi keuangan mencakup kemampuan menghitung biaya pinjaman, memahami bunga, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta menilai risiko investasi. Kedua generasi juga perlu mengetahui cara melindungi informasi rekening dan mengenali tawaran yang menjanjikan keuntungan tidak masuk akal.
9. Tekanan Finansial: Tantangan Berbeda pada Setiap Tahap Kehidupan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5326836/original/080148800_1756113253-pexels-andrew-3132388.jpg)
Gen Z yang baru memasuki dunia kerja dapat menghadapi kesulitan memperoleh pendapatan stabil, menyiapkan tabungan awal, dan membayar biaya tempat tinggal. Mereka mungkin memahami pentingnya dana darurat, tetapi belum memiliki penghasilan yang cukup untuk mengumpulkannya dalam jumlah memadai.
Milenial mungkin memiliki pendapatan lebih tinggi, tetapi juga menghadapi pengeluaran wajib yang lebih besar. Biaya keluarga, cicilan, pendidikan anak, dan tanggungan orang tua dapat menyerap sebagian pendapatan. Akibatnya, peningkatan gaji belum tentu diikuti kenaikan tabungan dalam jumlah yang sama.
Tekanan finansial juga dipengaruhi faktor ekonomi, seperti inflasi, harga perumahan, peluang kerja, dan suku bunga pinjaman. Kondisi tersebut berada di luar kendali individu sehingga kebiasaan mengatur uang yang baik sekalipun tidak selalu langsung menghasilkan kestabilan finansial.
Karena itu, perbandingan antargenerasi tidak seharusnya digunakan untuk menyimpulkan bahwa satu kelompok lebih rajin atau lebih boros. Kondisi pendapatan, tanggungan, dan kewajiban perlu dipertimbangkan sebelum menilai keputusan keuangan seseorang.
Advertisement
10. Tabel Perbedaan Kebiasaan Finansial Gen Z vs. Milenial
Berikut ringkasan kecenderungan kedua generasi. Perbedaan ini merupakan gambaran umum dan tidak berlaku sama untuk setiap individu.
| Aspek | Gen Z | Milenial |
|---|---|---|
| Tahap finansial | Banyak yang sedang membangun penghasilan dan aset | Banyak yang menyeimbangkan aset dan tanggung jawab jangka panjang |
| Menabung | Berfokus pada dana darurat dan target pembelian | Dapat mencakup rumah tangga, pendidikan, dan pensiun |
| Belanja | Mudah terpapar tren dan promosi digital | Pengeluaran dapat didominasi kebutuhan rumah tangga |
| Kredit | Terbiasa dengan layanan cicilan digital | Dapat memiliki cicilan dan tanggungan jangka panjang |
| Investasi | Memiliki peluang memulai investasi sejak awal dewasa | Mungkin memiliki pengalaman investasi lebih panjang |
| Teknologi | Terbiasa dengan transaksi melalui aplikasi | Menggunakan teknologi untuk mengelola kebutuhan yang beragam |
| Fokus utama | Membangun fondasi keuangan yang kuat | Menjaga arus kas dan mengembangkan aset |
Perbedaan utama kebiasaan finansial Gen Z dan milenial terletak pada kondisi awal, pengalaman, serta kewajiban yang dihadapi. Gen Z dapat memanfaatkan akses digital untuk membangun fondasi keuangan sejak dini, sedangkan milenial dapat menggunakan pengalaman untuk menyeimbangkan pengeluaran dan tujuan jangka panjang.
Keduanya tetap membutuhkan prinsip yang sama, yaitu menyesuaikan belanja dengan kemampuan, menyediakan dana darurat, mengendalikan utang, memahami risiko investasi, dan mengevaluasi kondisi keuangan secara berkala. Kebiasaan tersebut lebih menentukan kesehatan finansial daripada label generasi semata.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Kebiasaan Finansial Gen Z vs. Milenial
1. Apa perbedaan utama kebiasaan finansial Gen Z dan milenial?
Gen Z umumnya sedang membangun fondasi keuangan dan lebih terbiasa dengan layanan digital, sedangkan milenial lebih mungkin menyeimbangkan pengembangan aset dengan tanggung jawab rumah tangga.
2. Apakah Gen Z lebih boros daripada milenial?
Tidak selalu. Kebiasaan belanja perlu dinilai berdasarkan pendapatan, anggaran, dan tujuan keuangan, bukan hanya generasi seseorang.
3. Mengapa milenial lebih memprioritaskan pembayaran utang?
Sebagian milenial memiliki cicilan rumah, kendaraan, atau tanggungan keluarga. Namun, prioritas setiap individu tetap bergantung pada kondisi keuangannya.
4. Apakah Gen Z lebih unggul dalam investasi karena terbiasa menggunakan teknologi?
Belum tentu. Akses digital mempermudah transaksi, tetapi keberhasilan investasi tetap bergantung pada pemahaman risiko, strategi, dan konsistensi.
5. Bagaimana cara mengelola keuangan yang tepat bagi Gen Z dan milenial?
Keduanya dapat mencatat pengeluaran, membangun dana darurat, membatasi utang konsumtif, dan menyisihkan uang untuk tujuan jangka panjang sesuai kemampuan.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5502785/original/075044200_1771042664-alat_pertanian_klaim.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9383132/original/088044500_1793074246-Cek_Fakta__Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__6_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382785/original/072637300_1793009878-cek_fakta_-_bantuan_pupuk.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361587/original/019138200_1790739278-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-30T103330.320.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9383240/original/011098500_1793076522-Duel_Uang_Rupiah_di_Kantor.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382804/original/044003000_1793011546-CEO_Danantara_Rosan_Perkasa_Roeslani-26_Oktober_2026b.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5302025/original/025418900_1753969652-Gemini_Generated_Image_pok85upok85upok8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382348/original/070804600_1792990544-DSC09465.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5028255/original/089063500_1732871319-fotor-ai-2024112916722.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4740422/original/078699100_1707701814-fotor-ai-2024021283356.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381241/original/036074900_1792772042-email-attachment_2026_10_23_ariefhakim-at-klyid_998-wilayah-ri-teraliri-listrik-potensi-ekonomi-desa-dibidik-meningkat_1000484228.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309011/original/063278500_1785214678-ChatGPT_Image_Jul_28__2026__07_13_04_AM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7260737/original/079286000_1780047005-4.jpg)