Sulit Mengikhlaskan Kehilangan, 5 Tahapan Menerima Takdir agar Batin Tidak Terus Menyalahkan Keadaan

Rasa Kehilangan barangkali pernah dialami oleh tiap orang

Diterbitkan 27 Oktober 2026, 10:04 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Rasa Kehilangan barangkali pernah dialami oleh tiap orang. Entah itu orang yang dicintai, pekerjaan, kesehatan, atau harapan yang telah lama dibangun. Kehilangan ini terkadang kali meninggalkan luka yang begitu mendalam.

Di sinilah perbedaan respons orang beriman diuji. Mujtaba Musawi Lari dalam Keadilan Allah, Qada' dan Qadar Manusia menegaskan bahwa penderitaan dan kegagalan bukanlah bentuk ketidakadilan, melainkan ujian dan sarana penyempurnaan diri.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Lum'atul I'tiqad menjelaskan bahwa keadaan seorang mukmin seluruhnya baik; jika diuji dengan musibah ia bersabar, lapdang dan mengharap pahala dari Allah.

Menerima takdir tersebut dilakukan secara bertahap dan memerlukan kejujuran batin, kesabaran, dan kerelaan untuk tidak terus-menerus menyalahkan keadaan. Merangkum berbagai sumber, berikut ini adalah tahapan menerima takdir agar seseorang bisa ikhlas saat kehilangan dan tidak terus-menerus menyalahkan keadaan.

5 Tahapan Menerima Takdir agar Batin Tidak Terus Menyalahkan Keadaan

1. Mengenali dan Menerima Rasa Syok serta Penyangkalan

Tahap pertama dalam menghadapi kehilangan adalah syok dan penyangkalan. Dalam model Kübler-Ross yang diperkenalkan Elisabeth Kübler-Ross dalam On Death and Dying (1969), penyangkalan (denial) merujuk pada kesulitan memahami realitas kehilangan; seseorang mungkin masih merasa bahwa orang yang pergi akan kembali, atau bahwa keputusan yang menyakitkan itu hanyalah mimpi.

Dalam perspektif Islam, fase ini bukanlah dosa, melainkan respons alami manusia yang lemah. Yang menjadi persoalan adalah ketika penyangkalan berlarut-larut hingga menolak qadarullah secara total.

Syaikh Al-Utsaimin mengingatkan bahwa musibah apa pun yang menimpa seorang hamba telah tertulis dalam Lauh Mahfuzh, dan sikap yang benar adalah bersabar atas takdir Allah serta menanti kelapangan dari-Nya. Mengenali rasa syok tanpa tenggelam di dalamnya adalah langkah awal untuk tidak menyalahkan keadaan secara membabi buta.

2. Mengelola Amarah dan Menghindari Prasangka Buruk kepada Allah

Ketika syok mereda, amarah sering kali muncul. Amarah bisa diarahkan kepada diri sendiri, orang lain, atau bahkan kepada Allah—misalnya dengan melontarkan pertanyaan, "Mengapa ini harus terjadi padaku?"

Model Kübler-Ross menyebut amarah sebagai tahap ketika kehilangan dipandang tidak adil dan tidak masuk akal. Dalam Islam, amarah yang tidak terkelola dapat menjelma menjadi su'uzh zhann (prasangka buruk) kepada Allah, yang justru memperkeruh batin.

Syekh Nawawi al-Bantani dalam Nashaihul 'Ibad menukil hikmah: Min 'alamat ar-ridha sukunul qalbi tahta majari al-ahkam—di antara tanda ridha adalah tenangnya hati ketika berada di bawah ketetapan-ketetapan Allah.

Hati yang ridha tidak berarti tanpa luka, tetapi ia menolak memberontak dan tidak membiarkan amarah mengeras menjadi prasangka buruk kepada Sang Pencipta.

3. Berhenti Menawar dan Mulai Berdamai dengan Kenyataan

Tahap tawar-menawar (bargaining) dalam model Kübler-Ross sering kali tampak sebagai harapan agar kehilangan dapat dibatalkan dengan imbalan tertentu—misalnya, "Jika aku sembuh, aku akan berubah menjadi lebih baik".

Dalam konteks takdir, tawar-menawar dapat berbentuk penyesalan yang tak berujung: "Andai dulu aku memilih jalan lain, tentu hasilnya tidak seperti ini." Rasulullah SAW secara tegas melarang penyesalan semacam ini.

Beliau bersabda, jika suatu musibah menimpa, janganlah berkata "Andai aku berbuat demikian tentu hasilnya tidak akan begini", melainkan ucapkanlah Qaddarallāhu wa mā syā'a fa'ala (Allah telah menetapkan dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi).

Al-Utsaimin menegaskan bahwa takdir tidak dapat dijadikan alasan untuk berhenti berusaha, tetapi juga tidak boleh dijadikan objek penyesalan yang sia-sia. Berdamai dengan kenyataan berarti mengakui bahwa apa yang telah terjadi adalah bagian dari qadarullah yang mengandung hikmah, meskipun hikmah itu belum tentu terlihat saat ini.

4. Melewati Kesedihan tanpa Kehilangan Harapan

Kesedihan (depression) adalah tahap ketika realitas kehilangan mulai meresap dan energi terkuras. Model Kübler-Ross menggambarkannya sebagai fase ketika situasi tampak tanpa harapan. Dalam Islam, kesedihan tidak dilarang, tetapi tidak boleh berkembang menjadi keputusasaan dari rahmat Allah.

Mujtaba Musawi Lari menegaskan bahwa penderitaan dari yang ringan sampai yang lebih berat justru mempersiapkan manusia bagi imbalan yang menantinya; dari tanggapan terhadapnya akan terlihat apakah seseorang mencapai keikhlasan dan ketaatan yang tinggi atau tenggelam dalam kerusakan.

Al-Utsaimin bahkan menyebut bahwa sabar adalah menahan jiwa agar senantiasa taat kepada Allah, dan pahala orang-orang yang sabar dilimpahkan tanpa batas perhitungan. Kesedihan yang dijalani dengan sabar dan harapan kepada Allah tidak menghancurkan batin, melainkan memurnikannya.

5. Ridha dan Bersyukur sebagai Puncak Penerimaan

Tahap terakhir adalah penerimaan (acceptance), yang dalam Islam tidak berhenti pada sekadar "menerima kenyataan", tetapi meningkat menuju ridha dan bahkan syukur

Al-Utsaimin merinci empat tingkatan orang yang ditimpa musibah: pertama, orang yang marah; kedua, orang yang bersabar meskipun masih merasakan berat; ketiga, orang yang ridha—adanya musibah dan tidak adanya sama saja baginya, sehingga tidak memberatkannya; dan keempat, orang yang bersyukur atas musibah karena memahami bahwa itu menjadi sebab pengampunan dosa dan penambahan kebaikan.

Rasulullah SAW bersabda: "Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah, baik berupa rasa lelah, sakit, khawatir, sedih, gangguan, atau gelisah, sampai pun duri yang melukainya, melainkan dengannya Allah akan mengampuni dosa-dosanya" (HR. Bukhari dan Muslim).

Inilah puncak penerimaan: ketika luka tidak lagi menjadi alasan untuk menyalahkan keadaan, melainkan menjadi jalan untuk mendekat kepada Allah dan membersihkan jiwa.

Hikmah Mampu Menerima Takdir

Mampu menerima takdir membawa hikmah yang mendalam bagi kesehatan batin dan kualitas keimanan. Pertama, melahirkan ketenangan jiwa. Ridha membuat hati tenang di bawah ketetapan Allah; ada luka dan air mata, tetapi tidak berubah menjadi prasangka buruk kepada-Nya.

Kedua, menghapus dosa dan meningkatkan derajat. Setiap musibah yang dihadapi dengan sabar menjadi sebab pengampunan dan penambahan kebaikan.

Ketiga, mendekatkan diri kepada Allah. Kesadaran bahwa segala sesuatu berada dalam kendali-Nya menumbuhkan kerendahan hati dan ketergantungan yang sehat kepada Sang Pencipta.

Keempat, mencegah penyesalan yang sia-sia. Dengan menerima takdir, seseorang berhenti memberontak terhadap masa lalu dan mulai mengarahkan energinya untuk hal-hal yang masih dapat diusahakan.

Kelima, menumbuhkan sikap husnuzh zhann kepada Allah. Ia yakin bahwa apa yang tampak pahit hari ini boleh jadi sedang membentuk kedewasaan iman dan kejernihan jiwa di masa depan. Keenam, menjadikan hidup lebih bermakna.

Mujtaba Musawi Lari menegaskan bahwa kegagalan dan kemalangan bersifat relatif sejauh mengandung berkah yang besar; semuanya memperbesar manfaat dalam membangun kesadaran dan kehendak manusia.

 

Pertanyaan Seputar Kehilangan dalam Islam

1. Apakah boleh bersedih saat kehilangan dalam Islam?

Boleh. Kesedihan adalah fitrah manusia, bahkan Nabi SAW menangis ketika kehilangan orang yang dicintai. Yang dilarang adalah berlarut-larut hingga putus asa dari rahmat Allah dan menyalahkan takdir secara tidak semestinya.

2. Apa perbedaan sabar dan ridha dalam menerima takdir?

Sabar adalah menahan diri dari keluh kesah meskipun masih merasakan beratnya musibah. Ridha lebih tinggi: adanya musibah dan tidak adanya sama saja bagi seseorang, sehingga tidak memberatkannya. Al-Utsaimin menyebut ridha sebagai tingkatan yang dianjurkan, sedangkan sabar hukumnya wajib.

3. Bagaimana cara berhenti menyalahkan keadaan setelah kehilangan?

Mulailah dengan mengenali dan menerima rasa syok tanpa tenggelam di dalamnya, kelola amarah agar tidak menjadi prasangka buruk kepada Allah, hentikan penyesalan "andai", jalani kesedihan dengan sabar dan harapan, lalu arahkan hati menuju ridha dan syukur.

4. Apakah menerima takdir berarti pasrah tanpa usaha?

Tidak. Ridha bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan menerima keputusan Allah dengan hati yang tenang setelah ikhtiar dilakukan. Islam justru mendorong ikhtiar maksimal, lalu bertawakal atas hasilnya.

5. Kapan waktu yang tepat untuk mengucapkan qadarullah saat kehilangan?

Ucapan Qaddarallāhu wa mā syā'a fa'ala diucapkan ketika musibah telah terjadi, sebagai bentuk penerimaan dan penyerahan kepada ketetapan Allah, sekaligus mencegah penyesalan yang sia-sia.