Fenomena Langit Hunter's Moon 2026 Hiasi Langit, Ini Faktanya

Fenomena Langit Hunter's Moon 2026 puncaknya akhir Oktober. Simak asal nama, rona keemasan, ilusi bulan, dan cara melihatnya tanpa teleskop.

Liputan6.com, Jakarta - Fenomena Langit Hunter's Moon kembali menghiasi langit malam pada Oktober 2026. Bulan purnama ini mencapai puncak fase penuhnya pada Senin, 26 Oktober 2026, pukul 04.12 UTC atau sekitar pukul 11.12 WIB.

Hunter's Moon adalah sebutan tradisional untuk bulan purnama pertama setelah Harvest Moon. Tahun ini, Harvest Moon jatuh pada 26 September 2026, sehingga purnama Oktober otomatis menyandang nama Hunter's Moon.

Meski puncaknya terjadi di siang hari bagi Indonesia, purnama tetap tampak hampir bulat sempurna pada malam-malam di sekitarnya. Berikut Liputan6.com merangkum dari berbagai sumber penjelasan tentang asal nama, rona keemasan, ilusi bulan, hingga cara menikmatinya, Selasa (27/10/2026).

Apa Itu Hunter's Moon dan dari Mana Asal Namanya?

Hunter's Moon merupakan nama tradisional purnama Oktober di Belahan Bumi Utara. Posisinya selalu mengikuti Harvest Moon, yakni purnama yang paling dekat dengan ekuinoks musim gugur. Pada 2026, ekuinoks jatuh pada 22 September dan purnama September terjadi empat hari kemudian, sehingga purnama 26 Oktober menjadi Hunter's Moon.

Istilah ini tercatat dalam sumber berbahasa Inggris sejak awal abad ke-18. Menurut Old Farmer's Almanac, pemakaian paling awal yang dikutip Oxford English Dictionary berasal dari tahun 1710.

Nama tersebut lekat dengan siklus musim. Setelah panen usai, ladang menjadi lebih terbuka sehingga hewan buruan lebih mudah terlihat, dan cahaya bulan membantu persiapan pangan menjelang musim dingin. Purnama ini juga dikenal dengan nama lain, seperti Sanguine Moon, Seed Fall Moon dalam tradisi Celtic, hingga Migrating Moon dalam tradisi suku Cree. Sebutan Blood Moon di sini tidak sama dengan gerhana bulan total.

Mengapa Bulan Terbit Lebih Cepat Setelah Matahari Terbenam?

Setiap bulan purnama terbit di sekitar waktu matahari terbenam. Keistimewaan Hunter's Moon terletak pada jeda terbit antarmalam yang lebih pendek. Bulan umumnya terbit sekitar 50 menit lebih lambat setiap harinya, tetapi pada periode ini selisihnya hanya sekitar 30 hingga 35 menit.

Penyebabnya adalah lintasan bulan yang membentuk sudut sempit terhadap cakrawala pada malam musim gugur di Belahan Bumi Utara. Akibatnya, beberapa malam berturut-turut menampilkan purnama yang naik di ufuk timur saat langit masih berpendar senja. Pada zaman dahulu, kondisi ini dianggap membantu pemburu karena malam tidak langsung gelap.

Efek ini paling terasa di lintang menengah Belahan Bumi Utara. EarthSky mencatat bahwa di Belahan Bumi Selatan, jeda terbit justru lebih panjang dari biasanya. Bagi pengamat di Indonesia, purnama tetap terbit sekitar waktu matahari terbenam, tetapi keistimewaan jeda singkat ini tidak sekuat di negara-negara berlintang tinggi.

Rona Keemasan di Cakrawala: Efek Hamburan Cahaya

Saat baru terbit, bulan sering tampak berwarna kuning keemasan hingga oranye. NASA menjelaskan bahwa bulan memang tampak lebih kuning atau oranye ketika berada rendah di langit dibandingkan saat tinggi di atas kepala.

Penyebabnya adalah jarak tempuh cahaya bulan melalui atmosfer yang lebih panjang saat bulan dekat cakrawala. Dalam perjalanan itu, cahaya berpanjang gelombang pendek atau kebiruan lebih banyak terhambur, sehingga yang tersisa adalah warna merah dan oranye. Debu atau polusi di udara dapat memperdalam rona kemerahan tersebut.

Perlu dicatat, warna hangat ini bukan keistimewaan eksklusif Hunter's Moon. Setiap bulan yang rendah di cakrawala akan tampak serupa. Setelah naik tinggi, cahayanya kembali tampak lebih pucat.

Ilusi Bulan: Tampak Raksasa, Padahal Ukurannya Sama

Banyak orang merasa bulan tampak jauh lebih besar saat baru terbit. Menurut NASA, ini adalah ilusi persepsi. Foto yang diambil dengan pengaturan lensa yang sama menunjukkan lebar bulan tetap sama, baik di dekat cakrawala maupun di langit tinggi.

Salah satu dugaan ilmuwan, kehadiran pohon, gedung, atau pegunungan membuat otak menafsirkan bulan sebagai objek yang lebih dekat dan lebih besar. Fenomena ini dikaitkan dengan ilusi Ponzo. Namun NASA menegaskan belum ada penjelasan yang benar-benar memuaskan, apalagi astronaut di orbit pun melaporkan ilusi serupa meski tanpa objek latar.

Cara sederhana untuk membuktikannya adalah mengacungkan jari ke arah bulan, yang ukurannya akan tampak sekitar selebar kuku. Foto bulan raksasa di atas lanskap kota biasanya dihasilkan lensa telefoto yang memampatkan jarak antara bulan dan latar depan. Hunter's Moon sendiri tidak lebih besar daripada purnama lain.

Cara Menikmati Hunter's Moon dari Indonesia

Untuk menikmati Hunter's Moon, tidak diperlukan teleskop. Cukup amati dengan mata telanjang dari area terbuka dengan pandangan ke ufuk timur yang tidak terhalang. Karena puncaknya terjadi pukul 11.12 WIB saat bulan masih di bawah cakrawala, waktu terbaik adalah sore hingga malam hari, terutama sesaat setelah bulan terbit.

Purnama tampak penuh pada 25 hingga 27 Oktober, jadi masih ada kesempatan jika cuaca berawan pada malam puncak. Waktu terbit bulan berbeda di setiap kota, sehingga pengamat dapat memeriksanya lewat layanan seperti Time and Date atau aplikasi astronomi seperti Stellarium.

Bagi yang gemar memotret, Space menyarankan kamera DSLR dengan lensa telefoto. Padukan dengan objek di cakrawala saat bulan masih rendah untuk rona keemasan, atau tunggu bulan naik tinggi untuk tampilan yang lebih bersih. Setelah ini, purnama berikutnya adalah Beaver Moon pada 24 November 2026.

Tanya Jawab Seputar Fenomena Hunter's Moon

1. Kapan puncak Hunter's Moon 2026?

Puncaknya pada 26 Oktober 2026 pukul 04.12 UTC, atau 11.12 WIB (12.12 WITA, 13.12 WIT). Bulan tampak penuh pada malam 25 hingga 27 Oktober.

2. Mengapa disebut Hunter's Moon?

Nama ini merujuk pada musim berburu setelah panen, ketika ladang yang bersih membuat hewan lebih mudah terlihat dan cahaya bulan membantu perburuan.

3. Apakah Hunter's Moon lebih besar dan terang dari purnama lain?

Tidak. Ukuran dan kecerahannya setara purnama lain. Kesan raksasa di dekat cakrawala berasal dari ilusi bulan.

4. Apakah perlu teleskop untuk melihatnya?

Tidak perlu. Mata telanjang sudah cukup, asalkan dari area terbuka dengan pandangan ke timur yang tidak terhalang.

5. Kapan purnama berikutnya?

Beaver Moon pada 24 November 2026 pukul 14.53 UTC, atau 21.53 WIB.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6