Jason Wilcox, Biang Kerok Krisis Manchester United?

Jason Wilcox menjadi sasaran kemarahan suporter Manchester United setelah kekalahan 0-3 dari Bournemouth

Diterbitkan 27 Oktober 2026, 15:24 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Manchester United menghadapi tekanan besar pada awal musim 2026/2027. Kekalahan 0-3 dari Bournemouth di Old Trafford pada Minggu membuat kekecewaan suporter semakin memuncak.

Bukan hanya pemain dan pelatih yang menjadi sorotan. Jason Wilcox, direktur sepak bola Setan Merah, turut menjadi sasaran kemarahan setelah suporter meneriakkan namanya disertai kata-kata kasar.

Gelombang protes tersebut mencerminkan ketidakpuasan terhadap arah pengelolaan klub, terutama kebijakan transfer dan hasil yang belum sesuai harapan. Wilcox pun menghadapi pertanyaan mengenai kontribusinya dalam membangun skuad yang kompetitif.

Meski demikian, menempatkan seluruh kesalahan pada satu orang tidak sepenuhnya menggambarkan kompleksitas masalah Manchester United. Batas kewenangan Wilcox dan keputusan manajemen secara keseluruhan perlu menjadi bagian dari evaluasi.

Jason Wilcox Disorot setelah Krisis Manchester United Memburuk

Wilcox bergabung dengan Manchester United pada April 2024 sebagai direktur teknis setelah bekerja di Manchester City. Mantan pemain Blackburn Rovers yang menjuarai Premier League 1994/1995 itu kemudian menjadi salah satu figur penting dalam struktur teknis klub.

Saat kedatangannya, United menyatakan Wilcox bertanggung jawab atas seluruh aspek teknis demi mencapai "standar performa tertinggi". Namun, pemecatan direktur olahraga Dan Ashworth pada Desember 2024 mengubah struktur kepemimpinan klub. Wilcox disebut punya kuasa lebih besar.

Rentetan hasil buruk dan ketidakpuasan terhadap aktivitas transfer kemudian membuat posisi Wilcox semakin tertekan. Para suporter mulai mempertanyakan keputusan strategis yang dinilai belum mampu memperkuat daya saing tim.

Meski demikian, Wilcox disebut tidak memiliki kendali langsung atas anggaran transfer yang ditetapkan oleh petinggi klub. Kondisi tersebut membuat pembagian tanggung jawab dalam kebijakan perekrutan pemain menjadi persoalan penting yang perlu dijelaskan.

Kebijakan Transfer dan Minimnya Komunikasi Jadi Masalah

Manchester United menghadapi kendala finansial setelah rencana penjualan Manuel Ugarte terganggu akibat cedera yang dialaminya saat membela Uruguay di Piala Dunia. Barcelona juga membatalkan kesepakatan senilai £26 juta untuk merekrut Marcus Rashford, sehingga peluang United memperoleh pemasukan tambahan ikut menyusut.

Keterbatasan tersebut memengaruhi ruang gerak klub di bursa transfer musim panas. Namun, keputusan untuk memprioritaskan lini tengah tanpa mendatangkan pesaing bagi Luke Shaw atau pemain pendukung bagi Benjamin Sesko tetap memunculkan pertanyaan mengenai strategi perekrutan.

Minimnya komunikasi Wilcox dengan media turut memperbesar ketidakpastian. Sejak bergabung dengan United, ia baru memberikan satu wawancara mendalam melalui siniar internal Inside United pada Oktober 2025, sehingga pertimbangan di balik sejumlah keputusan klub belum banyak diketahui publik.

Kini, tekanan terhadap Wilcox semakin besar ketika Michael Carrick tetap memiliki dukungan berkat popularitas dan statusnya sebagai legenda klub. Tuntutan suporter agar Wilcox pergi menjadi sinyal krisis kepercayaan terhadap manajemen, meski pembenahan Manchester United membutuhkan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan transfer, struktur kewenangan, dan performa tim.

Sumber: BBC Sport

Klasemen Premier League 2026/2027

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Nico Williams Ungkap Pernah Tolak Tawaran Besar Arsenal dan PSG demi Athletic Bilbao