Liputan6.com, Jakarta - Retakan pada kulit telur terkadang begitu tipis hingga baru terlihat ketika telur hendak dimasak. Garis kecil seperti rambut, bagian cangkang yang sedikit pecah, atau rembesan yang nyaris tak terlihat sering membuat orang ragu apakah telur tersebut masih layak digunakan atau lebih aman dibuang.
Keraguan itu wajar karena kondisi cangkang bukan sekadar persoalan tampilan. Cangkang membantu melindungi bagian dalam telur dari lingkungan luar, sementara retakan dapat membuka jalur masuk bagi mikroorganisme. Bahkan telur dengan cangkang bersih dan utuh tetap berpotensi mengandung Salmonella, sehingga penanganan telur yang cangkangnya sudah rusak perlu lebih berhati-hati.
Di sisi lain, tidak semua retakan terjadi pada waktu dan kondisi yang sama. Telur yang sudah retak ketika dibeli berbeda risikonya dengan telur yang tidak sengaja pecah ketika sedang direbus. Karena itu, mengetahui kapan retakan muncul menjadi salah satu pertimbangan penting sebelum memutuskan telur masih bisa dikonsumsi atau harus dibuang.
Advertisement
Berikut penjelasan selengkapnya yang telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Sabtu (5/9).
Apa Arti Retakan Halus pada Kulit Telur?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9341221/original/079280800_1788591824-ada0b474-16d6-4bf8-89ff-07e448c26366.jpg)
Retakan halus pada kulit telur adalah kerusakan pada lapisan cangkang yang terkadang tidak sampai membuat telur terbuka lebar. Bentuknya bisa menyerupai garis rambut, pecahan kecil, atau celah sempit yang baru terlihat ketika cangkang diamati di bawah cahaya. Meski bagian putih telur belum keluar, kerusakan tersebut berarti perlindungan fisik telur tidak lagi sepenuhnya utuh.
Cangkang telur memiliki pori-pori yang secara alami memungkinkan pertukaran gas. Bakteri dapat masuk ke dalam telur melalui pori-pori cangkang, sedangkan keberadaan retakan memberi jalur tambahan yang membuat perlindungan telur semakin berkurang. Karena alasan tersebut, telur dengan cangkang retak tidak diperlakukan sama seperti telur yang cangkangnya masih utuh.
Besarnya retakan juga tidak selalu dapat dijadikan patokan tunggal. Retakan yang tampaknya sangat kecil bukan berarti otomatis aman karena sulit mengetahui kapan kerusakan terjadi dan apa saja yang telah bersentuhan dengan permukaan telur sebelumnya. Durasi penyimpanan, suhu, kebersihan lingkungan, dan waktu munculnya retakan ikut memengaruhi tingkat risikonya.
Advertisement
Telur Retak Sebelum Dibeli
Ketika membeli telur, kondisi cangkang menjadi pemeriksaan pertama yang paling sederhana. Konsumen sebaiknya membuka karton telur sebelum membeli untuk memastikan telur bersih dan cangkangnya tidak retak. Telur juga sebaiknya dibeli dari tempat penyimpanan berpendingin.
Telur yang sudah retak di toko tidak diketahui secara pasti kapan kerusakannya terjadi. Bisa saja retakan muncul ketika pengangkutan, penyimpanan, atau jauh sebelum telur berada di rak penjualan. Ketidakjelasan waktu tersebut membuat sulit memperkirakan berapa lama bagian dalam telur telah lebih mudah terpapar lingkungan luar.
Karena bakteri dapat masuk melalui celah pada cangkang, telur yang sudah terlihat retak sebelum dibeli sebaiknya tidak dipilih. Jadi, sekalipun retakannya tipis dan tidak ditemukan cairan yang keluar, pilihan yang lebih aman adalah mengambil telur lain yang cangkangnya benar-benar utuh.
Retak di Rumah dan Retak Sejak Lama
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9341222/original/041723300_1788591833-80ba8992-e294-426b-a4f7-1900c9ce4678.jpg)
Waktu terjadinya retakan dapat mengubah cara telur ditangani. Telur yang baru saja terbentur ketika sedang dipersiapkan di dapur memiliki kondisi berbeda dibanding telur yang ditemukan sudah retak setelah tersimpan tanpa diketahui sejak kapan.
Apabila kerusakan baru terlihat ketika mengambil telur dari lemari es dan penyebabnya tidak diketahui, sulit memastikan apakah telur baru saja retak atau kerusakan sudah terjadi sejak sebelumnya. Dalam situasi seperti ini, membuang telur merupakan pilihan yang lebih berhati-hati, terutama jika cangkang terbuka, terdapat cairan yang merembes, atau kondisi penyimpanannya meragukan.
Prinsip sederhananya adalah semakin tidak jelas riwayat telur tersebut, semakin sedikit alasan untuk mengambil risiko. Jika kondisi cangkang sudah meragukan dan tidak diketahui kapan retakan terjadi, sebaiknya telur tidak digunakan.
Advertisement
Telur Retak saat Direbus
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340704/original/077791500_1788515032-telur_rebus.jpg)
Kasus telur pecah ketika direbus cukup sering terjadi. Perubahan suhu, benturan dengan dasar panci, atau retakan yang sebelumnya terlalu kecil untuk terlihat dapat membuat cangkang terbuka selama proses memasak.
Kondisi ini tidak sama dengan telur yang sudah retak sebelum dimasak. Apabila telur mengalami retak ketika sedang direbus hingga matang, telur tersebut pada umumnya tetap dapat dikonsumsi. Telur tetap perlu dimasak dengan baik sehingga bagian putih maupun kuning telur mencapai tingkat kematangan yang memadai.
Karena itu, menemukan sedikit putih telur keluar melalui cangkang ketika proses perebusan tidak otomatis berarti seluruh telur harus dibuang. Namun, prinsip ini berlaku ketika retakan memang terjadi selama proses pemasakan, bukan pada telur yang sudah diketahui retak lama sebelum masuk ke dalam panci.
Tanda Telur Retak yang Lebih Aman untuk Dibuang
Selain melihat garis retak pada cangkang, ada sejumlah kondisi yang dapat dijadikan pertimbangan sebelum telur digunakan. Pemeriksaan ini tidak dapat membuktikan telur bebas bakteri, tetapi dapat membantu mengenali kondisi yang jelas tidak ideal.
-
Retakan sudah terlihat sejak telur dibeli
Telur yang cangkangnya sudah rusak ketika berada di toko sebaiknya tidak dipilih. Cangkang yang utuh memberikan perlindungan lebih baik terhadap paparan lingkungan luar.
-
Tidak diketahui kapan telur mulai retak
Jika telur ditemukan retak setelah beberapa waktu disimpan dan tidak diketahui penyebabnya, keamanan telur sulit dipastikan. Membuangnya menjadi pilihan yang lebih berhati-hati.
-
Isi telur sudah merembes keluar
Cairan putih atau kuning telur yang keluar menunjukkan kerusakan cangkang cukup besar sehingga bagian dalam telur telah terpapar lingkungan luar.
-
Cangkang sangat kotor di sekitar retakan
Kerusakan cangkang yang disertai permukaan kotor meningkatkan kekhawatiran terhadap kontaminasi karena mikroorganisme dari luar berpotensi mencapai bagian dalam.
-
Telur mengeluarkan bau tidak normal setelah dipecahkan
Bau menyimpang merupakan alasan jelas untuk tidak menggunakan telur. Jangan mencoba mencicipinya untuk memastikan apakah telur masih baik.
Advertisement
Jangan Hanya Mengandalkan BauÂ
Banyak orang terbiasa menggunakan bau sebagai cara utama memeriksa makanan. Untuk telur, pemeriksaan aroma memang dapat membantu menemukan telur yang sudah rusak, tetapi tidak bisa memastikan bahwa telur bebas dari bakteri penyebab penyakit.
Telur segar dengan cangkang bersih dan tidak retak sekalipun masih dapat mengandung Salmonella. Artinya, telur yang tampak normal dan tidak berbau aneh belum tentu benar-benar bebas dari mikroorganisme berbahaya.
Karena itu, penilaian keamanan sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan apakah baunya masih normal. Kondisi cangkang, riwayat penyimpanan, suhu, kebersihan, dan cara memasak telur juga perlu diperhatikan.
Cara Menyimpan Telur agar Risiko Kontaminasi Lebih Rendah
Penyimpanan yang tepat membantu mempertahankan kualitas sekaligus menghambat pertumbuhan bakteri. Telur sebaiknya disimpan dalam kondisi dingin dan stabil setelah dibeli agar perubahan suhu tidak memicu kondensasi pada permukaan cangkang.
Beberapa kebiasaan yang dapat diterapkan antara lain:
- Simpan telur segera setelah dibeli.
- Pertahankan telur dalam karton aslinya.
- Hindari membiarkan telur dingin terlalu lama pada suhu ruang.
- Periksa cangkang sebelum telur disimpan maupun digunakan.
- Pisahkan telur yang pecah atau bocor dari telur lainnya.
- Jaga kebersihan tangan, peralatan, dan permukaan dapur setelah bersentuhan dengan telur mentah.
Telur yang sudah didinginkan sebaiknya tidak dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang. Penyimpanan pada suhu lemari es sekitar 4 derajat Celsius atau lebih rendah dapat membantu menjaga telur tetap berada dalam kondisi yang lebih aman.
Advertisement
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Arti Retakan Halus pada Kulit Telur
1. Apakah telur dengan retakan kecil masih boleh dimakan?
Telur yang sudah retak sebelum dibeli atau tidak diketahui kapan retaknya sebaiknya tidak digunakan karena celah pada cangkang dapat meningkatkan risiko kontaminasi.
2. Apakah telur yang retak saat direbus aman?
Telur yang baru retak ketika sedang direbus hingga matang umumnya masih dapat dikonsumsi, selama sebelumnya cangkangnya tidak sudah rusak dalam waktu lama.
3. Apakah bau telur bisa menentukan telur masih aman?
Bau dapat membantu mengenali telur yang sudah rusak, tetapi tidak dapat memastikan telur bebas dari bakteri seperti Salmonella.
4. Mengapa telur retak lebih berisiko?
Retakan merusak perlindungan fisik cangkang sehingga mikroorganisme dari lingkungan luar memiliki jalur yang lebih mudah menuju bagian dalam telur.
5. Apakah telur perlu dicuci sebelum disimpan?
Telur komersial yang telah dicuci dan disanitasi umumnya tidak perlu dicuci kembali di rumah. Penyimpanan pada suhu dingin dan stabil lebih dianjurkan.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5371798/original/091008600_1759721976-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__84_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4147880/original/044633900_1662436165-WhatsApp_Image_2022-09-06_at_10.36.26_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329639/original/025640700_1787286446-purbaya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340558/original/047338600_1788510282-cek_fakta_-_BNI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9341219/original/041182400_1788591089-def5f20c-9982-4b3c-9332-0a6142b3e5fe.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337489/original/046054400_1788247594-9e51c8d1-0ea8-402b-b4e9-fb27032dd859.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340814/original/099015500_1788518359-tumis_kentang_telur_kacang_panjang_2.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340702/original/036347100_1788515032-mayak_egg_1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340718/original/078232800_1788515212-watermarked_img_2040827801814149470.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340554/original/053373100_1788510073-Gemini_Generated_Image_1clbrt1clbrt1clb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340280/original/034499800_1788499356-IMG_20260904_122018.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4557056/original/056701600_1693380258-mustafa-bashari-rKUK4EB8F7s-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339122/original/016648700_1788401079-pexels-chiecharon-970108.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9338739/original/030932000_1788339682-5aec08bf-0d51-4b2b-9f24-52feea582226.jpg)