UMARATU, Rumah Ibu Bumi yang Merayakan Perempuan Penenun dan Warisan Tenun Sumba

Merayakan keindahan tenun Sumba di Umaratu

Diterbitkan 05 September 2026, 17:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tenun Indonesia mungkin dikenal lewat keindahan motif, warna, dan proses pembuatannya yang penuh ketelitian. Namun, di balik selembar kain yang terlihat indah, tersimpan cerita tentang kehidupan, pengetahuan leluhur, hingga tangan-tangan perempuan yang menjaga tradisi tersebut agar tetap hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Semangat inilah yang menjadi napas dari UMARATU – Rumah Ibu Bumi, sebuah perayaan yang dipersembahkan UMARATU Foundation di bawah naungan Oscar Lawalata Culture dalam rangka menyambut Hari Tenun Nasional. Lebih dari sekadar perayaan wastra, perhelatan yang digelar di The Dharmawangsa Jakarta ini menjadi ruang apresiasi sekaligus refleksi mengenai posisi perempuan penenun Sumba Timur sebagai penjaga ingatan budaya Nusantara.

Acara tersebut sekaligus menandai secara resmi hadirnya UMARATU Foundation, sekaligus menjadi kristalisasi perjalanan Oscar Lawalata Culture selama 25 tahun mendalami dan memperjuangkan keberadaan wastra Indonesia.

 

Ketika Tenun Menjadi Naskah tentang Peradaban

Bagi Asha Smara Darra, Founder Oscar Lawalata Culture dan UMARATU Foundation, tenun tidak berhenti sebagai benda yang dikenakan. Setiap helai benang membawa pengetahuan, identitas, dan cerita mengenai masyarakat yang melahirkannya.

“Tenun Indonesia bukan sekadar lembaran kain nan indah, melainkan naskah bisu yang menuturkan luhurnya peradaban Nusantara,” ujar Asha.

Selama seperempat abad menyelami dunia wastra, Asha melihat perempuan penenun sebagai sosok penting yang membuat tradisi tersebut terus bernapas. Mereka bukan hanya menghasilkan kain, tetapi juga mempertahankan pengetahuan mengenai teknik, motif, material, hingga nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Karena itu, UMARATU lahir dengan semangat untuk memberikan ruang yang lebih luas bagi ekosistem tersebut. Nama “Rumah Ibu Bumi” sendiri merefleksikan gagasan tentang sebuah tempat yang menaungi, merawat, sekaligus menghidupkan kembali hubungan manusia dengan tradisi dan alam.

 

Sandang, Pangan, dan Papan yang Berakar pada Tradisi

UMARATU Foundation membawa pendekatan pelestarian yang tidak hanya berfokus pada kain. Fondasinya bertumpu pada tiga kebutuhan dasar kehidupan, yakni sandang, pangan, dan papan, yang seluruhnya berangkat dari tradisi lokal.

Melalui tiga pilar tersebut, UMARATU ingin menghadirkan dampak yang lebih berkelanjutan bagi para penenun dan komunitas budaya. Mulai dari menjaga ekosistem kain tradisional, memperkuat perekonomian berbasis kebudayaan, hingga menciptakan ruang yang mendukung para perempuan penenun untuk terus berkarya dan mewariskan pengetahuannya.

Pendekatan ini membuat pelestarian budaya tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang hanya perlu disimpan di masa lalu. Sebaliknya, tradisi dilihat sebagai bagian dari kehidupan yang masih dapat tumbuh, berkembang, dan memberikan manfaat bagi generasi masa kini maupun masa depan.

 

Menyusuri Narasi Kain dari Kampung Raja

Perayaan UMARATU di The Dharmawangsa juga menghadirkan pengalaman yang mempertemukan mode dengan cerita antropologis Sumba. Salah satunya melalui trunk show bertajuk “Narasi Kain Tenun Dari Kampung Raja”.

Lewat presentasi tersebut, kain tenun tidak hanya tampil sebagai bagian dari busana, tetapi juga sebagai medium untuk memperkenalkan kehidupan dan kekayaan tradisi masyarakat Sumba. Koleksi kain yang dipresentasikan berasal dari sejumlah sentra tenun dan kampung adat, termasuk Kampung Raja Prailiu, Pau, Rende, Kampung Adat Kanatang, serta Kaliuda.

Keberagaman tersebut memperlihatkan bahwa satu wilayah tidak selalu memiliki satu wajah tenun. Setiap komunitas memiliki karakter, cerita, serta pengetahuan yang membuat kainnya memiliki identitas tersendiri.

Pengalaman ini semakin lengkap dengan persembahan musik yang syahdu dan puitis dari Maestro Jungga, Mama Ata Ratu, menghadirkan atmosfer yang membawa para tamu lebih dekat dengan nuansa budaya Sumba.

 

Merayakan Perempuan di Balik Selembar Kain

Di tengah perkembangan industri mode yang semakin cepat, UMARATU mengajak publik untuk melihat kembali apa yang berada di balik pakaian yang dikenakan. Ada waktu, keterampilan, alam, tradisi, dan manusia yang terlibat dalam perjalanan sebuah kain sebelum akhirnya hadir sebagai bagian dari busana.

Terlebih bagi tenun tradisional, proses tersebut tidak dapat dipisahkan dari peran perempuan. Dengan ketekunan dan pengetahuan yang diwariskan lintas generasi, para penenun menjadi penjaga agar identitas budaya tidak berhenti menjadi cerita masa lalu.

Karena itu, semangat Hari Tenun Nasional melalui UMARATU terasa lebih dari sekadar selebrasi terhadap kain tradisional. Ia menjadi pengingat bahwa ketika kita berbicara tentang wastra, kita juga sedang berbicara tentang manusia dan kehidupan yang berada di baliknya