Tok, Suku Bunga Jepang Naik ke Posisi Tertinggi dalam 31 Tahun

Perhatian pasar tertuju pada hasil pemungutan suara dalam rapat kebijakan kenaikan suku bunga Jepang tersebut.

Diterbitkan 18 September 2026, 13:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

 

Liputan6.com, Jakarta - Bank of Japan (BOJ) menaikkan suku bunga acuannya ke level tertinggi dalam 31 tahun pada 18 September 2026. Suku bunga dinaikkan menjadi 1,25% dari sebelumnya 1%. Kebijakan tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa bank sentral Jepang masih membuka ruang untuk melanjutkan kenaikan biaya pinjaman.

Namun, keputusan tersebut tidak serta-merta menguatkan nilai tukar yen. Mata uang ini justru melemah ke level 156,91 per US$ setelah pengumuman tersebut. Investor menilai panduan BOJ belum menunjukkan sikap hawkish yang cukup tegas.  

Perhatian pasar juga tertuju pada hasil pemungutan suara dalam rapat kebijakan tersebut. Dua anggota dewan, Toichiro Asada dan Ayano Sato, menyampaikan perbedaan pendapat bernada dovish. Keduanya menilai kenaikan biaya pinjaman perlu dilakukan secara lebih hati-hati.

“Kenaikan suku bunga itu sendiri sesuai dengan ekspektasi pasar, tetapi adanya dua suara yang berbeda pendapat sedikit mengejutkan karena hanya sebagian pelaku pasar yang telah memperkirakan hal tersebut,” kata Kepala Strategi Valuta Asing SMBC Tokyo, Hirofumi Suzuki, seperti dikutip dari Strait Times, Jumat (18/9/2026).

Meski demikian, hasil keputusan tersebut sedikit meredam ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga lebih lanjut dan memberikan kesan yang dovish.

Kenaikan tersebut merupakan kenaikan suku bunga pertama dalam tiga bulan dan membawa suku bunga lebih dekat ke level yang dinilai BOJ sebagai tingkat netral bagi perekonomian.

Langkah ini sekaligus menandai semakin jauhnya kebijakan moneter Jepang dari era suku bunga ultra-rendah selama beberapa dekade, yang turut menjadikan yen sebagai mata uang pendanaan global berbiaya murah.

 

Yen Melemah

Langkah BOJ tersebut sejalan dengan kebijakan yang ditempuh bank-bank sentral di Eropa dan Amerika Serikat yang juga menaikkan suku bunga.

Kebijakan ini mencerminkan perhatian bank-bank sentral terhadap risiko inflasi global yang dipicu oleh lonjakan biaya energi akibat perang Iran, kebijakan fiskal ekspansif, serta meningkatnya permintaan investasi di sektor kecerdasan buatan.

Dalam pernyataan yang mengumumkan keputusan tersebut, BOJ mengatakan bahwa perkembangan ekonomi dan harga bergerak sesuai dengan proyeksi dasarnya. Namun, bank sentral Jepang itu memperingatkan adanya risiko inflasi yang mendasari dapat menyimpang dari target 2%.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6