Top 3: 25 Merek Beras Fortifikasi Ditarik, Mendag Pastikan Stok di Ritel Aman

Berikut tiga artikel terpopuler di Kanal Bisnis Liputan6.com yang dirangkum pada Jumat, (18/9/2026).

Diterbitkan 18 September 2026, 06:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso memastikan ketersediaan beras di pasar ritel tetap aman meski pemerintah tengah menarik 25 merek beras fortifikasi dari peredaran.

Penarikan dilakukan setelah hasil pengujian pemerintah menunjukkan puluhan merek tersebut tidak memenuhi standar kandungan gizi seperti yang tercantum pada label kemasan.

Budi menegaskan kondisi tersebut tidak akan mengganggu pasokan beras untuk masyarakat. Pemerintah telah menyiapkan tambahan pasokan melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

“Enggak (masalah), (stok) aman, aman,” kata Budi dikutip dari Antara, Kamis, 17 September 2026.

Menurut Budi, tambahan pasokan tersebut berasal dari Perum Bulog. Sebelumnya, pemerintah telah membahas tambahan satu juta ton beras SPHP dalam rapat koordinasi di Kementerian Koordinator Bidang Pangan.

“Bulog sudah menyampaikan untuk memasok satu juta ton SPHP berupa beras kita, waktu itu rapat di Kemenko Pangan. Jadi saya kira enggak ada masalah,” ujar dia.

Pemerintah juga memastikan distribusi beras tetap berjalan. Kementerian Perdagangan akan berkoordinasi dengan Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Kementerian Pertanian agar pasokan tetap tersedia di pasar.

Artikel 25 Merek Beras Fortifikasi Ditarik, Mendag Pastikan Stok di Ritel Aman menyita perhatian pembaca di Kanal Bisnis Liputan6.com. Ingin tahu artikel terpopuler lainnya di Kanal Bisnis Liputan6.com? Berikut tiga artikel terpopuler di Kanal Bisnis Liputan6.com yang dirangkum pada Jumat, (18/9/2026):

1. 25 Merek Beras Fortifikasi Ditarik, Mendag Pastikan Stok di Ritel Aman

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso memastikan ketersediaan beras di pasar ritel tetap aman meski pemerintah tengah menarik 25 merek beras fortifikasi dari peredaran.

Penarikan dilakukan setelah hasil pengujian pemerintah menunjukkan puluhan merek tersebut tidak memenuhi standar kandungan gizi seperti yang tercantum pada label kemasan.

Budi menegaskan kondisi tersebut tidak akan mengganggu pasokan beras untuk masyarakat. Pemerintah telah menyiapkan tambahan pasokan melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

“Enggak (masalah), (stok) aman, aman,” kata Budi dikutip dari Antara, Kamis, 17 September 2026.

Menurut Budi, tambahan pasokan tersebut berasal dari Perum Bulog. Sebelumnya, pemerintah telah membahas tambahan satu juta ton beras SPHP dalam rapat koordinasi di Kementerian Koordinator Bidang Pangan.

“Bulog sudah menyampaikan untuk memasok satu juta ton SPHP berupa beras kita, waktu itu rapat di Kemenko Pangan. Jadi saya kira enggak ada masalah,” ujar dia.

Pemerintah juga memastikan distribusi beras tetap berjalan. Kementerian Perdagangan akan berkoordinasi dengan Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Kementerian Pertanian agar pasokan tetap tersedia di pasar.

Berita selengkapnya baca di sini

2. Suku Bunga The Fed Naik, Rupiah Ditutup Merosot

Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali terkoreksi pada akhir perdagangan Kamis. Penurunan ini terjadi di tengah kuatnya sentimen kebijakan moneter global, terutama keputusan bank sentral AS yang mengambil langkah ketat terkait suku bunga acuan.

Berdasarkan data perdagangan sore ini, mata uang Garuda ditutup merosot 57 poin atau melemah 0,32 persen ke tingkat 17.753 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan hari sebelumnya, rupiah masih bertahan di posisi 17.696 per dolar AS.

Kondisi sejalan juga terlihat pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. Pada Kamis sore, kurs JISDOR tercatat merosot ke level 17.753 per dolar AS, setelah sebelumnya berada di posisi 17.712 per dolar AS.

Direktur Laba Forexindo Berjangka sekaligus analis mata uang, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak lepas dari manuver Federal Reserve (The Fed) yang resmi menaikkan suku bunga acuan Federal Funds Rate (FFR).

“Federal Open Market Committee (FOMC) memutuskan secara bulat untuk menaikkan suku bunga acuan federal funds rate ke kisaran 3,75 persen hingga 4,0 persen pada hari Rabu (16/9). Ini merupakan kenaikan suku bunga pertama bank sentral AS sejak Juli 2023,” kata Ibrahim dalam keterangan tertulis, Kamis (17/9/2026).

Berita selengkapnya baca di sini

3. Produksi Pesawat Terhambat, Saham Boeing Turun Tajam

Produksi Boeing 737 Max butuh waktu sedikit lebih lama atau molor dari perkiraan. Meskipun demikian, produsen pesawat asal Amerika Serikat tersebut optimistis dapat meningkatkan jumlah produksinya pada tahun depan.

Hal ini disampaikan CEO Boeing, Kelly Ortberg kepada para investor pada hari Rabu (16/9/2026) waktu setempat.

Menanggapi pernyataan Ortberg, saham Boeing kembali merosot dan terkoreksi lebih dari 5% pada perdagangan sesi sore. Pihak manufaktur sendiri terus berupaya meningkatkan kapasitas produksi pesawat terlarisnya tersebut secara bertahap, setelah sempat dihantam krisis keselamatan dan kualitas selama bertaraf bertahun-tahun.

Mengutip CNBC, Kamis (17/9/2026), Ortberg menjelaskan bahwa proses produksi sayap di pabrik Renton, Washington, saat ini menjadi hambatan utama. Namun, ia memastikan perusahaan telah menyiapkan langkah untuk mengatasinya.

Saat ini, Boeing memproduksi sekitar 47 unit pesawat per bulan.

Berita selengkapnya baca di sini

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6