Selain Selat Hormuz, Pengusaha Logistik Waspadai Blokade Laut Merah

ALFI Institute melihat jika Selat Hormuz diblokade, permintaan dunia harus terdiversifikasi antara lewat rute baru dan mengambil pasokan migas baru dari produsen lain.

Diterbitkan 25 Juni 2025, 10:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Institut Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI Institute) menilai, eskalasi konflik geopolitik Iran-Israel berpotensi mendorong kenaikan ongkos logistik internasional. Terutama usai adanya ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran. 

Lantaran, konflik Iran-Israel diklaim punya dampak lebih luas terhadap sensitivitas harga acuan komoditas global yang cenderung meningkat signifikan, khususnya harga minyak dan gas.

Tak hanya Selat Hormuz, Ketua ALFI Institute Yukki Nugrahawan Hanafi menyatakan, para pengusaha logistik internasional juga mulai menghindari perairan di wilayah yang berdekatan. Juga muncul kekhawatiran dampak lanjutan blokade Laut Merah, yang jadi akses perairan dari dan menuju Eropa melalui Terusan Suez, Mesir. 

"Di mana retaliasi juga dapat dilakukan oleh kelompok Houthi yang memiliki kepentingan kedekatan dengan Iran," kata Yukki kepada Liputan6.com, Selasa (24/6/2025).

ALFI Institute juga melihat perubahan jalur logistik dan kenaikan harga komoditas dapat memberikan efek ganda terhadap kenaikan ongkos logistik.

Menurut dia, blokade Selat Hormuz akan mendisrupsi pasokan minyak dan gas dunia, di mana diestimasikan 20-30 persen pasokan dunia melalui wilayah tersebut. 

"Jika Selat Hormuz diblokade, permintaan dunia harus terdiversifikasi antara melalui rute baru atau mengambil pasokan migas baru dari produsen lain dunia selain dari Timur Tengah," ungkap dia. 

Harga Minyak Global Naik 12%

Menurut catatannya, sejak konflik Iran dan Israel berlangsung pada pertengahan Juni 2025, harga minyak global naik hampir 12 persen ke titik tertinggi, dari USD 69 per barel menjadi USD 78 per barel. 

Kendati sempat bertahan pada kisaran USD 75 per barel dan turun kembali ke titik lebih rendah hingga USD 65 per barel per 24 Juni 2025, saat Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata. 

"Meskipun demikian, patut digarisbawahi bahwa kenaikan 12 persen dalam waktu yang cukup singkat ketika eskalasi konflik meningkat pada komoditas minyak dikhawatirkan akan terus berlanjut jika konflik berlangsung lebih lama," tegasnya. 

Kalkulasi Risiko

Sebagai langkah mitigasi, saat ini para pelaku usaha logistik rantai pasok disebutnya telah melakukan kalkulasi risiko melewati wilayah perairan yang berdekatan dengan Selat Hormuz, khususnya setelah serangan AS ke Iran. 

Dengan mitigasi risiko tersebut, akses dan ketersediaan pengiriman laut yang melewati perairan tersebut dapat berkurang. Lantaran banyak pelaku usaha logistik memilih untuk melakukan diversifikasi rute pelayaran, sehingga mengganggu rantai pasok global. 

"Dari sisi operasional, para pelaku usaha logistik dan rantai pasok juga melakukan mitigasi terhadap resiko pengiriman. Dengan melakukan tracking real time pelayaran, berkoordinasi dengan berbagai global partner, serta menyusun berbagai skenario kontijensi jika Selat Hormuz diblokade dan armada logistik dalam keadaan darurat (force majeure)," tuturnya.

"Faktor efisiensi operasi juga menjadi perhatian. Khususnya dalam memerhatikan kenaikan biaya akibat peningkatan harga komoditas yang akan berdampak pada biaya operasional perusahaan (operating cost)," dia menekankan.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6