The Fed Pangkas Suku Bunga Berpotensi Kerek Harga Emas

Pengamat prediksi harga emas dunia berpotensi tembus US$ 5.000 pada akhir tahun.

Diterbitkan 05 Juli 2026, 22:29 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai, arah kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/the Fed) berpotensi menjadi sentimen positif bagi harga emas dunia.  Dia menuturkan, sejumlah indikator ekonomi terbaru menunjukkan tekanan inflasi mulai mereda sehingga peluang kenaikan suku bunga semakin kecil.

"Data ekonomi Amerika Serikat, terutama dari sektor ketenagakerjaan dan pengangguran, menunjukkan kondisi yang lebih mendingin dari ekspektasi. Di sisi lain, harga minyak mentah juga terus mengalami penurunan,” ujar Ibrahim di Jakarta, Minggu (5/7/2026).

Ia menjelaskan, penurunan harga minyak berpotensi menekan inflasi di Amerika Serikat. Kondisi tersebut membuat The Fed diperkirakan memilih mempertahankan suku bunga dalam waktu dekat, bahkan membuka peluang untuk memangkasnya apabila inflasi terus bergerak menuju target 2%.

“Kalau inflasi terus mendekati 2%, kemungkinan besar The Fed bukan lagi menaikkan suku bunga, tetapi justru akan menurunkannya. Itu menjadi sentimen yang sangat positif bagi harga emas,” katanya.

Menurut Ibrahim, ekspektasi penurunan suku bunga menjadi salah satu faktor yang mendorong harga emas kembali menguat. Ia memperkirakan tren kenaikan masih akan berlanjut apabila harga minyak tetap melemah dan inflasi Amerika Serikat terus terkendali.

“Momentum ini membuat harga emas dunia kembali menguat. Bahkan, jika kondisi tersebut terus berlanjut, harga emas berpeluang kembali menembus level di atas 5.000 hingga akhir tahun,” ucapnya.

Selain faktor kebijakan moneter, Ibrahim menambahkan pergerakan harga emas juga dipengaruhi oleh keseimbangan pasokan dan permintaan global. Menurut dia, perkembangan kedua faktor tersebut akan tetap menjadi perhatian pelaku pasar dalam beberapa bulan ke depan.

Harga Emas Dunia Akhiri Tren Penurunan Empat Pekan

Sebelumnya, harga emas dunia bersiap mencatat kenaikan mingguan pertama dalam satu bulan setelah investor mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed). Sentimen tersebut muncul menyusul rilis data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan pasar.

Dikutip dari CNBC, Sabtu (4/7/2026), harga emas spot melonjak 1,4% menjadi US$ 4.182,28 per ons. Dengan capaian tersebut, logam mulia diperkirakan membukukan kenaikan sekitar 2,3% sepanjang pekan, sekaligus mengakhiri tren penurunan yang berlangsung selama empat pekan berturut-turut.

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman terdekat naik sekitar 1,5% pada perdagangan intraday.

Sepanjang 2026, harga emas dunia berada di bawah tekanan. Kenaikan inflasi, menguatnya dolar AS, serta sikap agresif sejumlah bank sentral setelah pecahnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran membuat minat investor terhadap aset safe haven berkurang.

Akibat tekanan tersebut, emas mencatat kinerja kuartalan terburuk dalam 13 tahun pada periode April hingga Juni. Hingga kini, harga emas masih diperdagangkan sekitar 22% di bawah rekor tertinggi sepanjang masa yang sempat menyentuh lebih dari US$ 5.300 per ons pada Januari lalu.

Ruang The Fed Menaikkan Suku Bunga

Pemulihan harga emas pekan ini dipicu oleh laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dirilis pada Kamis waktu setempat. Data nonfarm payrolls menunjukkan ekonomi AS hanya menambah 57.000 lapangan kerja pada Juni.

Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan revisi data Mei yang mencapai 129.000 pekerjaan maupun proyeksi ekonom yang dihimpun Dow Jones sebesar 115.000 pekerjaan.

Laporan itu membuat pelaku pasar menilai ruang bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga semakin terbatas.

Berdasarkan alat pemantau FedWatch milik CME Group, pasar kini memperkirakan peluang sebesar 53,5% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga setidaknya 25 basis poin pada pertemuan September, setelah mempertahankan suku bunga pada Juli.

Angka tersebut turun dibandingkan sebelum data ketenagakerjaan dirilis. Saat itu, probabilitas kenaikan suku bunga pada September masih berada di kisaran 65%.

Ekspektasi suku bunga yang lebih rendah biasanya menjadi sentimen positif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil, sehingga lebih menarik ketika suku bunga diperkirakan tidak lagi naik agresif.

Harga Logam Lainnya juga Naik

Kenaikan tidak hanya terjadi pada emas. Harga logam mulia lainnya juga menguat pada perdagangan Jumat.

Harga perak spot melonjak 2,9% menjadi US$ 62,77 per ons dan berpeluang mencatat kenaikan mingguan sekitar 6,7%. Sementara itu, kontrak berjangka perak untuk pengiriman Agustus naik sekitar 3,5%.

Di sisi lain, harga platinum menguat sekitar 2,8% menjadi US$ 1.660,10 per ons, sedangkan palladium naik sekitar 1% ke level US$ 1.280,09 per ons.

Dalam riset yang diterbitkan pada Jumat, analis OCBC menyatakan mulai lebih optimistis terhadap prospek harga emas setelah rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan.

"Data nonfarm payrolls yang lebih lemah dari perkiraan membantu mengurangi risiko sikap agresif (hawkish) The Fed. Dalam jangka pendek, kami mengubah pandangan dari berhati-hati menjadi optimistis secara terukur. Harga emas berpeluang melanjutkan pemulihan apabila data ekonomi Amerika Serikat berikutnya terus menekan imbal hasil riil dan dolar AS," tulis analis OCBC.

Meski demikian, OCBC mengingatkan investor agar tidak terlalu cepat bereuforia. Menurut mereka, tingkat pengangguran yang masih stabil, sikap The Fed yang tetap cenderung hawkish, serta risiko inflasi yang belum mereda membuat investor tetap perlu berhati-hati.

"Dengan tingkat pengangguran yang masih stabil, pernyataan pejabat The Fed yang tetap bernada hawkish, serta risiko inflasi yang masih tinggi, investor tetap perlu bersikap hati-hati dalam jangka pendek," lanjut OCBC.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6