Harga Emas Bangkit dari Titik Terendah Didorong Pernyataan Ketua The Fed

Harga emas dunia melonjak lebih dari 2% setelah data tenaga kerja AS lebih lemah dari perkiraan dan pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh.

Diterbitkan 02 Juli 2026, 07:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia melonjak lebih dari 2% pada perdagangan Rabu setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) menunjukkan pelemahan. Sentimen positif juga datang dari pernyataan Ketua Federal Reserve (The Fed), Kevin Warsh, yang menilai risiko inflasi mulai mereda.

Dikutip dari CNBC, Kamis (2/7/2026), harga emas di pasar spot naik 2,1% menjadi US$ 4.089,49 per ounce, setelah sehari sebelumnya sempat menyentuh level terendah sejak November 2025. Pada kuartal II 2026, logam mulia tersebut juga mencatatkan kinerja negatif.

Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus menguat 1,6% ke level US$ 4.103,10 per ounce.

Pedagang logam independen, Tai Wong, mengatakan bahwa pelemahan data tenaga kerja swasta AS menjadi pemicu utama kenaikan harga emas. Di sisi lain, komentar Ketua The Fed mengenai inflasi turut mendorong penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS sehingga meningkatkan daya tarik emas.

"Emas mengalami kenaikan yang cukup baik. Data lapangan kerja yang lebih rendah dari perkiraan menjadi pemicu awal, sementara komentar Ketua The Fed bahwa inflasi mulai menurun membuat imbal hasil obligasi turun dan mendorong pasar emas yang sebelumnya lesu kembali bergairah," kata Wong.

Ia menambahkan, harga emas berpotensi membentuk dasar penguatan dalam jangka pendek, kecuali jika laporan ketenagakerjaan nonpertanian (non-farm payrolls/NFP) yang dirilis Kamis nanti menunjukkan hasil yang jauh lebih kuat dari ekspektasi.

 

Risiko Inflasi AS

Di sisi lain, Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan ekspektasi maupun risiko inflasi dalam beberapa pekan terakhir mulai menurun. Meski demikian, ia kembali menegaskan komitmen bank sentral AS untuk membawa inflasi kembali ke target 2%.

Emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Namun, kenaikan suku bunga umumnya mengurangi daya tarik logam mulia karena emas tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen keuangan lainnya.

Saat ini, pelaku pasar memperkirakan peluang sekitar 67% bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga pada September mendatang, berdasarkan alat pemantau CME FedWatch.

Dari sisi geopolitik, Amerika Serikat dan Iran juga menggelar pembicaraan teknis di Doha pada Rabu. Kedua negara berupaya mencapai kesepakatan terkait kelancaran pelayaran di Selat Hormuz sekaligus mengamankan gencatan senjata yang berkelanjutan, menurut seorang pejabat Iran.

 

Logam Lainnya

Sementara itu, logam mulia lainnya juga mencatat penguatan. Harga perak spot naik 2,8% menjadi US$ 60,24 per ounce dan palladium menguat 1,6% ke US$ 1.223,68 per ounce

Untuk platinum melonjak 3,1% menjadi US$ 1.599,36 per ounce setelah sebelumnya sempat menyentuh level terendah sejak November tahun lalu.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6