Harga Emas Dunia Naik Dipicu Pelemahan Dolar AS

Harga emas dunia berpotensi mencatat kenaikan mingguan setelah dolar AS melemah dan taruhan kenaikan suku bunga The Fed mereda.

Diterbitkan 15 Agustus 2026, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia menguat pada perdagangan Jumat dan berada di jalur kenaikan mingguan. Penguatan harga emas didorong pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) setelah data inflasi AS yang dirilis pekan ini memperkuat ekspektasi pasar bahwa Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan bulan depan.

Mengutip CNBC, Sabtu (15/8/2026), harga emas di pasar spot naik 0,7% menjadi US$ 4.379,39 per ounce. Pada perdagangan sebelumnya, harga emas terkoreksi 1,3% akibat aksi ambil untung setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak 5 Juni.

Secara mingguan, harga emas telah menguat sekitar 1%.

Sementara itu, harga emas berjangka AS naik 0,4% menjadi US$ 4.437,30 per ounce.

“Indeks dolar AS yang lebih rendah merupakan pasar eksternal yang mendukung dan membantu harga emas hari ini,” kata Jim Wyckoff, analis pasar di American Gold Exchange.

Indeks dolar AS turun 0,4%. Pelemahan tersebut membuat emas yang dihargai dalam dolar AS menjadi lebih murah bagi pembeli di luar Amerika Serikat.

 

Skspektasi Suku Bunga The Fed

Harga emas juga mendapat dukungan dari penurunan tak terduga data nonfarm payrolls AS pada Juli. Selain itu, data inflasi yang dirilis pekan ini sebagian besar sesuai dengan perkiraan pasar.

Kondisi tersebut membuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada bulan depan turun signifikan. Sebagian besar analis kini memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,50%-3,75%.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September hanya sebesar 31%. Angka tersebut turun dari sekitar 55% pada pekan sebelumnya.

“Karena kami memperkirakan The Fed tidak akan menaikkan suku bunga, harga emas masih memiliki potensi kenaikan lebih lanjut,” kata Commerzbank dalam sebuah catatan.

Suku bunga yang lebih rendah biasanya menjadi sentimen positif bagi emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbasis bunga.

 

Sentimen Geopolitik

Di sisi lain, perkembangan geopolitik juga menjadi perhatian pasar. Aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz dilaporkan hampir terhenti setelah dua kapal kembali diserang. Amerika Serikat juga menyatakan dapat mempertahankan blokade laut terhadap Iran tanpa batas waktu tertentu.

Kabar tersebut turut mendorong harga minyak dan membuat komoditas energi tersebut berada di jalur kenaikan mingguan.

Namun, kenaikan harga minyak dapat menjadi sentimen negatif bagi pasar logam mulia. Pasalnya, harga minyak yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan inflasi dan mendorong bank sentral mempertimbangkan kenaikan suku bunga.

“Jika harga minyak mentah terus naik, hal itu akan menjadi elemen bearish bagi pasar logam karena dapat mendorong inflasi dan membuat bank sentral menaikkan suku bunga,” ujar Wyckoff.

Sementara itu, di India, diskon harga emas melebar hingga mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua bulan. Kondisi tersebut menunjukkan permintaan emas di salah satu pasar konsumen utama dunia masih menghadapi tekanan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6