Harga Emas Dunia Hari Ini Tergelincir

Kekhawatiran inflasi kembali muncul sehingga memicu harapan kenaikan suku bunga the Fed. Sentimen itu menekan harga emas dunia.

Diterbitkan 01 Juli 2026, 06:48 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia melemah pada perdagangan Selasa, 30 Juni 2026 (Rabu pagi Jakarta). Harga emas berada di jalur penurunan kuartalan paling tajam dalam 13 tahun seiring kekhawatiran inflasi yang berasal dari konflik Timur Tengah memperkuat harapan the Federal Reserve (the Fed) dapat menaikkan suku bunga.

Mengutip CNBC, Rabu, (1/7/2026), harga emas spot turun 0,2% menjadi US$ 4.008,94 per ons setelah mencapai level terendah sejak November. Harga emas merosot 11,3% pada Juni 2026. Sementara itu, kontrak berjangka emas untuk pengiriman Agustus merosot 0,4% menjadi US$ 4.022,70 per ons.

Di antara logam lainnya, harga perak turun 0,8% menjadi US$ 58.2585 per ons. Harga perak menuju penurunan kuartalan terburuk sejak kuartal pertama 2020.

Harga platinum merosot 0,7% menjadi US$ 1.564,34 dan paladium naik 0,2% menjadi US$ 1.215,94. Dua logam itu berada di jalur untuk mencatat penurunan bulanan dan kuartalan.

Adapun logam mulia menuju penurunan kuartalan pertama sejak 2024, dan koreksi paling tajam sejak kuartal Juni 2013.

Meskipun emas biasanya dilihat sebagai lindung nilai terhadap inflasi, suku bunga yang lebih tinggi cenderung membebani logam yang tidak memberikan imbal hasil ini.

"Pasar agak gelisah tentang seberapa stabil [nota kesepahaman] tersebut dan ada tekanan pada emas karena orang-orang tidak melihat banyak harapan di ujung terowongan,” ujar analis Marex, Edward Meir.

Para utusan utama AS yang telah tiba di Doha tidak akan mengadakan pertemuan tingkat tinggi dengan Iran, kata seorang pejabat Qatar.

Hal itu menimbulkan keraguan tentang kemajuan upaya untuk menghentikan perang Iran secara permanen.

 

Inflasi dan Suku Bunga AS

Sementara itu, inflasi AS tetap tinggi dan jauh di atas target 2% Federal Reserve (the Fed). Pasar memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi untuk jangka waktu yang lama dan bahkan mungkin mempertimbangkan kenaikan suku bunga lebih lanjut, kata Meir, mencatat bahwa ekspektasi ini membebani harga emas.

Para pedagang memperkirakan, sekitar 65% kemungkinan kenaikan suku bunga pada September, menurut alat CME FedWatch. Investor kini mengamati data ketenagakerjaan ADP yang akan dirilis pada hari Rabu dan data penggajian non-pertanian AS yang akan dirilis pada Kamis untuk mengukur lebih lanjut sikap kebijakan moneter The Fed.

Sementara itu, survei OMFIF menunjukkan bank sentral lebih cenderung mengurangi eksposur dolar AS selama dekade berikutnya karena meningkatnya kekhawatiran geopolitik, sambil meningkatkan kepemilikan emas dalam jangka pendek.

Harga Emas Turun ke Level Terendah 7 Bulan

Sebelumnya, harga emas dunia kembali melemah pada perdagangan Senin setelah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memicu lonjakan harga minyak. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran baru terhadap inflasi sehingga memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) masih berpeluang menaikkan suku bunga tahun ini.

Dikutip dari CNBC, Selasa (30/6/2026), harga emas di pasar spot turun 1,7% menjadi US$ 4.019,79 per ons. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus ditutup melemah 1,4% ke level US$ 4.038,90 per ons. Sebelumnya, harga emas sempat menyentuh titik terendah dalam lebih dari tujuh bulan.

Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant, mengatakan bahwa pelaku pasar masih sangat mencermati perkembangan situasi di Timur Tengah.

"Pasar saat ini sangat mencermati perkembangan situasi di Timur Tengah. Ketegangan memang kembali meningkat pada akhir pekan, sementara pelaku pasar juga masih menyesuaikan diri dengan sikap Federal Reserve yang kini cenderung lebih agresif dalam kebijakan moneternya," kata Peter Grant.

Menurutnya, meningkatnya ketegangan geopolitik pada akhir pekan membuat pasar kembali berhati-hati. Di saat yang sama, investor juga masih menyesuaikan diri dengan sikap Federal Reserve yang cenderung lebih agresif dalam kebijakan moneternya.

 

Aset Safe Haven Terkikis Harga Energi

Ketegangan meningkat setelah Iran meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain pada Minggu. Serangan itu terjadi tidak lama setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghancurkan kepemimpinan Iran apabila negara tersebut tidak mematuhi ketentuan dalam perjanjian damai yang sedang dirundingkan.

Meningkatnya eskalasi konflik tersebut langsung mendorong kenaikan harga minyak mentah Brent di pasar global.

Di satu sisi, emas selama ini dikenal sebagai aset safe haven yang biasanya diburu investor saat ketidakpastian geopolitik meningkat. Namun kali ini, lonjakan harga energi akibat konflik justru memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi.

Kondisi tersebut meningkatkan peluang suku bunga tetap tinggi atau bahkan kembali dinaikkan. Situasi ini menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga.

Federal Reserve sendiri pada bulan ini mempertahankan suku bunga acuannya. Meski demikian, para pembuat kebijakan memperkirakan masih ada peluang kenaikan suku bunga pada tahun ini karena inflasi masih berada di atas target bank sentral sebesar 2%.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6