Sukses

Berangkat dari Hobi, Duta Petani Milenial asal Jakarta Raup Cuan Jutaan Rupiah

Liputan6.com, Jakarta Jakarta terkenal sebagai pusat kota, pusat pemerintahan, pusat bisnis dengan semua hiruk pikuknya. Namun, Jakarta  masih memiliki sekitar 414 hektare area persawahan, tersebar di wilayah Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Jakarta Timur. Tak hanya itu di Jakarta Selatan tepatnya di Jagakarsa ada lahan seluas 1.000m2 yang dikelola oleh pemuda asli Jakarta dengan komoditi hortikutura. 

Potensi ini dimanfaatkan Ahmad Fahrizal (33), pemuda asli Jakarta yang memutuskan untuk menjadi petani milenial dengan fokus pada komoditas hortikultura.

Ahmad Fahrizal adalah salah satu Duta Petani Milenial/Duta Petani Andalan (DPM/DPA) Kementerian Pertanian.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, mengatakan peran DPM/DPA sangat penting untuk pertanian.

"DPM/DPA dapat menjadi pengungkit regenerasi petani yang adaptif teknologi serta mewujudkan target 2,5 juta pengusaha pertanian mendukung ketahanan pangan nasional," katanya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi, menambahkan keberadaan DPM/DPA sebagai pembawa semangat bagi generasi muda untuk bersama-sama mewujudkan regenerasi pertanian.

“Sektor pertanian merupakan sektor uang menjanjikan bagi generasi milenial. Di sektor ini lapangan kerja terbuka lebar dengan prospektif dan  menguntungkan dan dapat berdampak pada penurunan angka pengangguran serta terjadinya urbanisasi. Dengan memberdayakan para pemuda untuk memanfaatkan sumber daya alam pertanian di pedesaan secara optimal, profesional, menguntungkan dan berkelanjutan, tentunya mereka ini akan siap menghadapi era milenial," ungkap Dedi.

 

Berawal dari budidaya Basil, yakni tanaman rempah yang digunakan sebagai bumbu masak serta digunakan sebagai obat Kesehatan bila telah di ekstrak menjadi minyak serta tanaman sayur lainnya, Ahmad kini juga membudidayakan alpukat serta mengelola eduwisata tanaman hortikultura di wilayah Jagakarsa.

Bahkan ia pun telah berhasil memasok supermarket serta restaurant di daerah Jakarta dengan sayuran produksinya.

Terkait Alpukat Cipedak, milenial yang akrab disapa Izay ini menjelaskan bahwa  saat ini pertanian di Jakarta kurang dilirik. Nyatanya  di daerah Cipedak Jagakarasa warganya mengembangkan alpukat sebagai ciri khas wilayahnya dengan nama Alpukat Cipedak.

Berdasarkan sejarahnya alpukat ini sendiri  ditemukan tahun 1990-an oleh Nisan Badar di daerah Cipedak. Baru setelah memasuki tahun 2000-an, diperbanyak dan menjadi salah satu icon daerah Cipedak.

“Konsumen menyebutnya  alpukat mentega, tetapi sebenarnya beda rasanya dengan alpukat mentega. Alpukat Cipedak ini rasanya gurih dan tidak hambar, makanya suka cocok diberikan untuk bayi. Saya mengembangkan usaha perbibitan alpukat ini bukan hanya sebatas dari rasanya saja. Keunggulan yang paling penting adalah tahan terhadap hama dan penyakit serta akarnya tidak merusak lantai. Jadi akarnya itu menebus ke dalam tanah, bukan kepinggir-pinggirnya. Makanya ketika pohonnya mulai meninggi dan besar, tidak merusak tanah,” ungkap Izay.

Ketika ditanya mengapa memutuskan menjadi petani, Izay mengkisahkan  pada awalnya ia  merupakan penyuluh pertanian, tetapi akhirnya ia memutuskan untuk terjun langsung menjadi  petani  dan fokus pada sektor hortikultura khususnya alpukat.

“Bertani adalah hobi saya, dan sektor ini memiliki peluang yang sangat tinggi, baik peluang bisnis maupun peluang untuk bertemu dengan para petani, pengusaha sukses lainnya. Indonesia ini negara agraris yang sangat potensial untuk sektor petanian, rasanya saying kalau kita tidak manfaatkan dan lestarikan,” paparnya.

“Orang-orang itu enggan menanam alpukat karena banyak ulatnya. Tetapi saya tertarik me ngembangkan karena ternyata alpukat ini tidak mudah terkena hama dan penyakit serta merupakan salahsatu alpukat terbaik dari 30 varietas yang ada di dunia. Sempat diklaim sebagai alpukat dari Depok, yakni dinamakan Alpukat Miki. Tetapi kita tahu bahwa itu sebenarnya Alpukat Cipedak, akhirnya kita langsung daftarkan dan di tahun 2015 alpukat ini sudah legal dan dinamakan Varietas Alpukat Cipedak,” terang Izay yang tergabung juga dalam Petani Muda Community.

 

Tak ingin varietas ini punah, Izay Bersama rekan-rekannya yang tergabung dalam komunitas petani muda pun melakukan perbanyakan bibitnya dengan sambung dini.

“Sejauh ini, petani milenial memang harus berkomunitas, selain untuk mendapatkan peluang, kita juga bisa saling bertukar informasi dan belajar, sehingga bisa bertumbuh dan sukses bersama. Maka saya bersama rekan-rekan dikomunitas pun berupaya untuk meningkatkan pembibitan dengan sambung dini," katanya.

Sebelumnya dilakukan sambung pucuk yang konvensional dengan  panjang batangnya  30 cm dari tanah,tetapi dengan metode sambung pucuk dini, panjang batang yang diperlukan hanya 10 cm saja dari tanah.

“Kalau dengan perbanyak sambung pucuk dini akan jauh lebih cepat berbuah dan tidak akan mengurangi rasa atau produksi,” ungkapnya.

Dengan penemuan teknik perbanyakan  bibit sambung pucuk dini, membuat Achmad menjadi salahsatu penangkar Alpukat Cipedak yang cukup terkenal di Jakarta, khususnya daerah Jakarta Selatan (Cipedak). Di lahan seluas 1.000 m2 Izay mampu  produksi 1.000 – 3.000 bibit per bulan.

“Sekarang kan pohon induk langka, jadi ya tidak bisa kita mau mengembangkannya hanya dari pohon induknya saja. Jadi gimana caranya? Ya perbanyakan dengan sambung pucuk dini ini-lah. Makanya saya bisnisnya lebih ke perbibitannya bukan jual ke buahnya yang dijual perbibitnya mencapai  Rp 75 ribu per bibit,” jelasnya.

Izay  optimis usahanya bisa terus berkembang. Sebagai milenial ia pun memanfaatkan media sosial yaitu Instagram ahmadfahrizal6324 dan Youtube Peralpukatanduniawi dan Insinyurtanitv dimanfaatkan olehnya sebagai sarana pemasaran selain juga sebagai  sarana edukasi.

Bersama rekan-rekannya ia pun memiliki strategi pemasaran dengan empat segmen konsumen. Segmen pertama adalah perorangan dimana konsumen ini membeli bibitnya untuk ditanam di halaman rumah dengan tambulampot.

Segmen kedua adalah konsumen hobi, dimana mereka membutuhkan bibit dengan karakteristik tertentu baik dari ukuran, warna buah dan ukuran, untuk segmen ini konsumen harus menunggu (indent) karena perlu penanganan khusus terkait bibitnya.

Segmen ketiga adalah konsumen yang berasal dari pemerintah, biasanya pemerintah membutuhkan bibit dalam jumlah besar untuk dibagi-bagikan atau ditanam dibeberapa lokasi. Dan, segmen terakhir adalah pekebun, dimana konsumen memiliki kebun di daerah maka mereka membutuhkan bibit dalam jumlah besar dengan terus menerus.

”Bila semua segmen ini dapat kami tembus dan kami penuhi permintaan pasarnya maka kami yakin seluruh kebutuhan petani dapat terpenuhi dan akhirnya petani di Indonesia akan sejahtera,” ungkap Izay optimis.