OJK: Transisi Ekonomi Rendah Karbon Buka Peluang Bisnis, Bukan Sekadar Kewajiban

Perusahaan yang mampu beradaptasi melalui inovasi dan investasi hijau akan memperoleh kepercayaan pasar sekaligus memiliki ketahanan yang lebih kuat.

Diterbitkan 30 Juni 2026, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi, menegaskan perusahaan yang bergerak lebih cepat dalam transisi menuju ekonomi rendah karbon akan menjadi pemenang di masa depan.

"Transisi menuju ekonomi rendah karbon bukan hanya sebuah keharusan dari sisi lingkungan, tetapi juga peluang ekonomi yang sangat besar. Mereka yang berinovasi dan berinvestasi lebih awal akan berada pada posisi yang lebih baik untuk menciptakan nilai dan ketahanan jangka panjang," kata Friderica di Jakarta, Selasa (30/6/2026).

Menurutnya, keberlanjutan kini bukan lagi sekadar agenda lingkungan, melainkan strategi bisnis yang mampu menciptakan nilai tambah dan meningkatkan daya saing.

Ia mengatakan perubahan iklim telah berkembang menjadi risiko ekonomi yang nyata. Perusahaan yang mampu beradaptasi melalui inovasi dan investasi hijau akan memperoleh kepercayaan pasar sekaligus memiliki ketahanan yang lebih kuat menghadapi berbagai tantangan global.

Perempuan yang akrab disapa Kiki ini mengutip pandangan mantan Gubernur Bank of England, Mark Carney yang menyebut perubahan iklim sebagai ancaman eksistensial.

Menurutnya, penciptaan instrumen keuangan baru, pengembangan teknologi, hingga transformasi model bisnis merupakan langkah penting dalam menciptakan nilai ekonomi di tengah proses transisi tersebut.

"Mark Carney pernah mengatakan bahwa perubahan iklim merupakan ancaman eksistensial. Ketika kita menciptakan instrumen baru, mengembangkan teknologi baru, dan mengubah cara menjalankan bisnis, sesungguhnya kita sedang menciptakan nilai," ujarnya.

Ia menilai pernyataan tersebut sangat relevan dengan kondisi saat ini, di mana transisi menuju ekonomi rendah karbon bukan hanya menjadi kewajiban dari sisi lingkungan, tetapi juga peluang ekonomi yang sangat besar. 

 

 

 

 

Jadi Tantangan Besar Bagi Stabilitas Sistem Keuangan

 

Menurut Friderica, dunia saat ini menghadapi berbagai tantangan yang saling berkaitan, mulai dari ketegangan geopolitik, gangguan rantai pasok, volatilitas pasar, hingga perubahan iklim.

Di antara berbagai tantangan tersebut, perubahan iklim menjadi salah satu risiko terbesar karena berdampak langsung terhadap stabilitas sistem keuangan, keputusan investasi, dan prospek pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Oleh karena itu, ia menekankan ketahanan ekonomi tidak cukup dibangun melalui kebijakan jangka pendek. Dibutuhkan transformasi struktural yang didukung oleh sektor jasa keuangan agar mampu memobilisasi pembiayaan dan mempercepat transisi menuju ekonomi berkelanjutan.

"Dalam situasi seperti ini, ketahanan tidak cukup dibangun melalui respons jangka pendek. Yang dibutuhkan adalah transformasi struktural. Di sinilah sektor jasa keuangan memiliki peran yang sangat penting dalam memobilisasi pembiayaan dan mempercepat transisi menuju ekonomi yang berkelanjutan," pungkasnya.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6