Harga Emas Antam Hari Ini 1 Juli 2026 Turun Rp 5.000, Simak Daftar Lengkapnya

Berikut daftar lengkap harga emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada Rabu, (1/7/2026).

Diterbitkan 01 Juli 2026, 10:44 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas yang dijual PT Aneka Tambang Tbk (Antam), Rabu (1/7/2026) kembali merosot. harga emas antam hari ini turun Rp 5.000.  Ini adalah penurunan ketiga pekan ini setelah pada perdagangan Selasa harga emas Antam lebih murah Rp 15.000.

Mengutip laman Logam Mulia, harga emas antam hari ini dipatok Rp 2.625.000 per gram. Pada perdagangan kemarin, harga emas antam ditetapkan Rp 2.630.000 per gram.

Harga buyback emas Antam juga ikut turun dan mencatat penurunan lebih besar. Harga buyback emas Antam hari ini turun Rp 15.000 menjadi Rp 2.320.000.

Sebagai informasi, harga buyback merupakan harga yang berlaku jika pemilik emas menjual kembali emasnya kepada Antam. Dengan demikian, Antam akan membeli emas tersebut seharga Rp 2.320.000 per gram.

Harga emas Antam pernah mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah pada Kamis, 29 Januari 2026, yakni sebesar Rp 3.168.000 per gram. Sementara itu, harga buyback saat itu berada di level Rp 2.989.000 per gram.

Informasi mengenai harga emas antam ini bersumber dari situs resmi Logam Mulia, unit bisnis PT Aneka Tambang Tbk. Dengan demikian, data yang disajikan memiliki tingkat akurasi dan kredibilitas yang tinggi bagi masyarakat.

Berikut daftar harga emas antam terbaru:

  • Harga emas 0,5 gram: Rp 1.362.500.
  • Harga emas 1 gram: Rp 2.625.000.
  • Harga emas 2 gram: Rp 5.200.000.
  • Harga emas 3 gram: Rp 7.782.000.
  • Harga emas 5 gram: Rp 12.940.000.
  • Harga emas 10 gram: Rp 25.800.000.
  • Harga emas 25 gram: Rp 64.335.000.
  • Harga emas 50 gram: Rp 128.505.000.
  • Harga emas 100 gram: Rp 256.860.000.
  • Harga emas 250 gram: Rp 641.840.000.
  • Harga emas 500 gram: Rp 1.283.400.000.
  • Harga emas 1.000 gram: Rp 2.565.600.000.

 

Harga Emas Dunia

Sebelumnya, harga emas dunia melemah pada perdagangan Selasa, 30 Juni 2026 (Rabu pagi Jakarta). Harga emas berada di jalur penurunan kuartalan paling tajam dalam 13 tahun seiring kekhawatiran inflasi yang berasal dari konflik Timur Tengah memperkuat harapan the Federal Reserve (the Fed) dapat menaikkan suku bunga.

Mengutip CNBC, Rabu, (1/7/2026), harga emas spot turun 0,2% menjadi US$ 4.008,94 per ons setelah mencapai level terendah sejak November. Harga emas merosot 11,3% pada Juni 2026.

Sementara itu, kontrak berjangka emas untuk pengiriman Agustus merosot 0,4% menjadi US$ 4.022,70 per ons.

Di antara logam lainnya, harga perak turun 0,8% menjadi US$ 58.2585 per ons. Harga perak menuju penurunan kuartalan terburuk sejak kuartal pertama 2020.

Harga platinum merosot 0,7% menjadi US$ 1.564,34 dan paladium naik 0,2% menjadi US$ 1.215,94. Dua logam itu berada di jalur untuk mencatat penurunan bulanan dan kuartalan.

Adapun logam mulia menuju penurunan kuartalan pertama sejak 2024, dan koreksi paling tajam sejak kuartal Juni 2013.

Meskipun emas biasanya dilihat sebagai lindung nilai terhadap inflasi, suku bunga yang lebih tinggi cenderung membebani logam yang tidak memberikan imbal hasil ini.

"Pasar agak gelisah tentang seberapa stabil [nota kesepahaman] tersebut dan ada tekanan pada emas karena orang-orang tidak melihat banyak harapan di ujung terowongan,” ujar analis Marex, Edward Meir.

 

Sentimen Harga Emas Lainnya

Para utusan utama AS yang telah tiba di Doha tidak akan mengadakan pertemuan tingkat tinggi dengan Iran, kata seorang pejabat Qatar.

Hal itu menimbulkan keraguan tentang kemajuan upaya untuk menghentikan perang Iran secara permanen.

Sementara itu, inflasi AS tetap tinggi dan jauh di atas target 2% Federal Reserve (the Fed). Pasar memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi untuk jangka waktu yang lama dan bahkan mungkin mempertimbangkan kenaikan suku bunga lebih lanjut, kata Meir, mencatat bahwa ekspektasi ini membebani harga emas.

Para pedagang memperkirakan sekitar 65% kemungkinan kenaikan suku bunga pada September, menurut alat CME FedWatch. Investor kini mengamati data ketenagakerjaan ADP yang akan dirilis pada hari Rabu dan data penggajian non-pertanian AS yang akan dirilis pada Kamis untuk mengukur lebih lanjut sikap kebijakan moneter The Fed.

Sementara itu, survei OMFIF menunjukkan bank sentral lebih cenderung mengurangi eksposur dolar AS selama dekade berikutnya karena meningkatnya kekhawatiran geopolitik, sambil meningkatkan kepemilikan emas dalam jangka pendek.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6