Menunggu Ombak Surut Demi Merah Putih di Pelosok Pesisir Barat

Puluhan bendera Merah Putih dibawa untuk dibagikan kepada warga.

Diterbitkan 17 Agustus 2026, 00:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Semangat menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tidak hanya terasa di pusat kota. Di pelosok Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, perjuangan mengibarkan Merah Putih juga menjadi cerita tersendiri.

Menjelang peringatan 17 Agustus 2026, sejumlah personel Polsek Ngaras menempuh perjalanan sekitar sembilan jam menuju wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di Kecamatan Bangkunat.

Mereka membawa puluhan bendera Merah Putih untuk dibagikan kepada warga sekaligus menyampaikan pesan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).

Perjalanan dimulai sekitar pukul 08.00 WIB dari Pekon Sumber Rejo. Rombongan kemudian menyeberangi muara menggunakan rakit sebelum melanjutkan perjalanan menuju Pekon Bandar Dalam, Way Tiyas, Siring Gading, hingga Way Haru.

Medan menuju wilayah 3T tersebut tidak mudah. Setelah menyeberangi muara, polisi harus melewati jalan di sisi tebing laut, medan terjal, hingga menyusuri bibir pantai.

Kondisi ombak juga menjadi salah satu kendala. Rombongan bahkan harus menunggu air surut sebelum dapat melanjutkan perjalanan.

Kapolsek Ngaras Iptu Doni Dermawan mengatakan perjalanan tersebut merupakan bagian dari Ekspedisi Merah Putih. Kegiatan itu dilakukan untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air sekaligus mendekatkan polisi dengan masyarakat di wilayah terpencil.

"Medannya cukup berat. Kami harus menyeberangi muara menggunakan rakit dan perjalanan di tepi pantai harus menunggu ombak surut," kata Doni, Minggu (16/8/2026).

 

 

 

Medan Berat Perjalanan

Dalam perjalanan, salah satu sepeda motor yang digunakan rombongan sempat terjebak di pasir saat menyeberangi muara. Meski demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan langkah personel untuk melanjutkan perjalanan.

Setibanya di sejumlah pekon, rasa lelah personel terbayar dengan sambutan hangat masyarakat. Warga menyambut rombongan polisi dengan antusias. Beberapa bahkan mempersilakan personel beristirahat di rumah mereka sambil menikmati kopi dan durian.

Momen tersebut dimanfaatkan polisi untuk berdialog langsung dengan warga. Selain membagikan bendera, mereka mendengarkan berbagai persoalan dan keluhan masyarakat di wilayah 3T.

Salah seorang warga, Niti, mengaku senang dengan kedatangan polisi. Menurutnya, kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk bertemu langsung dengan aparat dan menyampaikan berbagai kesulitan yang mereka hadapi.

"Kami senang polisi datang sampai ke sini. Jarang ada kegiatan seperti ini. Kami bisa bertemu langsung dan menyampaikan apa yang menjadi kesulitan warga," ujar Niti.

Niti juga mengaku bahagia menerima bendera Merah Putih. Bendera tersebut akan dipasang di depan rumahnya untuk menyambut peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

"Rasanya senang sekali dapat bendera. Ini akan kami pasang di depan rumah untuk menyambut 17 Agustus. Merdeka," katanya.

 

Tak Sekedar Pelengkap

Salah satu momen yang paling berkesan terjadi ketika polisi membagikan bendera di Pekon Way Tiyas.

Seorang warga yang tinggal seorang diri menerima bendera Merah Putih dari personel Polsek Ngaras. Namun, warga tersebut sempat bertanya apakah bendera yang diberikan akan diambil kembali.

Doni mengatakan, polisi kemudian memastikan bendera tersebut memang diberikan untuk warga.

"Kami jawab, tidak. Ini untuk nenek," ujar Doni.

Momen tersebut menjadi pengingat bagi personel yang terlibat dalam ekspedisi bahwa semangat kemerdekaan harus dirasakan seluruh masyarakat, termasuk mereka yang tinggal jauh dari pusat perkotaan.

Bagi warga di pelosok, selembar bendera Merah Putih bukan sekadar perlengkapan untuk menyambut 17 Agustus. Bendera tersebut menjadi simbol perhatian dan kebersamaan dalam merayakan kemerdekaan.

Tak Hanya Bagikan Bendera

Ekspedisi Merah Putih tidak hanya diisi dengan pembagian bendera. Personel Polsek Ngaras juga menyampaikan pesan kamtibmas kepada masyarakat.

Warga diingatkan agar tidak melakukan perburuan liar, membuka lahan dengan cara membakar, maupun melakukan pembalakan liar di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) dan hutan lindung.

Imbauan tersebut dinilai penting mengingat musim kemarau masih berlangsung. Pembakaran lahan secara sembarangan berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan.

"Kami tidak hanya ingin membagikan bendera. Kami juga ingin mendengar langsung keluh kesah masyarakat dan mengingatkan bersama-sama agar lingkungan tetap dijaga," kata Doni.

Menurut Doni, sulitnya akses menuju wilayah 3T membuat komunikasi antara aparat kepolisian dan masyarakat perlu terus dijaga.

"Kehadiran polisi di wilayah 3T diharapkan dapat terus dilakukan. Masyarakat di pelosok juga harus merasakan bahwa mereka bagian dari semangat kemerdekaan dan mendapat perhatian," ungkapnya.

Perjalanan yang dimulai sejak pagi tersebut baru berakhir sekitar pukul 17.00 WIB. Selama sekitar sembilan jam, para personel melewati muara, bibir pantai, dan medan terjal, serta harus menunggu ombak surut demi mencapai permukiman warga.

Perjalanan panjang itu menjadi bagian dari cara polisi memastikan semangat kemerdekaan tidak hanya berkibar di pusat kota, tetapi juga sampai ke pelosok Pesisir Barat.